{"version":"https:\/\/jsonfeed.org\/version\/1","user_comment":"This feed allows you to read the posts from this site in any feed reader that supports the JSON Feed format. To add this feed to your reader, copy the following URL -- https:\/\/sosiopedia.com\/author\/sosiopedia-team\/feed\/json\/ -- and add it your reader.","home_page_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/sosiopedia-team\/","feed_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/sosiopedia-team\/feed\/json\/","title":"sosiopedia.com","description":"Portal pengetahuan untuk psikologi dan sosiologi Indonesia","icon":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/cropped-ICON.png","items":[{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/apakah-mempelajari-sosiologi-itu-bermanfaat\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/apakah-mempelajari-sosiologi-itu-bermanfaat\/","title":"Apakah Mempelajari Sosiologi Itu Bermanfaat ?","content_html":"<p>Singkat kata segala ilmu yang diajarkan dan dijadikan sebuah jurusan pada lembaga pendidikan tinggi pasti mempunyai manfaat, tetapi jawaban sesimple itu tidak akan memuaskan dahaga keingin tahuan anda semua kan?, disini saya akan sedikit merangkum dari <a href=\"https:\/\/www.sociologyguide.com\/\">sociology Guid<\/a> dan menjelaskan apa sih manfaat dari belajar sosiologi itu, saya tidak akan mendetailkan semuanya tetapi saya ambil 5 point utama tentang manfaat untuk mempelajari sosilogi itu:<\/p>\n<h3>1. Penelitian sosial secara ilmiah<\/h3>\n<p>Sosiologi mempelajari masyarakat dengan cara ilmiah bukan dengan cara mengira-ngira apalagi berbau klenik. Sebelum munculnya sosiologi, tidak ada upaya sistematis dan ilmiah untuk mempelajari masyarakat manusia dengan semua kompleksitasnya. Sosiologi telah memungkinkan untuk memelajari bebagai fenomena sosial dalam masyarakat. Sehingga setiap fenomena sosial dalam masyarakat dapat dijelaskan secara logis, sistematis dan berdasarkan pada metode-metode penelitian sosial tertentu dalam penelitian. tentu saja hasilnya bisa dijadikan pertimbangan oleh pemerintah untuk membuat berbagai kebijakan yang bisa meningkatkan strata kehidupan masyarakat.<\/p>\n<h3>2. Mengetahui peran lembaga dalam pengembangan individu<\/h3>\n<p>Sosiologi mempelajari peran lembaga dalam pengembangan individu. Melalui sosiologi inilah dilakukan studi ilmiah tentang institusi sosial yang besar dan hubungan individu dengan masing-masing lembaga. Rumah dan keluarga, sekolah dan pendidikan, tempat ibadah dan agama, negara dan pemerintah, industri dan pekerjaan, komunitas dan asosiasi. Semua itu adalah institusi yang melaluinya masyarakat dapat berfungsi. Jika sudah mengetahui peran masing-masing maka friksi atau gesekan antar lembaga tersebut tentu berkurang.<\/p>\n<p>Sosiologi mempelajari lembaga-lembaga tersebut dan perannya dalam pengembangan individu. Kemudian sosiologi memberikan saran, pandangan atau langkah-langkah yang sesuai untuk memperkuat lembaga tersebut sehingga memungkinkan lembaga melayani individu secara lebih baik.<\/p>\n<h3>3. <strong>Memecahkan masalah sosial<\/strong><\/h3>\n<p>Sosiologi sangat penting dalam pemecahan masalah sosial. Dunia saat ini mengalami banyak masalah yang dapat diselesaikan melalui studi ilmiah masyarakat. Tugas sosiologi untuk mempelajari masalah-masalah sosial melalui metode penelitian ilmiah dan untuk menemukan solusi bagi masyarakat. Studi imiah tentang urusan manusia pada akhirnya akan memberikan pengetahuan dan prinsip-prinsip yang memungkinkan manusia mengontrol kondisi kehidupan sosial dan meningkatkannya.<\/p>\n<h3>4. Mengubah pandangan manusia terkait masalah kejahatan<\/h3>\n<p>Sosiologi telah mengubah cara pandang manusia terkait masalah kejahatan. Melalui studi sosiologi, seluruh pandangan manusia tentang berbagai aspek kejahatan telah berubah. Para penjahat sekarang diperlakukan sebagai manusia yang menderita kekurangan mental dan melakukan upaya yang sesuai untuk merehabilitasi mereka sebagai anggota masyarakat yang berguna.<\/p>\n<h3>5. Sosiologi mengajarkan manusia untuk bersikap objektif, kritis dan tidak memihak.<\/h3>\n<p>Ini adalah tantangan terbesar dari 4 manfaat diatas, jika masyarakat sudah memperlajari sosiologi dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari maka permasalahan sektarian, antar kelompok, bisa dicegah dan akhirnya masyarakat modern akan terbentuk dengan dasar saling menghargai, menghormati dan mendudukkan segala permasalahan pada tempatnya.<\/p>\n<p>nahh cukup jelaskan kalau sosiologi itu sangat berperan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, tentu saja manfaat tersebut akan bisa dirasakan dengan cara mengimplementasikannya ke kehidupan bermasyarakat kita.<\/p>\n","content_text":"Singkat kata segala ilmu yang diajarkan dan dijadikan sebuah jurusan pada lembaga pendidikan tinggi pasti mempunyai manfaat, tetapi jawaban sesimple itu tidak akan memuaskan dahaga keingin tahuan anda semua kan?, disini saya akan sedikit merangkum dari sociology Guid dan menjelaskan apa sih manfaat dari belajar sosiologi itu, saya tidak akan mendetailkan semuanya tetapi saya ambil 5 point utama tentang manfaat untuk mempelajari sosilogi itu:\n1. Penelitian sosial secara ilmiah\nSosiologi mempelajari masyarakat dengan cara ilmiah bukan dengan cara mengira-ngira apalagi berbau klenik. Sebelum munculnya sosiologi, tidak ada upaya sistematis dan ilmiah untuk mempelajari masyarakat manusia dengan semua kompleksitasnya. Sosiologi telah memungkinkan untuk memelajari bebagai fenomena sosial dalam masyarakat. Sehingga setiap fenomena sosial dalam masyarakat dapat dijelaskan secara logis, sistematis dan berdasarkan pada metode-metode penelitian sosial tertentu dalam penelitian. tentu saja hasilnya bisa dijadikan pertimbangan oleh pemerintah untuk membuat berbagai kebijakan yang bisa meningkatkan strata kehidupan masyarakat.\n2. Mengetahui peran lembaga dalam pengembangan individu\nSosiologi mempelajari peran lembaga dalam pengembangan individu. Melalui sosiologi inilah dilakukan studi ilmiah tentang institusi sosial yang besar dan hubungan individu dengan masing-masing lembaga. Rumah dan keluarga, sekolah dan pendidikan, tempat ibadah dan agama, negara dan pemerintah, industri dan pekerjaan, komunitas dan asosiasi. Semua itu adalah institusi yang melaluinya masyarakat dapat berfungsi. Jika sudah mengetahui peran masing-masing maka friksi atau gesekan antar lembaga tersebut tentu berkurang.\nSosiologi mempelajari lembaga-lembaga tersebut dan perannya dalam pengembangan individu. Kemudian sosiologi memberikan saran, pandangan atau langkah-langkah yang sesuai untuk memperkuat lembaga tersebut sehingga memungkinkan lembaga melayani individu secara lebih baik.\n3. Memecahkan masalah sosial\nSosiologi sangat penting dalam pemecahan masalah sosial. Dunia saat ini mengalami banyak masalah yang dapat diselesaikan melalui studi ilmiah masyarakat. Tugas sosiologi untuk mempelajari masalah-masalah sosial melalui metode penelitian ilmiah dan untuk menemukan solusi bagi masyarakat. Studi imiah tentang urusan manusia pada akhirnya akan memberikan pengetahuan dan prinsip-prinsip yang memungkinkan manusia mengontrol kondisi kehidupan sosial dan meningkatkannya.\n4. Mengubah pandangan manusia terkait masalah kejahatan\nSosiologi telah mengubah cara pandang manusia terkait masalah kejahatan. Melalui studi sosiologi, seluruh pandangan manusia tentang berbagai aspek kejahatan telah berubah. Para penjahat sekarang diperlakukan sebagai manusia yang menderita kekurangan mental dan melakukan upaya yang sesuai untuk merehabilitasi mereka sebagai anggota masyarakat yang berguna.\n5. Sosiologi mengajarkan manusia untuk bersikap objektif, kritis dan tidak memihak.\nIni adalah tantangan terbesar dari 4 manfaat diatas, jika masyarakat sudah memperlajari sosiologi dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari maka permasalahan sektarian, antar kelompok, bisa dicegah dan akhirnya masyarakat modern akan terbentuk dengan dasar saling menghargai, menghormati dan mendudukkan segala permasalahan pada tempatnya.\nnahh cukup jelaskan kalau sosiologi itu sangat berperan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, tentu saja manfaat tersebut akan bisa dirasakan dengan cara mengimplementasikannya ke kehidupan bermasyarakat kita.","date_published":"2020-08-13T03:40:04+07:00","date_modified":"2020-08-13T03:40:34+07:00","author":{"name":"sosiopedia staff","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/sosiopedia-team\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c8d1a808db807b9779163610c38712d2?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/Apakah-Mempelajari-Sosiologi-Itu-Bermanfaat.jpg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/jumlah-pengangguran-di-agustus-naik-jadi-705-juta-orang\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/jumlah-pengangguran-di-agustus-naik-jadi-705-juta-orang\/","title":"Jumlah Pengangguran di Agustus Naik Jadi 7,05 Juta Orang","content_html":"<p>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara persentase pada Agustus 2019 dibandingkan Agustus 2018. Namun jika dilihat secara jumlahnya justru meningkat. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan TPT pada Agustus 2019 sebesar 5,28%. Angka itu menurun jika dibandingkan TPT pada Agustus 2018 sebesar 5,34%. &#8220;Trennya juga terus menurun selama 4 tahun terakhir,&#8221; ujarnya di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (5\/11\/2019). Jika dilihat angka TPT 5,28% itu setara dengan 7,05 juta orang. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan Agustus 2018 sebesar 7,001 juta orang. Perbedaan jumlah tersebut dikarenakan metode penghitungan survei indikator tenaga kerja sedikit berbeda. Perbedaannya berada pada jumlah sampel yang disurvei. &#8220;Indikator tenaga kerja surveinya Agustus 2019, jumlah sampelnya diperbesar dari 200 ribu jadi 300 ribuan,&#8221; kata Suhariyanto. Selain itu faktornya pada Agustus 2019 jumlah angkatan kerja 133,56 juta orang. Naik 2,55 juta orang dibandingkan Agustus 2018. Dari angka itu sebanyak 126,51 juta orang adalah penduduk bekerja dan sebanyak 7,05 juta orang menganggur.<\/p>\n<p>sumber: https:\/\/finance.detik.com\/berita-ekonomi-bisnis\/d-4772593\/jumlah-pengangguran-di-agustus-naik-jadi-705-juta-orang?_ga=2.132807563.441560717.1573532647-2122046716.1573120161<\/p>\n","content_text":"Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara persentase pada Agustus 2019 dibandingkan Agustus 2018. Namun jika dilihat secara jumlahnya justru meningkat. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan TPT pada Agustus 2019 sebesar 5,28%. Angka itu menurun jika dibandingkan TPT pada Agustus 2018 sebesar 5,34%. &#8220;Trennya juga terus menurun selama 4 tahun terakhir,&#8221; ujarnya di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (5\/11\/2019). Jika dilihat angka TPT 5,28% itu setara dengan 7,05 juta orang. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan Agustus 2018 sebesar 7,001 juta orang. Perbedaan jumlah tersebut dikarenakan metode penghitungan survei indikator tenaga kerja sedikit berbeda. Perbedaannya berada pada jumlah sampel yang disurvei. &#8220;Indikator tenaga kerja surveinya Agustus 2019, jumlah sampelnya diperbesar dari 200 ribu jadi 300 ribuan,&#8221; kata Suhariyanto. Selain itu faktornya pada Agustus 2019 jumlah angkatan kerja 133,56 juta orang. Naik 2,55 juta orang dibandingkan Agustus 2018. Dari angka itu sebanyak 126,51 juta orang adalah penduduk bekerja dan sebanyak 7,05 juta orang menganggur.\nsumber: https:\/\/finance.detik.com\/berita-ekonomi-bisnis\/d-4772593\/jumlah-pengangguran-di-agustus-naik-jadi-705-juta-orang?_ga=2.132807563.441560717.1573532647-2122046716.1573120161","date_published":"2019-11-12T04:27:16+07:00","date_modified":"2019-11-12T04:27:16+07:00","author":{"name":"sosiopedia staff","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/sosiopedia-team\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c8d1a808db807b9779163610c38712d2?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/3b16e7a0cb4cff05eb7575fe0ecf2decaf798ae1.jpg","tags":["Berita"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/perkembangan-sosiologi-di-indonesia\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/perkembangan-sosiologi-di-indonesia\/","title":"Perkembangan Sosiologi di Indonesia","content_html":"<p>Sosiologi di Indonesia telah dimulai dalam waktu yang lama. Pada masa Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta, terdapat ajaran Wulang Reh yang mengajarkan tentang tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang berasal dari golongan-golongan berbeda. Dalam ajaran tersebut terdapat banyak aspek sosiologi, khususnya pada bidang hubungan antargolongan. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia juga telah menyumbangkan sosiologi dalam konsep-konsepnya tentang kekeluargaan dan kepemimpinan. Praktik dari ajaran ini diterapkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.[1]<\/p>\n<p>Kala itu sosiologi belum dianggap sebagai ilmu yang penting untuk dipelajari. Akan tetapi, hanya sebatas ilmu pembantu untuk ilmu pengetahuan lainnya. Itu dikarenakan banyak karya orang Belanda, seperti tulisan-tulisan ter Haar dan Duyvendak yang mencakup unsur-unsur sosiologis namun kala itu dikupas secara ilmiah dari aspek nonsosiologis dan belum menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.[1]<\/p>\n<p>Sebelum perang dunia kedua, Indonesia hanya memiliki Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta, satu-satunya lembaga perguruan tinggi sebelum era kemerdekaan yang memberikan kuliah tentang sosiologi di Indonesia. Berhubung belum ada spesialisasi sosiologi baik di Indonesia maupun di Belanda, maka para pengajar kala itu tidak berasal dari latar belakang psikologi. Adapun teori yang diajarkan bersifat filsafat sosial dan teoretis, berdasarkan buku-buku karya Leopold von Wiese, Bierens de Haan dan sebagainya.[1]<\/p>\n<p>Kegiatan perkuliahan di sekolah tersebut sempat ditiadakan pada 1934 hingga 1935. Penyebabnya karena para guru besar memiliki opini bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat dan proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam hubungan dengan pelajaran hukum. Mereka juga berpandangan bahwa yang penting untuk dipelajari adalah hukum positif, yakni peraturan-peraturan yang berlaku dengan sah pada suatu waktu dan suatu tempat tertentu.[1]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>sumber : https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Perkembangan_sosiologi_di_Indonesia<\/p>\n","content_text":"Sosiologi di Indonesia telah dimulai dalam waktu yang lama. Pada masa Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta, terdapat ajaran Wulang Reh yang mengajarkan tentang tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang berasal dari golongan-golongan berbeda. Dalam ajaran tersebut terdapat banyak aspek sosiologi, khususnya pada bidang hubungan antargolongan. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia juga telah menyumbangkan sosiologi dalam konsep-konsepnya tentang kekeluargaan dan kepemimpinan. Praktik dari ajaran ini diterapkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.[1]\nKala itu sosiologi belum dianggap sebagai ilmu yang penting untuk dipelajari. Akan tetapi, hanya sebatas ilmu pembantu untuk ilmu pengetahuan lainnya. Itu dikarenakan banyak karya orang Belanda, seperti tulisan-tulisan ter Haar dan Duyvendak yang mencakup unsur-unsur sosiologis namun kala itu dikupas secara ilmiah dari aspek nonsosiologis dan belum menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.[1]\nSebelum perang dunia kedua, Indonesia hanya memiliki Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta, satu-satunya lembaga perguruan tinggi sebelum era kemerdekaan yang memberikan kuliah tentang sosiologi di Indonesia. Berhubung belum ada spesialisasi sosiologi baik di Indonesia maupun di Belanda, maka para pengajar kala itu tidak berasal dari latar belakang psikologi. Adapun teori yang diajarkan bersifat filsafat sosial dan teoretis, berdasarkan buku-buku karya Leopold von Wiese, Bierens de Haan dan sebagainya.[1]\nKegiatan perkuliahan di sekolah tersebut sempat ditiadakan pada 1934 hingga 1935. Penyebabnya karena para guru besar memiliki opini bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat dan proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam hubungan dengan pelajaran hukum. Mereka juga berpandangan bahwa yang penting untuk dipelajari adalah hukum positif, yakni peraturan-peraturan yang berlaku dengan sah pada suatu waktu dan suatu tempat tertentu.[1]\n&nbsp;\n&nbsp;\nsumber : https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Perkembangan_sosiologi_di_Indonesia","date_published":"2019-10-13T11:33:40+07:00","date_modified":"2019-11-12T04:22:48+07:00","author":{"name":"sosiopedia staff","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/sosiopedia-team\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c8d1a808db807b9779163610c38712d2?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/gambar-sosiologi.jpg","tags":["Berita"]}]}