{"version":"https:\/\/jsonfeed.org\/version\/1","user_comment":"This feed allows you to read the posts from this site in any feed reader that supports the JSON Feed format. To add this feed to your reader, copy the following URL -- https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/feed\/json\/ -- and add it your reader.","home_page_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","feed_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/feed\/json\/","title":"sosiopedia.com","description":"Portal pengetahuan untuk psikologi dan sosiologi Indonesia","icon":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/cropped-ICON.png","items":[{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/mengenal-pemikiran-jurgen-hubermas\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/mengenal-pemikiran-jurgen-hubermas\/","title":"Mengenal Pemikiran Jurgen Habermas","content_html":"<p>Ditulis oleh Anis Mirna Defi<\/p>\n<p>Jurgen habermas merupakan tokoh yang sangat terkenal dalam aliran filsafat. Teori kritis yang dihasilkannya memberikan pengaruh yang besar dalam kajian ilmu sosial. Habermas memandang teori kritis sebagai metodologi yang berdiri diantara ketegangan dialektis filsafat dan ilmu. Dengan adanya teori kritis ini, habermas ingin menembus realitas maupun data empiris yang ada, dengan tiga hal yakni pengetahuan, ilmu dan teknologi. Baginya, ketiga hal ini memiliki keterkaitan yang erat. Pengetahuan merupakan aktivitas, proses, kemampuan, serta bentuk kesadaran manusia, sedangkan ilmu sebagai satu pengetahuan yang direfleksikan secara metodis. Jika ilmu dan pengetahuan membeku menjadi suatu delusi atau kesadaran palsu yang merintangi praksis sosial manusia untuk merealisasikan kebaikan, kebenaran, kebahagiaan dan kebebasannya, maka keduanya telah berubah menjadi \u2018ideologis. (Irfaan, 2009).<\/p>\n<p>Terdapat beberapa pemikiran habermas yang berpengaru dalam ilmu sosial yakni sebagai berikut :<\/p>\n<p><strong>1.Teori Kepentingan Kognitif<\/strong><\/p>\n<p>Pada teori ini,Habermas menolak anggapan dasar bahwa ada pengetahuan yang betul-betul bebas dari kepentingan. Secara tidak langsung, setiap pengetahuan pasti ada suatu kepentingan yang menaungi pengetahuan tersebut. Untuk itulah, menurut Habermas, diperlukan suatu \u2018pencerahan\u2019 tentang kepentingan yang mendorong pengetahuan. Itulah yang membongkar selubung ideologis. Namun demikian, Habermas tidak menerima anggapan bahwa pengetahuan mesti melayani kepentingan, dalam hal ini kepentingan kelas-kelas tertentu. Terdapat tiga macam hal yang menjadi pendorong tiga kepentingan dasar manusia;<\/p>\n<ol>\n<li>Pertama, manusia sebagai spesies mempunyai kepentingan teknis untuk mengontrol lingkungan eksternalnya melalui perantaraan kerja, yang mana kepentingan ini timbul di dalam pengetahuan informatif, yang secara metodis disistematisasikan menjadi ilmu-ilmu empiris-analistis.<\/li>\n<li>Kedua, manusia sebagai spesies memiliki kepentingan praktis untuk menjalin pemahaman timbal balik dengan perantaraan bahasa, dan kepentingan ini mewujudkan dirinya di dalam pengetahuan interpretatif yang disistematisasikan secara metodis dalam ilmu-ilmu historishermeneutis.<\/li>\n<li>Ketiga, kepentingan emansipatoris untuk membebaskan diri dari hambatan-hambatan ideologis, melalui perantaraan kekuasaan dan kepentingan. Kepentingan ini mewujudkan dirinya dalam pengetahuan analitis, yang disistematisasikan secara metodis, menjadi ilmu-ilmu sosial yang kritis atau kritik ideologi<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>2. Teori Perbuatan Tutur<\/strong><\/p>\n<p>Teori ini digunakan untuk menganalisis sifat khusus dari praksis komunikatif. Inti pemikirannya bahwa berbahasa atau berbicara harus dimengerti sebagai suatu cara melakukan perbuatan tertentu, yaitu perbuatan tutur. Perbuatan tutur itu terdiri atas dua bagian, yakni bagian proposisional yang menunjuk kepada fakta atau kenyataan tertentu dan bagian performatif, tempat penutur menjelaskan bagaimana kenyataan itu harus dipahami oleh pendengar. Dalam hal penutur menyampaikan sifat komunikatif kepada pendengar, maka harus terkandung klaim kesahihan (validity claim), yang terdiri atas klaim kebenaran (truth), ketepatan normatif (normative rightness), dan keikhlasan (truthfulness). Menurut Habermas, benar adalah ucapan-ucapan yang diterima berdasarkan konsensus di antara semua pihak yang bersangkutan. Konsensus dapat dinilai rasional. Semua peserta diskusi mengemukakan argumentasi relevan yang bertumpu pada argumentasi yang terbaik. Argumentasi terbaik itu akan muncul, jika syarat komunikatif itu juga terpenuhi hingga membuahkan situasi percakapan yang ideal (the ideal speech situation), jika; (1) peserta memiliki peluang yang sama untuk memulai diskusi atau mengemukakan dan mengritik argumentasi peserta lain, (2) tidak ada perbedaan kekuasaan dalam mengajukan argumentasi, dan (3) peserta dengan ikhlas mengungkapkan pemikirannya hingga tidak ada manipulasi. (Irfaan, 2009).<\/p>\n<p><strong>2. Ruang Publik dalam perspektif Hubermas<\/strong><\/p>\n<p>Bagi Habermas, ruang publik senantiasa dipandang dalam perspektif politik. Pada dasarnya, ruang publik memainkan peran yang vital dalam penguatan demokrasi, yakni sebagai ruang yang dihidupi oleh masyarakat sipil dan berfungsi sebagai intermediari antara negara dengan individu privat. Melalui ruang publik, politik yang dijalankan secara formal dikontrol dan diperiksa secara saksama melalui nalar publik. Ruang publik politis selalu mengasumsikan mengenai perbedaan antara ruang publik dengan ruang privat. Ruang publik disini hendaknya tidak dipahami secara utopis sebagai ruang yang kedap dari pengaruh ruang-ruang lain yang ada dalam masyarakat luas, termasuk pengaruh dari negara (Calhoun, 2010). Ruang publik sebaiknya juga tidak dimengerti secara sempit sebagai ruang spasio-fisikal tertentu yang memiliki batas serta wujud yang jelas. Kepublikan direpresentasikan oleh negara yang mengatur masyarakat sedangkan keprivatan direpresentasikan oleh masyarakat sipil yang otonom. Ruang publik borjuis muncul ketika masyarakat sipil (kaum borjuis) mulai melancarkan gugatan terhadap klaim kepublikan negara, yang dirumuskan berupa pertanyaan tentang sudahkah negara melayani kepentingan publik. Ruang publik borjuis dengan demikian merupakan ruang dari orangorang privat yang berkumpul bersama sebagai publik. Negara diajak berdebat tentang isu-isu yang pada dasarnya bersifat privat namun memiliki relevansi publik, seperti isu pertukaran komoditas dan kerja sosial (Habermas, 1989: 27). Di sini, terdapat dinamika unik yang mementahkan pandangan yang mengontraskan secara keras antara yang publik dengan yang privat. Untuk mempertahankan kepentingan mereka, khususnya kepentingan ekonomi, maka kemudian dibentuklah forum-forum publik seperti warung kopi, klub, salon, dan table societies. Pertemuan-pertemuan semacam inilah yang membentuk basis institusional dari ruang publik borjuis. (Prasetyo,2012)<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n","content_text":"Ditulis oleh Anis Mirna Defi\nJurgen habermas merupakan tokoh yang sangat terkenal dalam aliran filsafat. Teori kritis yang dihasilkannya memberikan pengaruh yang besar dalam kajian ilmu sosial. Habermas memandang teori kritis sebagai metodologi yang berdiri diantara ketegangan dialektis filsafat dan ilmu. Dengan adanya teori kritis ini, habermas ingin menembus realitas maupun data empiris yang ada, dengan tiga hal yakni pengetahuan, ilmu dan teknologi. Baginya, ketiga hal ini memiliki keterkaitan yang erat. Pengetahuan merupakan aktivitas, proses, kemampuan, serta bentuk kesadaran manusia, sedangkan ilmu sebagai satu pengetahuan yang direfleksikan secara metodis. Jika ilmu dan pengetahuan membeku menjadi suatu delusi atau kesadaran palsu yang merintangi praksis sosial manusia untuk merealisasikan kebaikan, kebenaran, kebahagiaan dan kebebasannya, maka keduanya telah berubah menjadi \u2018ideologis. (Irfaan, 2009).\nTerdapat beberapa pemikiran habermas yang berpengaru dalam ilmu sosial yakni sebagai berikut :\n1.Teori Kepentingan Kognitif\nPada teori ini,Habermas menolak anggapan dasar bahwa ada pengetahuan yang betul-betul bebas dari kepentingan. Secara tidak langsung, setiap pengetahuan pasti ada suatu kepentingan yang menaungi pengetahuan tersebut. Untuk itulah, menurut Habermas, diperlukan suatu \u2018pencerahan\u2019 tentang kepentingan yang mendorong pengetahuan. Itulah yang membongkar selubung ideologis. Namun demikian, Habermas tidak menerima anggapan bahwa pengetahuan mesti melayani kepentingan, dalam hal ini kepentingan kelas-kelas tertentu. Terdapat tiga macam hal yang menjadi pendorong tiga kepentingan dasar manusia;\n\nPertama, manusia sebagai spesies mempunyai kepentingan teknis untuk mengontrol lingkungan eksternalnya melalui perantaraan kerja, yang mana kepentingan ini timbul di dalam pengetahuan informatif, yang secara metodis disistematisasikan menjadi ilmu-ilmu empiris-analistis.\nKedua, manusia sebagai spesies memiliki kepentingan praktis untuk menjalin pemahaman timbal balik dengan perantaraan bahasa, dan kepentingan ini mewujudkan dirinya di dalam pengetahuan interpretatif yang disistematisasikan secara metodis dalam ilmu-ilmu historishermeneutis.\nKetiga, kepentingan emansipatoris untuk membebaskan diri dari hambatan-hambatan ideologis, melalui perantaraan kekuasaan dan kepentingan. Kepentingan ini mewujudkan dirinya dalam pengetahuan analitis, yang disistematisasikan secara metodis, menjadi ilmu-ilmu sosial yang kritis atau kritik ideologi\n\n2. Teori Perbuatan Tutur\nTeori ini digunakan untuk menganalisis sifat khusus dari praksis komunikatif. Inti pemikirannya bahwa berbahasa atau berbicara harus dimengerti sebagai suatu cara melakukan perbuatan tertentu, yaitu perbuatan tutur. Perbuatan tutur itu terdiri atas dua bagian, yakni bagian proposisional yang menunjuk kepada fakta atau kenyataan tertentu dan bagian performatif, tempat penutur menjelaskan bagaimana kenyataan itu harus dipahami oleh pendengar. Dalam hal penutur menyampaikan sifat komunikatif kepada pendengar, maka harus terkandung klaim kesahihan (validity claim), yang terdiri atas klaim kebenaran (truth), ketepatan normatif (normative rightness), dan keikhlasan (truthfulness). Menurut Habermas, benar adalah ucapan-ucapan yang diterima berdasarkan konsensus di antara semua pihak yang bersangkutan. Konsensus dapat dinilai rasional. Semua peserta diskusi mengemukakan argumentasi relevan yang bertumpu pada argumentasi yang terbaik. Argumentasi terbaik itu akan muncul, jika syarat komunikatif itu juga terpenuhi hingga membuahkan situasi percakapan yang ideal (the ideal speech situation), jika; (1) peserta memiliki peluang yang sama untuk memulai diskusi atau mengemukakan dan mengritik argumentasi peserta lain, (2) tidak ada perbedaan kekuasaan dalam mengajukan argumentasi, dan (3) peserta dengan ikhlas mengungkapkan pemikirannya hingga tidak ada manipulasi. (Irfaan, 2009).\n2. Ruang Publik dalam perspektif Hubermas\nBagi Habermas, ruang publik senantiasa dipandang dalam perspektif politik. Pada dasarnya, ruang publik memainkan peran yang vital dalam penguatan demokrasi, yakni sebagai ruang yang dihidupi oleh masyarakat sipil dan berfungsi sebagai intermediari antara negara dengan individu privat. Melalui ruang publik, politik yang dijalankan secara formal dikontrol dan diperiksa secara saksama melalui nalar publik. Ruang publik politis selalu mengasumsikan mengenai perbedaan antara ruang publik dengan ruang privat. Ruang publik disini hendaknya tidak dipahami secara utopis sebagai ruang yang kedap dari pengaruh ruang-ruang lain yang ada dalam masyarakat luas, termasuk pengaruh dari negara (Calhoun, 2010). Ruang publik sebaiknya juga tidak dimengerti secara sempit sebagai ruang spasio-fisikal tertentu yang memiliki batas serta wujud yang jelas. Kepublikan direpresentasikan oleh negara yang mengatur masyarakat sedangkan keprivatan direpresentasikan oleh masyarakat sipil yang otonom. Ruang publik borjuis muncul ketika masyarakat sipil (kaum borjuis) mulai melancarkan gugatan terhadap klaim kepublikan negara, yang dirumuskan berupa pertanyaan tentang sudahkah negara melayani kepentingan publik. Ruang publik borjuis dengan demikian merupakan ruang dari orangorang privat yang berkumpul bersama sebagai publik. Negara diajak berdebat tentang isu-isu yang pada dasarnya bersifat privat namun memiliki relevansi publik, seperti isu pertukaran komoditas dan kerja sosial (Habermas, 1989: 27). Di sini, terdapat dinamika unik yang mementahkan pandangan yang mengontraskan secara keras antara yang publik dengan yang privat. Untuk mempertahankan kepentingan mereka, khususnya kepentingan ekonomi, maka kemudian dibentuklah forum-forum publik seperti warung kopi, klub, salon, dan table societies. Pertemuan-pertemuan semacam inilah yang membentuk basis institusional dari ruang publik borjuis. (Prasetyo,2012)\n\u00a0\n\u00a0\n\u00a0","date_published":"2021-05-19T15:49:04+07:00","date_modified":"2021-05-19T15:49:04+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/habermas-1.jpg","tags":["Informasi","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/macam-macam-aliran-pendidikan-modern\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/macam-macam-aliran-pendidikan-modern\/","title":"Macam-macam Aliran Pendidikan Modern","content_html":"<p>Oleh Anis Mirna Defi<\/p>\n<p>Dalam dunia pendidikan, tentu membutuhkan acuan untuk pembangunan kualitas pendidikan agar lebih baik. Dalam hal ini terdapat beberapa aliran pendidikan modern yang dikenal dalam dunia pendidikan hingga saat ini, yakni sebagai berikut:<\/p>\n<p><em>a. Progresivisme<\/em><\/p>\n<p>Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).<\/p>\n<p><em>b. Esensialisme<\/em><\/p>\n<p>Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya\/sosial. Menurut esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam nilai budaya\/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.<\/p>\n<p>c. Rekonstruksionalisme<\/p>\n<p>Rekonstruksionalisme memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di masyarakat<\/p>\n<p>d. Perennialisme<\/p>\n<p>Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut perennialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif.<\/p>\n<p>e. Idealisme<\/p>\n<p>Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea.<\/p>\n<p>Beberapa penjelasan tentang aliran pendidikan modern tersebut, dapat terlihat bahwa pandangan ini cenderung memusatkan pada kemandirian siswa. Namun, guru juga tetap memiliki peran dalam pembelajaran di kelas. Di Indonesia pandangan modern ini mengarah pada kurikukulm 2013 dengan adanya slogan \u201cstudent centered\u201d atau pembelajaran terpusat pada siswa. Artinya, setiap pembelajaran yang dilakukan mendorong anak agar mampu secara mandiri menggali informasi sendiri sedangkan guru sebagai fasilitator saja.<\/p>\n","content_text":"Oleh Anis Mirna Defi\nDalam dunia pendidikan, tentu membutuhkan acuan untuk pembangunan kualitas pendidikan agar lebih baik. Dalam hal ini terdapat beberapa aliran pendidikan modern yang dikenal dalam dunia pendidikan hingga saat ini, yakni sebagai berikut:\na. Progresivisme\nProgresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).\nb. Esensialisme\nEsensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya\/sosial. Menurut esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam nilai budaya\/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.\nc. Rekonstruksionalisme\nRekonstruksionalisme memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di masyarakat\nd. Perennialisme\nPerennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut perennialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif.\ne. Idealisme\nAliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea.\nBeberapa penjelasan tentang aliran pendidikan modern tersebut, dapat terlihat bahwa pandangan ini cenderung memusatkan pada kemandirian siswa. Namun, guru juga tetap memiliki peran dalam pembelajaran di kelas. Di Indonesia pandangan modern ini mengarah pada kurikukulm 2013 dengan adanya slogan \u201cstudent centered\u201d atau pembelajaran terpusat pada siswa. Artinya, setiap pembelajaran yang dilakukan mendorong anak agar mampu secara mandiri menggali informasi sendiri sedangkan guru sebagai fasilitator saja.","date_published":"2021-05-19T15:35:46+07:00","date_modified":"2021-05-19T15:37:51+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/58e42069-1fe3-444c-8c86-128892b5d615_169.jpeg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/macam-macam-aliran-pendidikan-klasik\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/macam-macam-aliran-pendidikan-klasik\/","title":"Macam-macam Aliran Pendidikan Klasik","content_html":"<p>Oleh Anis Mirna Defi<\/p>\n<p>Dalam dunia pendidikan terdapat bermacam pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan. Perbedaan pemikiran ini terkategorisasi menjadi beberapa aliran pendidikan. Salah satunya yakni aliran pendidikan klasik.<\/p>\n<p>Aliran pendidikan klasik terbagi menjadi beberapa macam yakni:<\/p>\n<ul>\n<li><em>Aliran Empirisme<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung (Joseph, 2006). Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Aliran Nativisme<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Teori ini merupakan kebalikan dari teori empirisme, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan anak hanya ditentukan oleh pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi baik. Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Aliran Konvergensi<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaiman teori nativisme teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembaeaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Aliran Naturalisme<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Aliran ini mempunyai kesamaan dengan teori nativisme bahkan kadang-kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri baik bakat minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan-pembawaan lainya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan alami, bukan lingkungan yang dibuat-buat. Dengan kata lain jika pendidikan diartikan sebagai usahan sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kearah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadap perkembangan anak.<\/p>\n<p>Pendidikan Indonesia dengan\u00a0 aliran klasik sudah mulai diterapkan dalam pembuatan kurikulum yang pada akhirnya berdampak pada model pembelajaran yang digunakan. Contohnya pada kurikulum KTSP, dan Kurikulum 2013 model pembelajaran yang mengarah pada aliran klasik yakni Problem Based Learning (PBL). Melalui model ini, siswa dapat menganalisis masalah sosial sehari-hari yang selanjutnya akan membentuk pengalaman dan pengetahuan baru bagi siswa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","content_text":"Oleh Anis Mirna Defi\nDalam dunia pendidikan terdapat bermacam pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan. Perbedaan pemikiran ini terkategorisasi menjadi beberapa aliran pendidikan. Salah satunya yakni aliran pendidikan klasik.\nAliran pendidikan klasik terbagi menjadi beberapa macam yakni:\n\nAliran Empirisme\n\nAliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung (Joseph, 2006). Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.\n\nAliran Nativisme\n\nTeori ini merupakan kebalikan dari teori empirisme, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan anak hanya ditentukan oleh pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi baik. Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.\n\nAliran Konvergensi\n\nFaktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaiman teori nativisme teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembaeaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.\n\nAliran Naturalisme\n\nAliran ini mempunyai kesamaan dengan teori nativisme bahkan kadang-kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri baik bakat minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan-pembawaan lainya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan alami, bukan lingkungan yang dibuat-buat. Dengan kata lain jika pendidikan diartikan sebagai usahan sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kearah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadap perkembangan anak.\nPendidikan Indonesia dengan\u00a0 aliran klasik sudah mulai diterapkan dalam pembuatan kurikulum yang pada akhirnya berdampak pada model pembelajaran yang digunakan. Contohnya pada kurikulum KTSP, dan Kurikulum 2013 model pembelajaran yang mengarah pada aliran klasik yakni Problem Based Learning (PBL). Melalui model ini, siswa dapat menganalisis masalah sosial sehari-hari yang selanjutnya akan membentuk pengalaman dan pengetahuan baru bagi siswa.\n&nbsp;","date_published":"2021-05-19T15:26:51+07:00","date_modified":"2021-05-19T15:26:51+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/fi-sistem-pendidikan-terbaik.jpg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/ketidakadilan-sebagai-masalah-sosial\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/ketidakadilan-sebagai-masalah-sosial\/","title":"Ketidakadilan sebagai Masalah Sosial","content_html":"<p>Oleh Anis Mirna Defi<\/p>\n<p>Ketidakadilan merupakan tindakan yang sewenang-wenang. Ketidakadilan pada umumnya menyangkut masalah pembagian sesuatu terhadap hak seseorang atau kelompok yang dilakukan secara tidak proporsional. Jika ketidakadilan tersebut terjadi berlarut-larut dan tidak disikapi dengan baik oleh penyelenggara negara maka hal ini akan menimbulkan berbagai masalah sosial. Meskipun banyak yang tidak setuju dengan ketidakadilan, kita tetap akan menemukan ketidakadilan dalam hidup. Ketidakadilan memiliki lima prinsip, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Elitisme efisien<\/li>\n<li>Pengecualian diperlukan<\/li>\n<li>Prasangka adalah wajar<\/li>\n<li>Keserakahan adalah baik<\/li>\n<li>Putus asa tidak bisa dihindari<\/li>\n<\/ol>\n<p>Ada beberapa bentuk ketidakadilan. Diantaranya adalah streotip, marginalisasi, subordinasi, dan dominasi.<\/p>\n<p><strong>Stereotip<\/strong><\/p>\n<p>Stereotip adalah pemberian sifat tertentu secara subjektif terhadap seseprang berdasarkan kategori kelompoknya. Stereotip merupakan salah satu bentuk prasangka antar ras berdasarkan kategori ras, jenis kelamin, kebangsaan, dan tampilan komunikasi verbal maupun nonverbal. Stereotip menunjukkan perbedaan kategori \u201ckami\u201d dengan \u201cmereka\u201d. Kami selalu dikaitkan dengan superioritas kelompok in group dan mereka sebagai kelompok yang inferior atau kelompok outgroup. Anggota in group biasanya cenderung menyenangkan kelompok sendiri, dan sebaliknya cenderung mengevaluasi orang lain berdasarkan cara pandang kelompok \u201ckami\u201d. Menurut WG. Summer istilah in group mengacu pada kelompok-kelompok sosial yang dengannya individu mengidentifikasi dirinya, sedangkan out group diartikan oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan in group. Sikap-sikap in group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok. Peningkatan harga diri dinikmati oleh anggota in group bisa datang dengan mengorbankan orang luar. Sementara itu sikap-sikap terhadap out group terkadang ditandai dengan antagonisme atau antipati. Stereotip dapat bersifat positif dan dapat bersifat negatif.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Marginalisasi<\/strong><\/p>\n<p>Marginalisasi adalah proses pemutusan hubungan kelompok-kelompok tertentu dengan lembaga sosial utama, seperti struktur ekonomi, pendidikan, dan lembaga sosial ekonomi lainnya. perbedaan antara populasi dan kelompok, seperti etnis, ras, agama, budaya, bahasa, adat istiadat, penampilan, dan afiliasi, memungkinkan populasi dominan untuk meminggirkan kelompok yang lemah. Bisanya semakin besar perbedaan antara kelompok-kelompok itu, semakin mudah bagi penduduk yang dominan untuk meminggirkan kelompok yang lemah. Marginalisasi orang selalu melinatkan kemampuan penduduk yang dominan untuk melaksanakan beberapa tingkat kontrol dan kekuasaan atas kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Kelompok atau individu yang marginal sering dikecualikan dari layanan, program, dan kebijakan.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Subordinasi<\/strong><\/p>\n<p>Subordinasi atau penomorduaan adalah pembedaan perlakukan terhadap identitas sosial tertentu. Umumnya yang menjadi kelompok subordinasi adalah kelompok minoritas. Menurut Louis Wirth, kelompok minoritas secara eksplisit dibedakan dengan kelompok mayoritas. Anggota kelompok mayoritas dan anggota kelompok minoritas diperlakukan secara tidak seimbang. Kelompok mayoritas sangat dominan. Mereka menguasai sumber daya sehingga selalu merasa dapat bertindak secara tidak adil, menguasai, dan mempunyai martabat lebih tinggi daripada yang lain. Sementara itu, kelompok minoritas adalah kelompok yang kurang beruntung karena mereka secara fisik maupun kultural merupakan subjek yang diperlakukan tidak seimbang. Perlakuan diskriminasi sering diberikan kepada mereka.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Dominasi<\/strong><\/p>\n<p>Dominasi harus dipahami sebagai suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang atau kelompok untuk sejauh bahwa mereka bergantung pada hubungan sosial di mana beberapa orang atau kelompok lain memegang kekuasaan sewenang-wenang atas mereka. Ada berbagai bentuk dominasi. Di antaranya adalah perbudakan, rezim diskriminasi sistematis terhadap kelompok minoritas, rezim politik kolonial, despotisme, totalitarianisme, kapitalisme, dan feodalisme. Semuanya ini sangat potensial merugikan segmen yang tidak memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Hal ini terlibat dari berlangsungnya eksploitasi, kekerasan, dan diskriminasi terhadap kelompok yang tidak mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif secara struktural dan sistemik dalam berbagai bidang.<\/p>\n","content_text":"Oleh Anis Mirna Defi\nKetidakadilan merupakan tindakan yang sewenang-wenang. Ketidakadilan pada umumnya menyangkut masalah pembagian sesuatu terhadap hak seseorang atau kelompok yang dilakukan secara tidak proporsional. Jika ketidakadilan tersebut terjadi berlarut-larut dan tidak disikapi dengan baik oleh penyelenggara negara maka hal ini akan menimbulkan berbagai masalah sosial. Meskipun banyak yang tidak setuju dengan ketidakadilan, kita tetap akan menemukan ketidakadilan dalam hidup. Ketidakadilan memiliki lima prinsip, yaitu:\n\nElitisme efisien\nPengecualian diperlukan\nPrasangka adalah wajar\nKeserakahan adalah baik\nPutus asa tidak bisa dihindari\n\nAda beberapa bentuk ketidakadilan. Diantaranya adalah streotip, marginalisasi, subordinasi, dan dominasi.\nStereotip\nStereotip adalah pemberian sifat tertentu secara subjektif terhadap seseprang berdasarkan kategori kelompoknya. Stereotip merupakan salah satu bentuk prasangka antar ras berdasarkan kategori ras, jenis kelamin, kebangsaan, dan tampilan komunikasi verbal maupun nonverbal. Stereotip menunjukkan perbedaan kategori \u201ckami\u201d dengan \u201cmereka\u201d. Kami selalu dikaitkan dengan superioritas kelompok in group dan mereka sebagai kelompok yang inferior atau kelompok outgroup. Anggota in group biasanya cenderung menyenangkan kelompok sendiri, dan sebaliknya cenderung mengevaluasi orang lain berdasarkan cara pandang kelompok \u201ckami\u201d. Menurut WG. Summer istilah in group mengacu pada kelompok-kelompok sosial yang dengannya individu mengidentifikasi dirinya, sedangkan out group diartikan oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan in group. Sikap-sikap in group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompok. Peningkatan harga diri dinikmati oleh anggota in group bisa datang dengan mengorbankan orang luar. Sementara itu sikap-sikap terhadap out group terkadang ditandai dengan antagonisme atau antipati. Stereotip dapat bersifat positif dan dapat bersifat negatif.\n\u00a0\nMarginalisasi\nMarginalisasi adalah proses pemutusan hubungan kelompok-kelompok tertentu dengan lembaga sosial utama, seperti struktur ekonomi, pendidikan, dan lembaga sosial ekonomi lainnya. perbedaan antara populasi dan kelompok, seperti etnis, ras, agama, budaya, bahasa, adat istiadat, penampilan, dan afiliasi, memungkinkan populasi dominan untuk meminggirkan kelompok yang lemah. Bisanya semakin besar perbedaan antara kelompok-kelompok itu, semakin mudah bagi penduduk yang dominan untuk meminggirkan kelompok yang lemah. Marginalisasi orang selalu melinatkan kemampuan penduduk yang dominan untuk melaksanakan beberapa tingkat kontrol dan kekuasaan atas kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Kelompok atau individu yang marginal sering dikecualikan dari layanan, program, dan kebijakan.\n\u00a0\nSubordinasi\nSubordinasi atau penomorduaan adalah pembedaan perlakukan terhadap identitas sosial tertentu. Umumnya yang menjadi kelompok subordinasi adalah kelompok minoritas. Menurut Louis Wirth, kelompok minoritas secara eksplisit dibedakan dengan kelompok mayoritas. Anggota kelompok mayoritas dan anggota kelompok minoritas diperlakukan secara tidak seimbang. Kelompok mayoritas sangat dominan. Mereka menguasai sumber daya sehingga selalu merasa dapat bertindak secara tidak adil, menguasai, dan mempunyai martabat lebih tinggi daripada yang lain. Sementara itu, kelompok minoritas adalah kelompok yang kurang beruntung karena mereka secara fisik maupun kultural merupakan subjek yang diperlakukan tidak seimbang. Perlakuan diskriminasi sering diberikan kepada mereka.\n&nbsp;\nDominasi\nDominasi harus dipahami sebagai suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang atau kelompok untuk sejauh bahwa mereka bergantung pada hubungan sosial di mana beberapa orang atau kelompok lain memegang kekuasaan sewenang-wenang atas mereka. Ada berbagai bentuk dominasi. Di antaranya adalah perbudakan, rezim diskriminasi sistematis terhadap kelompok minoritas, rezim politik kolonial, despotisme, totalitarianisme, kapitalisme, dan feodalisme. Semuanya ini sangat potensial merugikan segmen yang tidak memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Hal ini terlibat dari berlangsungnya eksploitasi, kekerasan, dan diskriminasi terhadap kelompok yang tidak mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif secara struktural dan sistemik dalam berbagai bidang.","date_published":"2021-05-19T15:16:00+07:00","date_modified":"2021-05-19T15:16:00+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/gender2-591d1adb179373210dd59ef7.jpg","tags":["Buku","Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/bentuk-aliran-pendidikan-klasik\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/bentuk-aliran-pendidikan-klasik\/","title":"Bentuk-bentuk Aliran Pendidikan Klasik","content_html":"<p>Oleh: Anis Mirna Defi<\/p>\n<p>Dalam dunia pendidikan terdapat bermacam pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan. Perbedaan pemikiran ini terkategorisasi menjadi beberapaa aliran pendidikan. Salah satunya yakni aliran pendidikan klasik. Pada aliran ini terbagi menjadi beberapa macam yakni:<\/p>\n<ul>\n<li><em>Aliran Empirisme<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung. Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Aliran Nativisme<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Teori ini merupakan kebalikan dari teori empirisme, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan anak hanya ditentukan oleh pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi baik. Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.<\/p>\n<ul>\n<li><em>Aliran Konvergensi<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaiman teori nativisme teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembaeaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","content_text":"Oleh: Anis Mirna Defi\nDalam dunia pendidikan terdapat bermacam pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan. Perbedaan pemikiran ini terkategorisasi menjadi beberapaa aliran pendidikan. Salah satunya yakni aliran pendidikan klasik. Pada aliran ini terbagi menjadi beberapa macam yakni:\n\nAliran Empirisme\n\nAliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung. Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.\n\nAliran Nativisme\n\nTeori ini merupakan kebalikan dari teori empirisme, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan anak hanya ditentukan oleh pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama sekali tidak mempengaruhi apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi baik. Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.\n\nAliran Konvergensi\n\nFaktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaiman teori nativisme teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembaeaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.\n&nbsp;","date_published":"2021-03-30T02:21:25+07:00","date_modified":"2021-04-12T09:07:50+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/Visual_Education_for_Democracy_in_the_Republic_of_Moldova.jpg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/mungkinkah-akan-ditemukan-teori-sosiologi-baru-setelah-post-modernisme\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/mungkinkah-akan-ditemukan-teori-sosiologi-baru-setelah-post-modernisme\/","title":"Mungkinkah akan ditemukan Teori Sosiologi Baru Setelah Post Modernisme ?","content_html":"<p>Oleh Anis Mirna Defi<\/p>\n<p>Perkembangan teori-teori sosiologi berawal dari teori sosiologi klasik, modern, hingga post modern. Sebelumnya\u00a0 kita bisa mengetahui terdapat beberapa preposisi yang menjadi dasar dari perkembangan teori sosiologi klasik yakni sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar sekumpulan individu. Masyarakat dianggap mempunyai kehidupannya sendiri dengan hukum perkembangannya sendiri dan berakar dari masa lalu<\/li>\n<li>Masyarakat adalah unit analisis terpenting terutama dipandang melalui proses sosialisasi<\/li>\n<li>Perubahan dipandang bukan hanya sebagai ancaman terhadap masyarakat dan terhadap komponennya, tetapi juga terhadap individu dan masyarakat.<\/li>\n<li>Bagian-bagian masyarakat dianggap saling berhubungan dan saling tergantung<\/li>\n<li>Ada kecenderungan memandang bahwa berbagai perubahan sosial modern seperti industrialisasi, urbanisasi, dan birokratisasi dapat menimbulkan kekacauan tatanan<\/li>\n<\/ol>\n<p>Beberapa preposisi ini tidak hanya berhenti disini. Memasuki abad ke-21 para teoretisi sosial semakin sibuk dengan persoalan apakah masyarakat, dan juga teori-teori telah mengalami perubahan dramatis atau tidak. Di satu sisi ada sekelompok teoritisi (misalnya, Jurgen Habermas dan Anthony Giddens) yang yakin bahwa kita masih akan terus hidup dalam masyarakat bertipe modern dan karena itu kita dapat menata teori menurut cara yang ditempuh para pemikir sosial yang telah lama meneliti masyarakat. Di sisi lain, ada sekelompok pemikir (misalnya, Jean Baudrillard, Jean-Francois Lyotard, dan Frederic Jameson) yang berpendapat bahwa masyarakat telah berubah secara dramatis dan kini kita hidup dalam masyarakat yang kualitasnya sangat berbeda, yakni masyarakat post-modern. Lebih lanjut mereka menyatakan bahwa masyarakat baru ini harus dipikirkan menurut cara baru dan berbeda. (Ritzer,2014). Selanjutnya, terdapat beberapa hal yang mendorong munculnya post modernitas yakni<\/p>\n<ul>\n<li>Post-modernitas adalah sebuah dunai yang dangkal, dunia superfisial<\/li>\n<li>Post modernitas adalah dunia yang kekurangan hubungan kasih saying<\/li>\n<li>Lenyapnya makna tempat seseorang dalam sejarah, sukar membedakan antara masa lalu, masa kini dan masa mendatang<\/li>\n<li>Modernitas ditandai oleh teknologi produktif, eksplosif dan meluas, sedamgkan post-modernitas didominasis oleh teknologi yang impulsive, mendatar dan reproduktif. Dalam hal ini, masyarakat post-modern sangat berbeda dari masyarakat modern.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Nah, perbedaan dunia seperti itulah sehingga memerlukan cara berpikir yang berbeda pula. Sehingga dengan demikian, teori after post modernism kemungkinan besar juga akan muncul jika perubahan dunia semakin besar. Hingga saat ini saja, sudah mulai bergesernya Revolusi Industri 4.0 menuju Revolusi 5.0. Munculnya percepatan perubahan terutama dibidang teknologi tentu berpengaruh besar pada tatanan kehidupan manusia. Sehingga berpengaruh besar pada berbagai macam bidang kehidupan masyarakat.\u00a0 Lalu untuk menanggapi percepatan perubahan inilah dibutuhkan cara berpikir yang lebih kompleks, tentunya melebihi post-modernisme. Kemungkinan besar juga akan memunculkan neo-postmodern.<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>Ritzer. 2014. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:Kencana Prenadamedia Group<\/p>\n","content_text":"Oleh Anis Mirna Defi\nPerkembangan teori-teori sosiologi berawal dari teori sosiologi klasik, modern, hingga post modern. Sebelumnya\u00a0 kita bisa mengetahui terdapat beberapa preposisi yang menjadi dasar dari perkembangan teori sosiologi klasik yakni sebagai berikut:\n\nMasyarakat dianggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar sekumpulan individu. Masyarakat dianggap mempunyai kehidupannya sendiri dengan hukum perkembangannya sendiri dan berakar dari masa lalu\nMasyarakat adalah unit analisis terpenting terutama dipandang melalui proses sosialisasi\nPerubahan dipandang bukan hanya sebagai ancaman terhadap masyarakat dan terhadap komponennya, tetapi juga terhadap individu dan masyarakat.\nBagian-bagian masyarakat dianggap saling berhubungan dan saling tergantung\nAda kecenderungan memandang bahwa berbagai perubahan sosial modern seperti industrialisasi, urbanisasi, dan birokratisasi dapat menimbulkan kekacauan tatanan\n\nBeberapa preposisi ini tidak hanya berhenti disini. Memasuki abad ke-21 para teoretisi sosial semakin sibuk dengan persoalan apakah masyarakat, dan juga teori-teori telah mengalami perubahan dramatis atau tidak. Di satu sisi ada sekelompok teoritisi (misalnya, Jurgen Habermas dan Anthony Giddens) yang yakin bahwa kita masih akan terus hidup dalam masyarakat bertipe modern dan karena itu kita dapat menata teori menurut cara yang ditempuh para pemikir sosial yang telah lama meneliti masyarakat. Di sisi lain, ada sekelompok pemikir (misalnya, Jean Baudrillard, Jean-Francois Lyotard, dan Frederic Jameson) yang berpendapat bahwa masyarakat telah berubah secara dramatis dan kini kita hidup dalam masyarakat yang kualitasnya sangat berbeda, yakni masyarakat post-modern. Lebih lanjut mereka menyatakan bahwa masyarakat baru ini harus dipikirkan menurut cara baru dan berbeda. (Ritzer,2014). Selanjutnya, terdapat beberapa hal yang mendorong munculnya post modernitas yakni\n\nPost-modernitas adalah sebuah dunai yang dangkal, dunia superfisial\nPost modernitas adalah dunia yang kekurangan hubungan kasih saying\nLenyapnya makna tempat seseorang dalam sejarah, sukar membedakan antara masa lalu, masa kini dan masa mendatang\nModernitas ditandai oleh teknologi produktif, eksplosif dan meluas, sedamgkan post-modernitas didominasis oleh teknologi yang impulsive, mendatar dan reproduktif. Dalam hal ini, masyarakat post-modern sangat berbeda dari masyarakat modern.\n\nNah, perbedaan dunia seperti itulah sehingga memerlukan cara berpikir yang berbeda pula. Sehingga dengan demikian, teori after post modernism kemungkinan besar juga akan muncul jika perubahan dunia semakin besar. Hingga saat ini saja, sudah mulai bergesernya Revolusi Industri 4.0 menuju Revolusi 5.0. Munculnya percepatan perubahan terutama dibidang teknologi tentu berpengaruh besar pada tatanan kehidupan manusia. Sehingga berpengaruh besar pada berbagai macam bidang kehidupan masyarakat.\u00a0 Lalu untuk menanggapi percepatan perubahan inilah dibutuhkan cara berpikir yang lebih kompleks, tentunya melebihi post-modernisme. Kemungkinan besar juga akan memunculkan neo-postmodern.\nSumber:\nRitzer. 2014. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:Kencana Prenadamedia Group","date_published":"2021-03-01T05:19:02+07:00","date_modified":"2021-03-01T05:20:13+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/frontiers-in-sociology-specialty-grand-challenge.jpg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/pengaruh-teori-terhadap-keajegan-disiplin-ilmu\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/pengaruh-teori-terhadap-keajegan-disiplin-ilmu\/","title":"Pengaruh Teori Terhadap Keajegan Disiplin Ilmu","content_html":"<p>Oleh Anis Mirna Defi<\/p>\n<p>Teori memberikan pengaruh besar terhadap keajegan sebuah disiplin ilmu. Teori berperan penting untuk mengorganisasikan pengalaman dan fakta yang ada dalam masyarakat. Di dalam teori inilah terdapat preposisi yang berperan penting dalam mengikhtiarkan secara informal sehingga penafsiran, penilaian, dan pernyataan dapat terlaksana dengan mudah (Wahyono,2005). Karena teori bersifat ilmiah, bukan berarti teori selalu tetap dan stagnan. Seiring dengan perkembangan dan perubahan realitas yang ada, maka kemungkinan besar teori juga mengalami penyesuaian jika ditemukan data-data baru yang mengubah simpulan dan kerampatan. Melaui bermacam proses baik membuat hipotesis baru, pengujian dan pembuktian secara empiris, teori akan menghasilkan keshahihan yang tinggi untuk selanjutnya dapat mendorong terlaksananya sebuah penelitian. Hal ini tentunya, teori akan memberikan sebuah arah dalam proses penelitian.Sehingga karena penyesuaian inilah, teori dapat membentuk keajegan sebuah disiplin ilmu. Hasil penelitian ini juga selanjutnya akan memperkaya pengetahuan baru dalam sebuah keilmuan. Karena dasarnya setiap ilmu selalu mengalami perkembangan. Revolusi keilmuan ini terjadi jika paradigma memberikan kesempatan adanya penyimpangan (anomalies) dan anomali-anomali tersebut tidak bisa diatasi oleh paradigma yang ada. Jika hal itu terjadi, entah secara teratur atau secara insidental, ataukah anomali-anomali itu terjadi pada saat-saat yang kritis saja yang kemudian tumbuh menjadi konsep dan metode yang baru, maka akan memungkinkan terjadinya revolusi keilmuan. Dengan demikian, revolusi keilmuan haruslah dipandang sebagai terbentuknya ilmu pengetahuan yang lebih maju, suatu pergantian dari satu paradigma (lama) ke paradigma (baru) lainnya (Winarno,2013).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>Wahyono.2005. Makna dan Fungsi Teori Dalam Proses Berfikir Ilmiah dan Dalam Proses Penelitian Bahasa. Universitas Tidar Magelang. Vol23. No 1. Hal 203-211<\/p>\n<p>Winarno.2013. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Filsafat, Teori dan Metodologi. Volume 17, Nomor 1, Januari 2013<\/p>\n","content_text":"Oleh Anis Mirna Defi\nTeori memberikan pengaruh besar terhadap keajegan sebuah disiplin ilmu. Teori berperan penting untuk mengorganisasikan pengalaman dan fakta yang ada dalam masyarakat. Di dalam teori inilah terdapat preposisi yang berperan penting dalam mengikhtiarkan secara informal sehingga penafsiran, penilaian, dan pernyataan dapat terlaksana dengan mudah (Wahyono,2005). Karena teori bersifat ilmiah, bukan berarti teori selalu tetap dan stagnan. Seiring dengan perkembangan dan perubahan realitas yang ada, maka kemungkinan besar teori juga mengalami penyesuaian jika ditemukan data-data baru yang mengubah simpulan dan kerampatan. Melaui bermacam proses baik membuat hipotesis baru, pengujian dan pembuktian secara empiris, teori akan menghasilkan keshahihan yang tinggi untuk selanjutnya dapat mendorong terlaksananya sebuah penelitian. Hal ini tentunya, teori akan memberikan sebuah arah dalam proses penelitian.Sehingga karena penyesuaian inilah, teori dapat membentuk keajegan sebuah disiplin ilmu. Hasil penelitian ini juga selanjutnya akan memperkaya pengetahuan baru dalam sebuah keilmuan. Karena dasarnya setiap ilmu selalu mengalami perkembangan. Revolusi keilmuan ini terjadi jika paradigma memberikan kesempatan adanya penyimpangan (anomalies) dan anomali-anomali tersebut tidak bisa diatasi oleh paradigma yang ada. Jika hal itu terjadi, entah secara teratur atau secara insidental, ataukah anomali-anomali itu terjadi pada saat-saat yang kritis saja yang kemudian tumbuh menjadi konsep dan metode yang baru, maka akan memungkinkan terjadinya revolusi keilmuan. Dengan demikian, revolusi keilmuan haruslah dipandang sebagai terbentuknya ilmu pengetahuan yang lebih maju, suatu pergantian dari satu paradigma (lama) ke paradigma (baru) lainnya (Winarno,2013).\n&nbsp;\nSumber:\nWahyono.2005. Makna dan Fungsi Teori Dalam Proses Berfikir Ilmiah dan Dalam Proses Penelitian Bahasa. Universitas Tidar Magelang. Vol23. No 1. Hal 203-211\nWinarno.2013. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Filsafat, Teori dan Metodologi. Volume 17, Nomor 1, Januari 2013","date_published":"2021-01-18T11:39:56+07:00","date_modified":"2021-01-18T11:39:56+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/teori.jpg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/kedudukan-ilmu-pengetahuan-dalam-paradigma-positivisme\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/kedudukan-ilmu-pengetahuan-dalam-paradigma-positivisme\/","title":"Kedudukan Ilmu Pengetahuan dalam Paradigma Positivisme","content_html":"<p>Oleh Anis Mirna Defi<\/p>\n<p>Positivisme merupakan aliran filsafat yang menyatakan empirisme sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar. Aliran ini menolak keberadaan nilai kognitif dari pemahaman filosofis maupun metafisik. Dalam arti lain, positivisme dikatakan sebagai aliran\u00a0 yang berpendirian bahwa filsafat hendaknya berlandaskan pada peristiwa nyata yang dialami manusia. Positivisme berasal dari kata \u201cpositif\u201d. Kata positif di sini sama artinya dengan faktual, yaitu apapun yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut pandangan positivisme, pengetahuan tidak diperbolehkan melebihi fakta-fakta yang terjadi. Walaupun pandangan ini banyak mendapatkan kritik, pembahasan tentang positivisme masih sering dibicarakan di kalangan para ilmuwan.<\/p>\n<p>Berbicara tentang positivisme, Giddens menjelaskan bahwa pengalaman empiris menjadi dasar pokok pengetahuan manusia. Objek yang diamati ataupun diobesrvasi harus berkaitan dengan hal nyata dari pengetahuan manusia. Sehingga prinsip fundamental dari positivisme adalah pengalaman terhadap fakta dan verifikasi langsung. Selain itu pengetahuan empirik; berdasarkan data; yang aktual atau benar-benar terjadi; objek penelitian dalam bentuk fisik juga menjadi prinsip yang diutamakan. Selain itu, Comte juga telah mengklasifikasikan ilmu-ilmu yang ada.Menurutnya, semua ilmu pengetahuan memusatkan diri pada kenyataan faktual, dan karena kenyataan faktual itu berbeda-beda, maka harus ada perbedaan sudut pandang dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, terjadi pengkhususan dalam ilmu pengetahuan. Untuk menetapkan ilmu-ilmu khusus, Comte berusaha menemukan ilmu-ilmu yang bersifat fundamental, artinya dari ilmu-ilmu itu diturunkan ilmu-ilmu lain yang bersifat terapan. Dalam adikaryanya itu, Comte menyebutkan enam ilmu fundamental, yakni: matematika, astronomi, fisika, kimia, fisiologi biologi, dan fisika sosial (sosiologi). Keenam ilmu dasar itu diurutkan sedemikian rupa sehingga mulai dari yang paling abstrak ke yang paling konkret, yang lebih kemudian tergantung pada yang terdahulu<\/p>\n<p>Dengan demikian, Positivisme memandang ilmu pengetahuan harus berdasarkan nalar (reason) dan pengamatan (observation). Nalar dan pengamatan pada positivisme berperan sangat penting ketika hendak mengkaji suatu fenomena. Asumsi ini sekaligus menggambarkan tentang positivisme yang selalu menjunjung tinggi fakta-fakta yang bersifat empiris. Hal ini kemudian berdampak pada gejala-gejala yang sifatnya tidak empiris (ghaib) cenderung diabaikan oleh positivisme. Alasannya adalah fenomena yang bersifat ghoib seringkali sulit dinalar dan dilakukan pengamatan.<\/p>\n","content_text":"Oleh Anis Mirna Defi\nPositivisme merupakan aliran filsafat yang menyatakan empirisme sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar. Aliran ini menolak keberadaan nilai kognitif dari pemahaman filosofis maupun metafisik. Dalam arti lain, positivisme dikatakan sebagai aliran\u00a0 yang berpendirian bahwa filsafat hendaknya berlandaskan pada peristiwa nyata yang dialami manusia. Positivisme berasal dari kata \u201cpositif\u201d. Kata positif di sini sama artinya dengan faktual, yaitu apapun yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut pandangan positivisme, pengetahuan tidak diperbolehkan melebihi fakta-fakta yang terjadi. Walaupun pandangan ini banyak mendapatkan kritik, pembahasan tentang positivisme masih sering dibicarakan di kalangan para ilmuwan.\nBerbicara tentang positivisme, Giddens menjelaskan bahwa pengalaman empiris menjadi dasar pokok pengetahuan manusia. Objek yang diamati ataupun diobesrvasi harus berkaitan dengan hal nyata dari pengetahuan manusia. Sehingga prinsip fundamental dari positivisme adalah pengalaman terhadap fakta dan verifikasi langsung. Selain itu pengetahuan empirik; berdasarkan data; yang aktual atau benar-benar terjadi; objek penelitian dalam bentuk fisik juga menjadi prinsip yang diutamakan. Selain itu, Comte juga telah mengklasifikasikan ilmu-ilmu yang ada.Menurutnya, semua ilmu pengetahuan memusatkan diri pada kenyataan faktual, dan karena kenyataan faktual itu berbeda-beda, maka harus ada perbedaan sudut pandang dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, terjadi pengkhususan dalam ilmu pengetahuan. Untuk menetapkan ilmu-ilmu khusus, Comte berusaha menemukan ilmu-ilmu yang bersifat fundamental, artinya dari ilmu-ilmu itu diturunkan ilmu-ilmu lain yang bersifat terapan. Dalam adikaryanya itu, Comte menyebutkan enam ilmu fundamental, yakni: matematika, astronomi, fisika, kimia, fisiologi biologi, dan fisika sosial (sosiologi). Keenam ilmu dasar itu diurutkan sedemikian rupa sehingga mulai dari yang paling abstrak ke yang paling konkret, yang lebih kemudian tergantung pada yang terdahulu\nDengan demikian, Positivisme memandang ilmu pengetahuan harus berdasarkan nalar (reason) dan pengamatan (observation). Nalar dan pengamatan pada positivisme berperan sangat penting ketika hendak mengkaji suatu fenomena. Asumsi ini sekaligus menggambarkan tentang positivisme yang selalu menjunjung tinggi fakta-fakta yang bersifat empiris. Hal ini kemudian berdampak pada gejala-gejala yang sifatnya tidak empiris (ghaib) cenderung diabaikan oleh positivisme. Alasannya adalah fenomena yang bersifat ghoib seringkali sulit dinalar dan dilakukan pengamatan.","date_published":"2021-01-05T15:48:42+07:00","date_modified":"2021-01-18T11:41:02+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/5afb5e65c10acc164e30d143140eef3e.jpg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/proses-asosiatif-dalam-hubungan-sosial\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/proses-asosiatif-dalam-hubungan-sosial\/","title":"PROSES ASOSIATIF DALAM HUBUNGAN SOSIAL","content_html":"<p>Proses Asosiatif merupakan proses sosial yang mengarah pada <strong>penyatuan<\/strong>. Proses sosial ini didasarkan pada hubungan sosial yang <strong>bersifat positif. <\/strong>Hasil dari proses asosiatif biasanya akan menghasilkan solidaritas antarindividu\/kelompok. Adapun bentuk-bentuk proses asosiatif yakni sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Kerja Sama<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam kehidupan masyarakat manusia selalu melakukan kerjasama sebagai upaya pemenuhan kebutuhan. Beberapa bentuk kerja sama yakni sebagai berikut.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Tawar-menawar <em>(Bargaining):<\/em><\/strong> perjanjian tentang tukar menukar barang dan jasa antara dua orang atau lebih.<\/li>\n<li><strong>Kooptasi <em>(Cooptation):<\/em><\/strong> kerja sama yang dilakukan dengan jalan menyepakati pimpinan yang akan ditunjuk untuk mengendalikan jalannya organisasi\/kelompok<\/li>\n<li><strong>Koalisi (Coalition):<\/strong> kerja sama dua organisasi politik atau lebih untuk mencapai tujuan yang sama<\/li>\n<li><strong>Patungan (Joint venture):<\/strong> kerja sama antar perusahaan untuk meraih keuntungan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Akomodasi<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Akomodasi merupakan cara yang dilakukan untuk menyelesaikan pertentangan atau konflik antar masyarakat. Berikut ini bentuk-bentuk akomodasi (cara menyelesaikan konflik):<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Koersi (Coercion):<\/strong> Penyelesaian konflik dengan cara paksaan secara fisik maupun psikologis<\/li>\n<li><strong>Kompromi ( Compromise): <\/strong>Pihak yang berkonflik saling mengurangi tuntutan untuk menyelesaikan konflik<\/li>\n<li><strong>Arbitrase (Arbitration): <\/strong>Penyelesaian konflik dengan memilih pihak ketiga yang memiliki kedudukan lebih tinggi untuk mengambil keputusan.<\/li>\n<li><strong>Mediasi (Mediation): <\/strong>Berbeda dengan arbitrasi, Mediasi yakni penyelesaian konflik dengan memilih pihak ketiga yang bersifat netral dan tidak berwenang dalam pengambilan keputusan.<\/li>\n<li><strong>Konsiliasi (Conciliation): <\/strong>Penyelesaian konflik dengan mempertemukan kedua pihak yang berkonflik untuk mendiskusikan permasalahannya.<\/li>\n<li><strong>Toleransi (Toleration): <\/strong>Pihak yang berkonflik saling memahami dan menghargai satu sama lain<\/li>\n<li><strong>Stalemate : <\/strong>Pihak yang berkonflik memiliki kekuatan yang seimbang sehingga pertikaian berhenti dengan sendirinya. Contohnya antara Amerika dan Uni Soviet<\/li>\n<li><strong>Ajudikasi (Adjudication): <\/strong>Penyelesaikan konflik melalui pengadilan<\/li>\n<li><strong>Gencatan Senjata : <\/strong>Penghentian konflik bersenjata secara sementara untuk menghentikan tindakan agresif yang dilakukan<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Akulturasi <\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Akulturasi merupakan Percampuran dua budaya tanpa meninggalkan budaya yang sudah ada. Untuk memudahkan maka dianalogikan dengan rumus A+B= AB<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong>Asimilasi<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Asimilasi merupakan Percampuran dua budaya yang menghasilkan budaya baru dengan rumus A+B= C<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li><strong>Amalgamasi<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Amalgamasi merupakan proses perkawinan campuran antar dua budaya yang berbeda<\/p>\n","content_text":"Proses Asosiatif merupakan proses sosial yang mengarah pada penyatuan. Proses sosial ini didasarkan pada hubungan sosial yang bersifat positif. Hasil dari proses asosiatif biasanya akan menghasilkan solidaritas antarindividu\/kelompok. Adapun bentuk-bentuk proses asosiatif yakni sebagai berikut:\n\nKerja Sama\n\nDalam kehidupan masyarakat manusia selalu melakukan kerjasama sebagai upaya pemenuhan kebutuhan. Beberapa bentuk kerja sama yakni sebagai berikut.\n\nTawar-menawar (Bargaining): perjanjian tentang tukar menukar barang dan jasa antara dua orang atau lebih.\nKooptasi (Cooptation): kerja sama yang dilakukan dengan jalan menyepakati pimpinan yang akan ditunjuk untuk mengendalikan jalannya organisasi\/kelompok\nKoalisi (Coalition): kerja sama dua organisasi politik atau lebih untuk mencapai tujuan yang sama\nPatungan (Joint venture): kerja sama antar perusahaan untuk meraih keuntungan.\n\n&nbsp;\n\nAkomodasi\n\nAkomodasi merupakan cara yang dilakukan untuk menyelesaikan pertentangan atau konflik antar masyarakat. Berikut ini bentuk-bentuk akomodasi (cara menyelesaikan konflik):\n\nKoersi (Coercion): Penyelesaian konflik dengan cara paksaan secara fisik maupun psikologis\nKompromi ( Compromise): Pihak yang berkonflik saling mengurangi tuntutan untuk menyelesaikan konflik\nArbitrase (Arbitration): Penyelesaian konflik dengan memilih pihak ketiga yang memiliki kedudukan lebih tinggi untuk mengambil keputusan.\nMediasi (Mediation): Berbeda dengan arbitrasi, Mediasi yakni penyelesaian konflik dengan memilih pihak ketiga yang bersifat netral dan tidak berwenang dalam pengambilan keputusan.\nKonsiliasi (Conciliation): Penyelesaian konflik dengan mempertemukan kedua pihak yang berkonflik untuk mendiskusikan permasalahannya.\nToleransi (Toleration): Pihak yang berkonflik saling memahami dan menghargai satu sama lain\nStalemate : Pihak yang berkonflik memiliki kekuatan yang seimbang sehingga pertikaian berhenti dengan sendirinya. Contohnya antara Amerika dan Uni Soviet\nAjudikasi (Adjudication): Penyelesaikan konflik melalui pengadilan\nGencatan Senjata : Penghentian konflik bersenjata secara sementara untuk menghentikan tindakan agresif yang dilakukan\n\n\u00a0\n\nAkulturasi \n\nAkulturasi merupakan Percampuran dua budaya tanpa meninggalkan budaya yang sudah ada. Untuk memudahkan maka dianalogikan dengan rumus A+B= AB\n&nbsp;\n\nAsimilasi\n\nAsimilasi merupakan Percampuran dua budaya yang menghasilkan budaya baru dengan rumus A+B= C\n&nbsp;\n\nAmalgamasi\n\nAmalgamasi merupakan proses perkawinan campuran antar dua budaya yang berbeda","date_published":"2020-11-29T06:40:27+07:00","date_modified":"2020-11-29T06:40:27+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/tertawa.jpg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/teori-pembentukan-kepribadian-beserta-contohnya\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/teori-pembentukan-kepribadian-beserta-contohnya\/","title":"Teori Pembentukan Kepribadian Beserta Contohnya","content_html":"<p><strong>Teori Pembentukan Kepribadian<\/strong><\/p>\n<p>George Herbert Mead merupakan tokoh sosiologi yang memperkenalkan <em>Role Theory<\/em> (Teori Peran). Menurut teori tersebut, manusia mengalami beberapa tahapan sosialisasi yang dilakukan melalui peran-peran yang harus dijalankan. Adapun beberapa tahapan sosialisasi yang harus dijalankan manusia yakni sebagai berikut.<\/p>\n<p><strong>a). Tahapan Persiapan <em>(Preparatory Stage)<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Tahapan ini ditandai dengan lahirnya individu di dunia. Pada tahap ini individu berusaha untuk memahami dirinya sendiri dengan cara meniru apapun yang ditangkap oleh panca inderanya. Walaupun belum dapat meniru secara sempurna, anak berusaha untuk memahami apapun yang diterima dalam proses sosialisasi. Inti dari tahapan ini yakni: <strong>Anak meniru tetapi belum sempurna.<\/strong> Contoh: Anak mulai belajar berbicara seperti \u201cmam\u201d yang artinya makan atau memanggil \u201cembu\u201d artinya ibu.<\/p>\n<p><strong>b). Tahap Meniru <em>(Play Stage)<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Pada tahap ini anak meniru lebih sempurna dibandingkan tahapan <em>preparatory stage. <\/em>Anak sudah mulai mengenali lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada tahap ini <strong>anak meniru dengan sempurna namun belum mengetahui tujuan dari apa yang dilakukan. <\/strong>Namun anak mulai menyadari bahwa lingkungan menuntut dirinya untuk memahami nilai dan\u00a0 norma. Contoh: Ketika ayah menendang meja, maka anak juga meniru menendang meja. Ia masih belum memahami apakah yang ditiru bernilai baik atau buruk.<\/p>\n<p><strong>c). Tahap Siap Bertindak <em>(Game Stage)<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Pada tahap ini anak mulai berinteraksi dengan teman sebayanya melalui permainan-permainan yang dilakukan. <strong>Anak juga mulai memahami tujuan dari yang dilakukan.<\/strong> Anak sudah mulai memahami norma yang berlaku di luar lingkungan keluarganya. Contoh: Rani bermain dokter-dokteran atau Reno berperan sebagai polisi saat bermain dengan temannya.<\/p>\n<p><strong>d). Tahap Penerimaan Norma Kolektif <em>(Generalized Stage)<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong>Pada tahap ini anak sudah mencapai pendewasaan<\/strong>. Anak memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya dalam masyarakat. Bahkan individu yang tidak mampu menjalankan perannya dengan sempurna, maka ia akan merasa bersalah. Contoh: Yuri membantu ibunya berjualan koran setelah pulang sekolah, dengan tujuan untuk membantu menambah penghasilan keluarga.<\/p>\n","content_text":"Teori Pembentukan Kepribadian\nGeorge Herbert Mead merupakan tokoh sosiologi yang memperkenalkan Role Theory (Teori Peran). Menurut teori tersebut, manusia mengalami beberapa tahapan sosialisasi yang dilakukan melalui peran-peran yang harus dijalankan. Adapun beberapa tahapan sosialisasi yang harus dijalankan manusia yakni sebagai berikut.\na). Tahapan Persiapan (Preparatory Stage)\nTahapan ini ditandai dengan lahirnya individu di dunia. Pada tahap ini individu berusaha untuk memahami dirinya sendiri dengan cara meniru apapun yang ditangkap oleh panca inderanya. Walaupun belum dapat meniru secara sempurna, anak berusaha untuk memahami apapun yang diterima dalam proses sosialisasi. Inti dari tahapan ini yakni: Anak meniru tetapi belum sempurna. Contoh: Anak mulai belajar berbicara seperti \u201cmam\u201d yang artinya makan atau memanggil \u201cembu\u201d artinya ibu.\nb). Tahap Meniru (Play Stage)\nPada tahap ini anak meniru lebih sempurna dibandingkan tahapan preparatory stage. Anak sudah mulai mengenali lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada tahap ini anak meniru dengan sempurna namun belum mengetahui tujuan dari apa yang dilakukan. Namun anak mulai menyadari bahwa lingkungan menuntut dirinya untuk memahami nilai dan\u00a0 norma. Contoh: Ketika ayah menendang meja, maka anak juga meniru menendang meja. Ia masih belum memahami apakah yang ditiru bernilai baik atau buruk.\nc). Tahap Siap Bertindak (Game Stage)\nPada tahap ini anak mulai berinteraksi dengan teman sebayanya melalui permainan-permainan yang dilakukan. Anak juga mulai memahami tujuan dari yang dilakukan. Anak sudah mulai memahami norma yang berlaku di luar lingkungan keluarganya. Contoh: Rani bermain dokter-dokteran atau Reno berperan sebagai polisi saat bermain dengan temannya.\nd). Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage)\nPada tahap ini anak sudah mencapai pendewasaan. Anak memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya dalam masyarakat. Bahkan individu yang tidak mampu menjalankan perannya dengan sempurna, maka ia akan merasa bersalah. Contoh: Yuri membantu ibunya berjualan koran setelah pulang sekolah, dengan tujuan untuk membantu menambah penghasilan keluarga.","date_published":"2020-11-17T08:58:47+07:00","date_modified":"2020-11-29T05:20:45+07:00","author":{"name":"luhung achmad","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/luhung\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/04d617c6662c2d1917ef194b07cf4719?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/menjadi-orang-tua-hebat-dalam-masa-social-distancing_m_190529.jpg","tags":["Informasi"]}]}