{"version":"https:\/\/jsonfeed.org\/version\/1","user_comment":"This feed allows you to read the posts from this site in any feed reader that supports the JSON Feed format. To add this feed to your reader, copy the following URL -- https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/feed\/json\/ -- and add it your reader.","home_page_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","feed_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/feed\/json\/","title":"sosiopedia.com","description":"Portal pengetahuan untuk psikologi dan sosiologi Indonesia","icon":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/cropped-ICON.png","items":[{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/hubungan-sosiologi-dengan-ilmu-ekonomi\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/hubungan-sosiologi-dengan-ilmu-ekonomi\/","title":"Hubungan Sosiologi Dengan Ilmu Ekonomi","content_html":"<p>Secara ringkas ke 2 ilmu pengatahuan ini pasti mempunyai hubungan erat antara satu dan lainnya, dikarenakan tujuan interaksi antar manusia yang selalu dianalisa sebagai objek ilmu sosiologi, menjadikan motivasi uang sebagai salah satu kesepakatan yang tertulis ataupun tidak tertulis dalam relasi mereka, dan sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar waktu manusia dipakai untuk bekerja dimana tujuannya adalah ekonomi, oleh karena itu antara sosiologi dan ekonomi akan selalu menjadi materi penelitian yang menarik bagi para sosiolog dan ekonom.<\/p>\n<p>Ilmu ekonomi sendiri bertujuan untuk mempelajari usaha-usaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang beraneka ragam,\u00a0 dengan keterbatasan barang dan jasa yang tersedia. Misalnya ilmu ekonomi berusaha memecahkan persoalan yang timbul karena tidak seimbangnya persediaan pangan dengan jumlah penduduk, serta mempelajari usaha menaikkan produksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p>Adapun sosiologi mempelajari unsur-unsur kemasyarakatan secara keseluruhan. Sosiologi mempelajari bagaimana manusia<br \/>\nberinteraksi, bekerja sama, bersaing dalam upaya-upaya pemenuhan kebutuhan.<\/p>\n<p>Uang tidak akan mudah berpindah keluar masuk bank dengan sendirinya atau sebagai jawaban atas kekuatan yang semata-mata<br \/>\nbukan perseorangan. Hal itu disimpan di sana oleh orang-orang yang telah membuat keputusan sosial tentang antisipasi sesuatu maupun menabung untuk kepentingan pendidikan bagi anak-anak mereka, maupun untuk membeli kondominium. Hal itu merupakan upaya yang sangat aktif oleh orang-orang yang ingin memiki kepastain masa depan yang lebih cerah. Hubungan antara ekonomi dan sosiologi bahwa ekonomi yang merupakan basis perilaku sosial yang ikut menentukan tipe dan bentuk interaksi mereka. Para ahli sosiologi mengakui bahwa ekonomi dan material itu memiliki pengaruh atas minat serta motivasi kerja pada masyarakat (Popenoe, 1983: 7).<\/p>\n","content_text":"Secara ringkas ke 2 ilmu pengatahuan ini pasti mempunyai hubungan erat antara satu dan lainnya, dikarenakan tujuan interaksi antar manusia yang selalu dianalisa sebagai objek ilmu sosiologi, menjadikan motivasi uang sebagai salah satu kesepakatan yang tertulis ataupun tidak tertulis dalam relasi mereka, dan sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar waktu manusia dipakai untuk bekerja dimana tujuannya adalah ekonomi, oleh karena itu antara sosiologi dan ekonomi akan selalu menjadi materi penelitian yang menarik bagi para sosiolog dan ekonom.\nIlmu ekonomi sendiri bertujuan untuk mempelajari usaha-usaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang beraneka ragam,\u00a0 dengan keterbatasan barang dan jasa yang tersedia. Misalnya ilmu ekonomi berusaha memecahkan persoalan yang timbul karena tidak seimbangnya persediaan pangan dengan jumlah penduduk, serta mempelajari usaha menaikkan produksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat.\nAdapun sosiologi mempelajari unsur-unsur kemasyarakatan secara keseluruhan. Sosiologi mempelajari bagaimana manusia\nberinteraksi, bekerja sama, bersaing dalam upaya-upaya pemenuhan kebutuhan.\nUang tidak akan mudah berpindah keluar masuk bank dengan sendirinya atau sebagai jawaban atas kekuatan yang semata-mata\nbukan perseorangan. Hal itu disimpan di sana oleh orang-orang yang telah membuat keputusan sosial tentang antisipasi sesuatu maupun menabung untuk kepentingan pendidikan bagi anak-anak mereka, maupun untuk membeli kondominium. Hal itu merupakan upaya yang sangat aktif oleh orang-orang yang ingin memiki kepastain masa depan yang lebih cerah. Hubungan antara ekonomi dan sosiologi bahwa ekonomi yang merupakan basis perilaku sosial yang ikut menentukan tipe dan bentuk interaksi mereka. Para ahli sosiologi mengakui bahwa ekonomi dan material itu memiliki pengaruh atas minat serta motivasi kerja pada masyarakat (Popenoe, 1983: 7).","date_published":"2023-06-30T16:25:12+07:00","date_modified":"2023-06-27T16:41:04+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/513044.jpg","tags":["hubungan sosiologi dengan ilmu lain","Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/hubungan-sosiologi-dengan-ilmu-alam\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/hubungan-sosiologi-dengan-ilmu-alam\/","title":"Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Alam","content_html":"<p>sebelum kita membahas korelasi antara keduanya kita perlu mengetahui pengertian dari masing &#8211; masing disiplin ilmu pengetahuan yang menjadikan materi &#8211; materinya di kaji oleh banyak ilmuwan di zaman modern ini.<\/p>\n<h3>Pengertian Ilmu Alam<\/h3>\n<p>menurut wikipedia, ilmu alam dalam kata lain Ilmu pengetahuan alam (akronim: IPA) atau kerap diperpendek sebagai ilmu alam (serapan dari bahasa Arab: \u0639\u0644\u0648\u0645 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645) adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu di mana objeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan di mana pun.[1] Orang yang menekuni bidang ilmu pengetahuan alam disebut sebagai Saintis.<\/p>\n<p>Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. &#8220;Real Science is both product and process, inseparably Joint&#8221; (Agus. S. 2003: 11)<\/p>\n<p>Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.<\/p>\n<p>Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik &amp; nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.<\/p>\n<p>Matematika tidak dianggap sebagai ilmu alam, akan tetapi digunakan sebagai penyedia alat\/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Istilah ilmu alam juga digunakan untuk mengenali &#8220;ilmu&#8221; sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah, berbeda dengan filsafat alam. Di sekolah, ilmu alam dipelajari secara umum di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam(biasa disingkat IPA).<\/p>\n<p>Tingkat kepastian ilmu alam relatif tinggi mengingat objeknya yang konkret, karena hal ini ilmu alam lazim juga disebut ilmu pasti.<\/p>\n<p>Di samping penggunaan secara tradisional di atas, saat ini istilah &#8220;ilmu alam&#8221; kadang digunakan mendekati arti yang lebih cocok dalam pengertian sehari-hari. Dari sudut ini, &#8220;ilmu alam&#8221; dapat menjadi arti alternatif bagi biologi, terlibat dalam proses-proses biologis, dan dibedakan dari ilmu fisik (terkait dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang mendasari alam semesta).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3>Pengertian Sosiologi<\/h3>\n<p>Adapun sosiologi mempelajari unsur-unsur kemasyarakatan secara keseluruhan. Sosiologi mempelajari bagaimana manusia<br \/>\nberinteraksi, bekerja sama, bersaing dalam upaya-upaya pemenuhan kebutuhannya. sosiologi juga diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat dan bermaksud untuk mengkaji kejadian kejadian dalam masyarakat, yaitu persekutuan manusia yang selanjutnya berusaha untuk mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama.<\/p>\n<h3>Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Alam<\/h3>\n<p>Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Alam dapat diketahui dari kedudukan keduanya dalam tinjauan filsafat ilmu (epistemologi) beserta metodenya:<\/p>\n<p>(1.) Keduanya tergolong ke dalam golongan pengetahuan saintifik yang empiris, genetis dan bercorak kausal (perhubungan cause and effect).<br \/>\n(2.) Sosiologi mempengaruhi Ilmu Alam, demikian juga sebaliknya (ada hubungan timbal balik atau interdependensi).<\/p>\n","content_text":"sebelum kita membahas korelasi antara keduanya kita perlu mengetahui pengertian dari masing &#8211; masing disiplin ilmu pengetahuan yang menjadikan materi &#8211; materinya di kaji oleh banyak ilmuwan di zaman modern ini.\nPengertian Ilmu Alam\nmenurut wikipedia, ilmu alam dalam kata lain Ilmu pengetahuan alam (akronim: IPA) atau kerap diperpendek sebagai ilmu alam (serapan dari bahasa Arab: \u0639\u0644\u0648\u0645 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645) adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu di mana objeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan di mana pun.[1] Orang yang menekuni bidang ilmu pengetahuan alam disebut sebagai Saintis.\nSains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. &#8220;Real Science is both product and process, inseparably Joint&#8221; (Agus. S. 2003: 11)\nSains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.\nIlmu alam mempelajari aspek-aspek fisik &amp; nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.\nMatematika tidak dianggap sebagai ilmu alam, akan tetapi digunakan sebagai penyedia alat\/perangkat dan kerangka kerja yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Istilah ilmu alam juga digunakan untuk mengenali &#8220;ilmu&#8221; sebagai disiplin yang mengikuti metode ilmiah, berbeda dengan filsafat alam. Di sekolah, ilmu alam dipelajari secara umum di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam(biasa disingkat IPA).\nTingkat kepastian ilmu alam relatif tinggi mengingat objeknya yang konkret, karena hal ini ilmu alam lazim juga disebut ilmu pasti.\nDi samping penggunaan secara tradisional di atas, saat ini istilah &#8220;ilmu alam&#8221; kadang digunakan mendekati arti yang lebih cocok dalam pengertian sehari-hari. Dari sudut ini, &#8220;ilmu alam&#8221; dapat menjadi arti alternatif bagi biologi, terlibat dalam proses-proses biologis, dan dibedakan dari ilmu fisik (terkait dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang mendasari alam semesta).\n&nbsp;\nPengertian Sosiologi\nAdapun sosiologi mempelajari unsur-unsur kemasyarakatan secara keseluruhan. Sosiologi mempelajari bagaimana manusia\nberinteraksi, bekerja sama, bersaing dalam upaya-upaya pemenuhan kebutuhannya. sosiologi juga diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat dan bermaksud untuk mengkaji kejadian kejadian dalam masyarakat, yaitu persekutuan manusia yang selanjutnya berusaha untuk mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama.\nHubungan Sosiologi dengan Ilmu Alam\nHubungan Sosiologi dengan Ilmu Alam dapat diketahui dari kedudukan keduanya dalam tinjauan filsafat ilmu (epistemologi) beserta metodenya:\n(1.) Keduanya tergolong ke dalam golongan pengetahuan saintifik yang empiris, genetis dan bercorak kausal (perhubungan cause and effect).\n(2.) Sosiologi mempengaruhi Ilmu Alam, demikian juga sebaliknya (ada hubungan timbal balik atau interdependensi).","date_published":"2023-06-28T16:09:55+07:00","date_modified":"2023-06-27T16:24:25+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/1370296.jpg","tags":["definisi sosiologi","hubungan sosiologi dengan ilmu lain","Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/pengertian-sosiologi-kesehatan\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/pengertian-sosiologi-kesehatan\/","title":"Pengertian Sosiologi Kesehatan","content_html":"<p>Sebagai suatu bidang yang spesifik sosiologi kesehatan diartikan pula sebagai bidang ilmu yang menempatkan permasalahan penyakit dan kesehatan dalam konteks sosio kultural dan perilaku. Termasuk di dalamnya kajian bidang ini antara lain: deskripsi dan penjelasan atau teori-teori yang berhubungan dengan distribusi penyakit dalam berbagai kelompok masyarakat; perilaku<br \/>\natau tindakan yang diambil oleh individu dalam upaya menjaga atau meningkatkan serta menanggulangi keluhan sakit, penyakit dan cacat tubuh; perilaku dan kepercayaan\/ keyakinan berkaitan dengan kesehatan, penyakit, cacat tubuh, dan organisasi serta<br \/>\npenyedia perawatan kesehatan; organisasi dan profesi atau pekerjaan di bidang kesehatan, system rujukan dari pelayanan perawatan kesehatan, pengobatan sebagai suatu institusi sosial dan hubungannya dengan institusi sosial yang lainnya; nilai-nilai budaya dan masyarakat kaitannya dengan kesehatan, keluhan sakit dan kecacatan serta peran faktor sosial dalam kaitan dengan penyakit, khususnya ketidakteraturan emosi dan persoalan stress yang dikaitkan dengan penyakit.<\/p>\n<p>Memperhatikan kedua definisi tersebut jelas terlihat bahwa fokus bidang sosiologi kesehatan tidak hanya terpusat pada aspek kesehatan semata melainkan menyangkut persoalan persoalan yang jauh lebih luas.<\/p>\n<h3>Pengertian Sosiologi Kesehatan Menurut Para Ahli<\/h3>\n<ol>\n<li>Sosiologi kesehatan adalah studi tentang perawatan kesehatan sebagai suatu sistem yang telah terlembaga dalam masyarakat, kesehatan (health) dan kondisi rasa sakit (illness) hubungannya dengan faktor-faktor sosial (Ruderman : 1981).<\/li>\n<li>Menurut ASA (American Sociological Association; 1986) Sosiologi kesehatan : merupakan sub bidang yang mengaplikasikan perspektif, konsep-konsep dan teori-teori serta metodologi di bidang sosiologi untuk melakukan kajian terhadap fenomena yang berkaitan dengan penyakit dan kesehatan manusia.<\/li>\n<li>Penerapan teori-teori sosiologi terhadap masalah-masalah kesehatan (Soeryono soekanto, 1990)<br \/>\nDapat disimpulkan bahwa : Sosiologi Kesehatan adalah Sosiologi yang memusatkan perhatiannya pada masalah kesehatan<br \/>\nyang merupakan problem &amp; terjadi pada semua lapisan masyarakat.<\/li>\n<\/ol>\n<h3>Pengertian Sosiologi Kesehatan Menurut Para Ahli<\/h3>\n<p>Tujuan penerapan sosiologi dalam bidang kesehatan adalah :<br \/>\n1. Menambah kemampuan Petugas Kesehatan untuk mengatasi persoalan-persoalankesehatan yang<br \/>\ndialami di Kelompok masyarakat.<br \/>\n2. Menambah kemampuan dan keyakinan tenaga Medis dalam menangani kebutuhan sosial dan<br \/>\nemosional pasien,sebaik kemampuan yang mereka miliki dalam menangani gangguan penyakit<br \/>\nyang diderita pasien.<br \/>\n3. Mempelajari cara orang mencari pertolongan medis.<br \/>\n4. Menganalisis faktor-faktor sosial dalam hubungannya dengan etiologi penyakit.<br \/>\n5. Bermanfaat bagi praktek medis bahwa sakit dan cacat fisik selain sebagai kenyataan sosial<br \/>\nsekaligus juga sebagai kenyataan medis.<br \/>\n6. Sosiologi kesehatan juga memberikan analisis tentang hubungan dokter-pasien<\/p>\n","content_text":"Sebagai suatu bidang yang spesifik sosiologi kesehatan diartikan pula sebagai bidang ilmu yang menempatkan permasalahan penyakit dan kesehatan dalam konteks sosio kultural dan perilaku. Termasuk di dalamnya kajian bidang ini antara lain: deskripsi dan penjelasan atau teori-teori yang berhubungan dengan distribusi penyakit dalam berbagai kelompok masyarakat; perilaku\natau tindakan yang diambil oleh individu dalam upaya menjaga atau meningkatkan serta menanggulangi keluhan sakit, penyakit dan cacat tubuh; perilaku dan kepercayaan\/ keyakinan berkaitan dengan kesehatan, penyakit, cacat tubuh, dan organisasi serta\npenyedia perawatan kesehatan; organisasi dan profesi atau pekerjaan di bidang kesehatan, system rujukan dari pelayanan perawatan kesehatan, pengobatan sebagai suatu institusi sosial dan hubungannya dengan institusi sosial yang lainnya; nilai-nilai budaya dan masyarakat kaitannya dengan kesehatan, keluhan sakit dan kecacatan serta peran faktor sosial dalam kaitan dengan penyakit, khususnya ketidakteraturan emosi dan persoalan stress yang dikaitkan dengan penyakit.\nMemperhatikan kedua definisi tersebut jelas terlihat bahwa fokus bidang sosiologi kesehatan tidak hanya terpusat pada aspek kesehatan semata melainkan menyangkut persoalan persoalan yang jauh lebih luas.\nPengertian Sosiologi Kesehatan Menurut Para Ahli\n\nSosiologi kesehatan adalah studi tentang perawatan kesehatan sebagai suatu sistem yang telah terlembaga dalam masyarakat, kesehatan (health) dan kondisi rasa sakit (illness) hubungannya dengan faktor-faktor sosial (Ruderman : 1981).\nMenurut ASA (American Sociological Association; 1986) Sosiologi kesehatan : merupakan sub bidang yang mengaplikasikan perspektif, konsep-konsep dan teori-teori serta metodologi di bidang sosiologi untuk melakukan kajian terhadap fenomena yang berkaitan dengan penyakit dan kesehatan manusia.\nPenerapan teori-teori sosiologi terhadap masalah-masalah kesehatan (Soeryono soekanto, 1990)\nDapat disimpulkan bahwa : Sosiologi Kesehatan adalah Sosiologi yang memusatkan perhatiannya pada masalah kesehatan\nyang merupakan problem &amp; terjadi pada semua lapisan masyarakat.\n\nPengertian Sosiologi Kesehatan Menurut Para Ahli\nTujuan penerapan sosiologi dalam bidang kesehatan adalah :\n1. Menambah kemampuan Petugas Kesehatan untuk mengatasi persoalan-persoalankesehatan yang\ndialami di Kelompok masyarakat.\n2. Menambah kemampuan dan keyakinan tenaga Medis dalam menangani kebutuhan sosial dan\nemosional pasien,sebaik kemampuan yang mereka miliki dalam menangani gangguan penyakit\nyang diderita pasien.\n3. Mempelajari cara orang mencari pertolongan medis.\n4. Menganalisis faktor-faktor sosial dalam hubungannya dengan etiologi penyakit.\n5. Bermanfaat bagi praktek medis bahwa sakit dan cacat fisik selain sebagai kenyataan sosial\nsekaligus juga sebagai kenyataan medis.\n6. Sosiologi kesehatan juga memberikan analisis tentang hubungan dokter-pasien","date_published":"2023-06-27T15:56:56+07:00","date_modified":"2023-06-27T15:56:56+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/8pb_tfey2xq.jpg","tags":["Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/problematika-herbert-spencer-ketika-meneliti-dan-menulis-tentang-sosiologi\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/problematika-herbert-spencer-ketika-meneliti-dan-menulis-tentang-sosiologi\/","title":"Problematika Herbert Spencer Ketika Meneliti dan Menulis Tentang Sosiologi","content_html":"<p>Selama menulis karya &#8211; karyanya Spencer untuk pertama kali mulai mengalami insomnia (tidak bisa tidur) dan dalam beberapa tahun berikutnya masalah mental dan fisiknya ini terus meningkat. Ia menderita gangguan saraf sepanjang sisa hidupnya.<br \/>\nTahun 1853 Spencer menerima harta warisan yang memungkinkannya untuk berhenti bekerja dan menjalani sisa hidupnya sebagai seorang sarjana bebas. Ia tak pernah memperoleh gelar kesarjanaan universitas atau memangku jabatan akademis. Karena ia makin menutup diri, dan penyakit fisik dan mentalnya makin parah, produktivitasnya selaku sarjana makin menurun. Akhirnya Spencer mulai mencapai kemahsyuran tak hanya di Inggris tetapi juga reputasi internasional.<\/p>\n<p>Salah satu watak Spencer paling menarik yang menjadi penyebab kerusakan intelektualnya adalah keengganannya membaca buku orang lain. Bila tak pernah membaca karya sarjana lain, lalu darimana gagasan dan pemahaman Spencer berasal. Menurut Spencer, ide-idenya muncul tanpa sengaja secara intiutif dari pikirannya. Ia mengatakan bahwa gagasannya mncul \u201csedikit demi sedikit, secara rendah hati tanpa disengaja atau tanpa upaya yang keras\u201d. Institusi seperti itu dianggap Spencer jauh lebih efektif ketimbang upaya berfikir dan belajar tekun.<\/p>\n<p>Spencer menderita karena enggan membaca secara serius karya orang lain. Sebenarnya jika ia membaca karya orang lain, itu dilakukannya hanya sekedar untuk menemukan pembenaran pendapatnya sendiri. Ia mengabaikan gagasan orang lain yang tak mengakui gagasannya. Demikianlah, Charles Darwin, pakar sejamannya berkata dengan tentang Spencer, \u201cJika ia mati melatih dirinya untuk mengamati lebih banyak, dengan resiko kehilangan sebagian dari kekuatan berpikirnya sekalipun, tetulah ia menjadi seorang manusiayang sangat hebat\u201d. Pengabaian Spencer terhadap aturan ilmu pengetahuan menyebabkan ia membuat serentetan gagasan kasar dan pernyataan yang belum dibuktikan kebenarannya mengenai evolusi kehidupan manusia. Karena itulah sosiolog abad 20 menolak gagasan Spencer dan riset empiris yang tekun. Spencer meninggal 8 Desember 1903<\/p>\n","content_text":"Selama menulis karya &#8211; karyanya Spencer untuk pertama kali mulai mengalami insomnia (tidak bisa tidur) dan dalam beberapa tahun berikutnya masalah mental dan fisiknya ini terus meningkat. Ia menderita gangguan saraf sepanjang sisa hidupnya.\nTahun 1853 Spencer menerima harta warisan yang memungkinkannya untuk berhenti bekerja dan menjalani sisa hidupnya sebagai seorang sarjana bebas. Ia tak pernah memperoleh gelar kesarjanaan universitas atau memangku jabatan akademis. Karena ia makin menutup diri, dan penyakit fisik dan mentalnya makin parah, produktivitasnya selaku sarjana makin menurun. Akhirnya Spencer mulai mencapai kemahsyuran tak hanya di Inggris tetapi juga reputasi internasional.\nSalah satu watak Spencer paling menarik yang menjadi penyebab kerusakan intelektualnya adalah keengganannya membaca buku orang lain. Bila tak pernah membaca karya sarjana lain, lalu darimana gagasan dan pemahaman Spencer berasal. Menurut Spencer, ide-idenya muncul tanpa sengaja secara intiutif dari pikirannya. Ia mengatakan bahwa gagasannya mncul \u201csedikit demi sedikit, secara rendah hati tanpa disengaja atau tanpa upaya yang keras\u201d. Institusi seperti itu dianggap Spencer jauh lebih efektif ketimbang upaya berfikir dan belajar tekun.\nSpencer menderita karena enggan membaca secara serius karya orang lain. Sebenarnya jika ia membaca karya orang lain, itu dilakukannya hanya sekedar untuk menemukan pembenaran pendapatnya sendiri. Ia mengabaikan gagasan orang lain yang tak mengakui gagasannya. Demikianlah, Charles Darwin, pakar sejamannya berkata dengan tentang Spencer, \u201cJika ia mati melatih dirinya untuk mengamati lebih banyak, dengan resiko kehilangan sebagian dari kekuatan berpikirnya sekalipun, tetulah ia menjadi seorang manusiayang sangat hebat\u201d. Pengabaian Spencer terhadap aturan ilmu pengetahuan menyebabkan ia membuat serentetan gagasan kasar dan pernyataan yang belum dibuktikan kebenarannya mengenai evolusi kehidupan manusia. Karena itulah sosiolog abad 20 menolak gagasan Spencer dan riset empiris yang tekun. Spencer meninggal 8 Desember 1903","date_published":"2023-04-17T10:31:23+07:00","date_modified":"2023-04-13T10:34:54+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/3091193.jpg","tags":["Herbert Spencer","Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/ilmu-sosiologi-menurut-herbert-spencer\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/ilmu-sosiologi-menurut-herbert-spencer\/","title":"Ilmu Sosiologi Menurut Herbert Spencer","content_html":"<p>Menurutnya, objek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik, agama, pengendalian sosial dan industri. Termasuk pula asosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, pelapisan sosial, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan. Pada tahun 1879 ia mengetengahkan sebuah teori tentang Evolusi Sosial yang hingga kini masih dianut walaupun di sana sini ada perubahan. Ia juga menerapkan secara analog (kesamaan fungsi) dengan teori evolusi karya Charles Darwin (yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera) terhadap masyarakat manusia. Ia yakin bahwa masyarakat mengalami evolusi dari masyarakat primitif ke masyarakat industri. Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.<\/p>\n<p>Spencer adalah orang yang pertama kali menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang konkret. Tindakan ini kemudian diikuti oleh para sosiolog sesudahnya, baik secara sadar atau tidak sadar<\/p>\n<p>Spencer memperkenalkan pendekatan baru sosiologi yaitu merekonsiliasi antara ilmu pengetahuan dengan agama dalam nbukunya First Principle. Dalam bukunya ini Spencer membedakan fenomena tersebut dalam 2 fenomena yaitu fenomena yang dapat diketahui dan fenomena yang tidak dapat diketahui.<\/p>\n<p>Selanjutnya Spencer memulai dengan 3 garis besar teorinya yang disebut dengan tiga kebenaran universal, yaiu adanya materi yang tidak dapat dirusak, adanya kesinambungan gerak, dan adanya tenaga dan kekuatan yang terus menerus. Di samping tiga kebenaran universal tersebut di atas, menurut Spencer ada 4 dalil yang berasal dari kebenaran universal, yaitu kesatuan hukum dan kesinambungan, transformasi, bergerak sepanjang garis, dan ada sesuatu irama dalam gerakan.<\/p>\n<p>Spencer lebih lanjut mengatakan bahwa harus ada hukumm yang dapat menguasai kombinasi antara faktor-faktor yang berbeda di dalam proses evolusioner. Sedang sistem evolusi umum yang pokok menurut Spencer seperti yang dikutip Siahaan, ada 4 yaitu ketidakstabilan yang homogen, berkembangnya faktor yang berbeda-beda dalam ratio gometris, kecenderungan terhadap adanya bagian-bagian yang berbeda0beda dan terpilah-pilah melalui bentuk-bentuk pengelompokkan atau segregasi, dan adanya batas final dari semua proses evolusi di dalam suatu keseimbanga akhir.<\/p>\n<p>Bagi Spencer, Sosiologi adalah suatu studi evolusi dalam bentuk yang paling kompleks. Dia menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis dalam tiga jilidThe Principles of Sociology. Menurutnya sosiologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai hakikat manusia secarainkoporatif dengan pendekatan makro yang berpusat pada manusia. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari segala gejala yang muncul dari perilaku manusia secara bersama-sama.<\/p>\n<p>Pandangan-pandangan Spencer tentang sosiologi mendapat pengaruh biologi dalam arti luas. Pertumbuhan suatu disiplin ilmu sosiologi dan biologi telah menarik perhatian baru terhadap faktor-faktor biologis di dalam perilaku manusia. Oleh para pendukungnya, sosiologi didefinisikan sebagai \u201csuatu studi sistematik mengenai dasar-dasar biologis dari perilaku manusia\u201d. Interaksi biologi dan kebudayaan mempengaruhi perilaku manusia yang dimulai dengan perkembangan masyarakat manusia. Banyak ahli masyarakat abad pertengahan menganalogikan manusia dengan organisme.<\/p>\n","content_text":"Menurutnya, objek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik, agama, pengendalian sosial dan industri. Termasuk pula asosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, pelapisan sosial, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan. Pada tahun 1879 ia mengetengahkan sebuah teori tentang Evolusi Sosial yang hingga kini masih dianut walaupun di sana sini ada perubahan. Ia juga menerapkan secara analog (kesamaan fungsi) dengan teori evolusi karya Charles Darwin (yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera) terhadap masyarakat manusia. Ia yakin bahwa masyarakat mengalami evolusi dari masyarakat primitif ke masyarakat industri. Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.\nSpencer adalah orang yang pertama kali menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang konkret. Tindakan ini kemudian diikuti oleh para sosiolog sesudahnya, baik secara sadar atau tidak sadar\nSpencer memperkenalkan pendekatan baru sosiologi yaitu merekonsiliasi antara ilmu pengetahuan dengan agama dalam nbukunya First Principle. Dalam bukunya ini Spencer membedakan fenomena tersebut dalam 2 fenomena yaitu fenomena yang dapat diketahui dan fenomena yang tidak dapat diketahui.\nSelanjutnya Spencer memulai dengan 3 garis besar teorinya yang disebut dengan tiga kebenaran universal, yaiu adanya materi yang tidak dapat dirusak, adanya kesinambungan gerak, dan adanya tenaga dan kekuatan yang terus menerus. Di samping tiga kebenaran universal tersebut di atas, menurut Spencer ada 4 dalil yang berasal dari kebenaran universal, yaitu kesatuan hukum dan kesinambungan, transformasi, bergerak sepanjang garis, dan ada sesuatu irama dalam gerakan.\nSpencer lebih lanjut mengatakan bahwa harus ada hukumm yang dapat menguasai kombinasi antara faktor-faktor yang berbeda di dalam proses evolusioner. Sedang sistem evolusi umum yang pokok menurut Spencer seperti yang dikutip Siahaan, ada 4 yaitu ketidakstabilan yang homogen, berkembangnya faktor yang berbeda-beda dalam ratio gometris, kecenderungan terhadap adanya bagian-bagian yang berbeda0beda dan terpilah-pilah melalui bentuk-bentuk pengelompokkan atau segregasi, dan adanya batas final dari semua proses evolusi di dalam suatu keseimbanga akhir.\nBagi Spencer, Sosiologi adalah suatu studi evolusi dalam bentuk yang paling kompleks. Dia menguraikan materi sosiologi secara rinci dan sistematis dalam tiga jilidThe Principles of Sociology. Menurutnya sosiologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai hakikat manusia secarainkoporatif dengan pendekatan makro yang berpusat pada manusia. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari segala gejala yang muncul dari perilaku manusia secara bersama-sama.\nPandangan-pandangan Spencer tentang sosiologi mendapat pengaruh biologi dalam arti luas. Pertumbuhan suatu disiplin ilmu sosiologi dan biologi telah menarik perhatian baru terhadap faktor-faktor biologis di dalam perilaku manusia. Oleh para pendukungnya, sosiologi didefinisikan sebagai \u201csuatu studi sistematik mengenai dasar-dasar biologis dari perilaku manusia\u201d. Interaksi biologi dan kebudayaan mempengaruhi perilaku manusia yang dimulai dengan perkembangan masyarakat manusia. Banyak ahli masyarakat abad pertengahan menganalogikan manusia dengan organisme.","date_published":"2023-04-15T10:27:48+07:00","date_modified":"2023-04-13T10:29:07+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/5131433.jpg","tags":["Herbert Spencer","Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/herbert-spencer-filsuf-inggris-bapak-darwinisme-sosial\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/herbert-spencer-filsuf-inggris-bapak-darwinisme-sosial\/","title":"Herbert Spencer, Filsuf Inggris Bapak Darwinisme Sosial","content_html":"<h4>Biografi Herbert Spencer<\/h4>\n<p>Spencer lahir di Derbyshire, Midland, Inggris pada 27 April 1820 dan meninggal pada tahun 1903. Dia adalah salah satu anak dari sembilan bersaudara yang bertahan hidup dari pasangan William dan Haerriet Spencer, guru sekolah di Derbyshire. Karena alasan kesehatan, Spencer kecil menjalani pendidikan di rumah. Dia belajar teknik dan bidang utilitarian. Ia adalah seorang filsuf inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik terkemuka. Meskipun kebanyakan karya yang ditulisnya berisi tentang teori politik dan menekankan pada &#8220;keuntungan akan kemurahan hati&#8221;, dia lebih dikenal sebagai bapak darwinisme sosial. Spencer seringkali menganalisis masyarakat sebagai sistem evolusi, ia juga menjelaskan definisi tentang &#8220;hukum rimba&#8221; dalam ilmu sosial. Dia berkontribusi terhadap berbagai macamsubyek,termasuk etnis, metafisika, agama, politik, retorik, biologi dan psikolog<\/p>\n<ol>\n<li>Spencer saat ini dikritik sebagai contoh sempurna untuk skientism atau paham ilmiah, sementara banyak orang yang kagum padanya di saat ia masih hidup.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam usia relatif muda, 17 tahun, Spencer muda terjun ke dunia kerja sebagai insinyur sipil di sebuah perusahaan kereta api London dan Birmingham. Karirnya terbilang bagus hingga akhhirnya dia dipercaya menjadi wakil kepala bagian mesin di perusahaan tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya bekerja di perusahaan kereta api, kemudian pindah pekerjaan menjadi redaktur majalah The Economist yang saat itu terkenal. Spencer mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dalam hal mekanik. Hal ini akan ikut serta mewarnai seluruh imajinasinya tentang biologi dan sosial di masa yang akan datang Selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri.<\/p>\n<p>Spencer memiliki kemampuan sangat baik dalam mekanika. Kemampuan itulah yang mempengaruhi imajinasinya dalam ilmu pengetahuan, terutama biologi, masyarakat, dan ilmu sosial. Pada saat menjadi insinyur inilah Spencer mulai belajar menulis artikel secara serius. Tulisan pertamanya di bidang sosial dengan <em>judul On the Proper Sphere of Government (1842) <\/em>dimuat di majalah<em>Non Conformist. <\/em>Enam tahun kemudian tulisan yang sama dimuat <em>The Economist, <\/em>majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di London.<\/p>\n<p>Tulisan Spencer mendapat sambutan hagat penggemarnya sehingga mereka rela membayar lebih dulu tulisan-tulisan Spencer sebelum tulisan itu diterbitkan. Kondisi inilah yang mendorong Spencer untuk berpikir alih profesi menjadi ilmu bidang pengetahuan sosial, khususnya sosiologi. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, saat menginjak 28 tahun dia pinndah menjadi wakil editor majalah<em>The Economist<\/em>, berita mingguan yang berbasis di London. Majalah ini merupakan oposisi pemerintah dan pendukung perdagangan bebas. Melalui majalah ini Spencer banyak bertemu dengan orang terkenal pada saat itu, sperti Thomas Huxley dan George Eliot.<\/p>\n<p>Saat usianya memasuki 30 tahun, Spencer telah mampu menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Social Statics. tiga tahun kemudian, pamannya (Thomas Spencer) meninggal dunia dan mewariskan harta cukup banyak kepada Spencer. Berbekal warisan itulah Spencer berani memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencurahkan seluruh kegiatannya untuk menulis. Keberhasilan Spencer menulis banyak buku karena selain gemar membaca, Spencer adalah kolektor yang tekun mengumpulkan fakta-fakta mengenai masyarakat dimanapun di dunia ini, seorang yang rajin mengumpulkan informasi, membuat sistematika atau klasifikasi data. Spencer memang sejak kecil mempunyai hasrat dan keinginan yang besaruntuk menambah dan mengumpulkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan memahami keseluruhannya.<\/p>\n<p>Spencer adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep Survival of The Fittest atau yang kuatlah yang akan menang dalam bukunya Social Staticsyang terbit pada tahun 1850. Konsep ini untuk meggambarkan kekuatan fundamental ilmu biologi yang menjadi dasar perkembangan evolusioner. Konsepsi ini dipengaruhi karya Thomas R. Malthus mengenai tekanan kependudukan, An Essay on The Principle of Population(1798). Isi konsepnya antara lain adalah perjuangan untuk dapat bertahan bagi suatu masyarakat atau bagi beberapa masyarakat agar menghasilkan keseimbangan karena perubahan yang terjadi dari keadaan yang homogen yang tidak terpadu menjadi heterogen yang terpadu.<\/p>\n<p>Sembilan tahun kemudian teori evolusioner karya Darwin terbit. Spencer dan Darwin melihat adanya persamaan antara evolusi organisme dengan evolusi sosial. Evolusi sosial adalah serangkaian perubahan sosial dalam masyarakat yang langsung dalam waktu lama yang berawal dari kelompok suku atau masyarakat yang masih sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi kelompok suku atau masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang kompleks.<\/p>\n<h4>Karya-Karya Herbert Spencer<\/h4>\n<p>Selama hidupnya, Spencer menghasilkan sejumlah karya besar. Sebagian besar pemikiran Spencer tentang sosiologi ditulis dalam 10 buku (dua jilid Biologi, dua jilid psikologi, tiga jilid Sosiologi, dan dua jilid tentang moralitas) yang kemudian dikemas menjadi Programme of a System of Synthetic Philosophy (1862-1896). Paket ini memuat seluruh teori evolusi universal, meliputi evolusi bilogi, psikologi, sosial, dan etika. Karya- karya tersebut mengukuhkan dirinya sebagai penganut filsafat sintesis, yakni ilmu filsafat yang menggabungkan beberapa ilmu pengetahuan menjadi satu. Dari sederet karya tersebut, buku Principles of Sociology merupakan karya monumental Spencer yang mendorong perkembangan Sosiologi sebagai ilmu populer di masyarakat, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski begitu, Spencer kurang mendapat sambutan di negeri sendiri.<\/p>\n<p>Berikut sejumlah karya utama Spencer semaca hidupnya:<br \/>\n1. Social Statics (1850)<br \/>\n2. Principles of Psychologi (1855)<br \/>\n3. Principles of Biology (1861 dan 1864)<br \/>\n4. First Princeples (1862)<br \/>\n5. The Study of Sociology (1873)<br \/>\n6. Descriptive Sociology (1878)<br \/>\n7. The Principles of Sociology (1877)<br \/>\n8. Principles of Ethics (1883)<br \/>\n9. Esai-esai :<br \/>\n&#8211; Education (1861)<br \/>\n&#8211; The Study of Sociology (1873)<br \/>\n&#8211; The Nature and Reality of Religion (1885)<br \/>\n&#8211; Various and Fragments (1897)<br \/>\n&#8211; Facts and Comments (1902)<\/p>\n<p>Bila dicermati, karya-karya Spencer senantiasa mendasarkan konsepsi bahwa seluruh alam, baik yang berwujud organis, nonorganis, maupun superorganis berevolusi karena dorongan kekuatan mutlak yang kemudian disebutnya sebagai evolusi universal. Gambaran menyeluruh tentang evolusi universal umat manusia menunjukkan bahwa pada garis besarnya Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari suatu bangsa di dunia sudah melalui tingkatan evolusi yang sama<\/p>\n","content_text":"Biografi Herbert Spencer\nSpencer lahir di Derbyshire, Midland, Inggris pada 27 April 1820 dan meninggal pada tahun 1903. Dia adalah salah satu anak dari sembilan bersaudara yang bertahan hidup dari pasangan William dan Haerriet Spencer, guru sekolah di Derbyshire. Karena alasan kesehatan, Spencer kecil menjalani pendidikan di rumah. Dia belajar teknik dan bidang utilitarian. Ia adalah seorang filsuf inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik terkemuka. Meskipun kebanyakan karya yang ditulisnya berisi tentang teori politik dan menekankan pada &#8220;keuntungan akan kemurahan hati&#8221;, dia lebih dikenal sebagai bapak darwinisme sosial. Spencer seringkali menganalisis masyarakat sebagai sistem evolusi, ia juga menjelaskan definisi tentang &#8220;hukum rimba&#8221; dalam ilmu sosial. Dia berkontribusi terhadap berbagai macamsubyek,termasuk etnis, metafisika, agama, politik, retorik, biologi dan psikolog\n\nSpencer saat ini dikritik sebagai contoh sempurna untuk skientism atau paham ilmiah, sementara banyak orang yang kagum padanya di saat ia masih hidup.\n\nDalam usia relatif muda, 17 tahun, Spencer muda terjun ke dunia kerja sebagai insinyur sipil di sebuah perusahaan kereta api London dan Birmingham. Karirnya terbilang bagus hingga akhhirnya dia dipercaya menjadi wakil kepala bagian mesin di perusahaan tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya bekerja di perusahaan kereta api, kemudian pindah pekerjaan menjadi redaktur majalah The Economist yang saat itu terkenal. Spencer mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dalam hal mekanik. Hal ini akan ikut serta mewarnai seluruh imajinasinya tentang biologi dan sosial di masa yang akan datang Selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri.\nSpencer memiliki kemampuan sangat baik dalam mekanika. Kemampuan itulah yang mempengaruhi imajinasinya dalam ilmu pengetahuan, terutama biologi, masyarakat, dan ilmu sosial. Pada saat menjadi insinyur inilah Spencer mulai belajar menulis artikel secara serius. Tulisan pertamanya di bidang sosial dengan judul On the Proper Sphere of Government (1842) dimuat di majalahNon Conformist. Enam tahun kemudian tulisan yang sama dimuat The Economist, majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di London.\nTulisan Spencer mendapat sambutan hagat penggemarnya sehingga mereka rela membayar lebih dulu tulisan-tulisan Spencer sebelum tulisan itu diterbitkan. Kondisi inilah yang mendorong Spencer untuk berpikir alih profesi menjadi ilmu bidang pengetahuan sosial, khususnya sosiologi. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, saat menginjak 28 tahun dia pinndah menjadi wakil editor majalahThe Economist, berita mingguan yang berbasis di London. Majalah ini merupakan oposisi pemerintah dan pendukung perdagangan bebas. Melalui majalah ini Spencer banyak bertemu dengan orang terkenal pada saat itu, sperti Thomas Huxley dan George Eliot.\nSaat usianya memasuki 30 tahun, Spencer telah mampu menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Social Statics. tiga tahun kemudian, pamannya (Thomas Spencer) meninggal dunia dan mewariskan harta cukup banyak kepada Spencer. Berbekal warisan itulah Spencer berani memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencurahkan seluruh kegiatannya untuk menulis. Keberhasilan Spencer menulis banyak buku karena selain gemar membaca, Spencer adalah kolektor yang tekun mengumpulkan fakta-fakta mengenai masyarakat dimanapun di dunia ini, seorang yang rajin mengumpulkan informasi, membuat sistematika atau klasifikasi data. Spencer memang sejak kecil mempunyai hasrat dan keinginan yang besaruntuk menambah dan mengumpulkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan memahami keseluruhannya.\nSpencer adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep Survival of The Fittest atau yang kuatlah yang akan menang dalam bukunya Social Staticsyang terbit pada tahun 1850. Konsep ini untuk meggambarkan kekuatan fundamental ilmu biologi yang menjadi dasar perkembangan evolusioner. Konsepsi ini dipengaruhi karya Thomas R. Malthus mengenai tekanan kependudukan, An Essay on The Principle of Population(1798). Isi konsepnya antara lain adalah perjuangan untuk dapat bertahan bagi suatu masyarakat atau bagi beberapa masyarakat agar menghasilkan keseimbangan karena perubahan yang terjadi dari keadaan yang homogen yang tidak terpadu menjadi heterogen yang terpadu.\nSembilan tahun kemudian teori evolusioner karya Darwin terbit. Spencer dan Darwin melihat adanya persamaan antara evolusi organisme dengan evolusi sosial. Evolusi sosial adalah serangkaian perubahan sosial dalam masyarakat yang langsung dalam waktu lama yang berawal dari kelompok suku atau masyarakat yang masih sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi kelompok suku atau masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang kompleks.\nKarya-Karya Herbert Spencer\nSelama hidupnya, Spencer menghasilkan sejumlah karya besar. Sebagian besar pemikiran Spencer tentang sosiologi ditulis dalam 10 buku (dua jilid Biologi, dua jilid psikologi, tiga jilid Sosiologi, dan dua jilid tentang moralitas) yang kemudian dikemas menjadi Programme of a System of Synthetic Philosophy (1862-1896). Paket ini memuat seluruh teori evolusi universal, meliputi evolusi bilogi, psikologi, sosial, dan etika. Karya- karya tersebut mengukuhkan dirinya sebagai penganut filsafat sintesis, yakni ilmu filsafat yang menggabungkan beberapa ilmu pengetahuan menjadi satu. Dari sederet karya tersebut, buku Principles of Sociology merupakan karya monumental Spencer yang mendorong perkembangan Sosiologi sebagai ilmu populer di masyarakat, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski begitu, Spencer kurang mendapat sambutan di negeri sendiri.\nBerikut sejumlah karya utama Spencer semaca hidupnya:\n1. Social Statics (1850)\n2. Principles of Psychologi (1855)\n3. Principles of Biology (1861 dan 1864)\n4. First Princeples (1862)\n5. The Study of Sociology (1873)\n6. Descriptive Sociology (1878)\n7. The Principles of Sociology (1877)\n8. Principles of Ethics (1883)\n9. Esai-esai :\n&#8211; Education (1861)\n&#8211; The Study of Sociology (1873)\n&#8211; The Nature and Reality of Religion (1885)\n&#8211; Various and Fragments (1897)\n&#8211; Facts and Comments (1902)\nBila dicermati, karya-karya Spencer senantiasa mendasarkan konsepsi bahwa seluruh alam, baik yang berwujud organis, nonorganis, maupun superorganis berevolusi karena dorongan kekuatan mutlak yang kemudian disebutnya sebagai evolusi universal. Gambaran menyeluruh tentang evolusi universal umat manusia menunjukkan bahwa pada garis besarnya Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari suatu bangsa di dunia sudah melalui tingkatan evolusi yang sama","date_published":"2023-04-14T15:48:22+07:00","date_modified":"2023-04-12T15:57:44+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Herbert-Spencer-Biografi.jpg","tags":["Herbert Spencer","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/pierre-guillaume-frederic-le-play-ilmuwan-sosiologi-prancis\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/pierre-guillaume-frederic-le-play-ilmuwan-sosiologi-prancis\/","title":"Pierre Guillaume Fr\u00e9d\u00e9ric Le Play, Ilmuwan Sosiologi Prancis","content_html":"<h4><strong>Biografi Pierre Guillaume Frederic Le Play<\/strong><\/h4>\n<p>Fr\u00e9d\u00e9ric Le Play , lengkapnya Pierre-Guillaume-Fr\u00e9d\u00e9ric Le Play , terlahir pada tanggal 11 April 1806, di wilayah La Rivi\u00e8re-Saint-Sauveur , Prancis dan meninggal 5 April 1882, Paris), insinyur pertambangan dan sosiolog Prancis yang mengembangkan teknik untuk penelitian sistematis pada keluarga .<\/p>\n<p>Le Play adalah insinyur kepala dan profesor metalurgi di \u00c9cole des Mines dari tahun 1840 dan inspektur sekolah dari tahun 1848. Dia mengabdikan waktu luangnya untuk penelitian sosiologi sampai sekitar tahun 1855, ketika, dia merasa kecewa dengan kondisi buruh industri dan oleh keadaan revolusi berulang di Perancis , dia menyerah untuk melanjutkan penelitiannya dibidang sosiologi . Selanjutnya dia menjabat sebagai senator dari tahun 1867, tetapi, setelah kekalahan negaranya di Perang Prancis-Jerman tahun 1870\u201371, akhirnya dia meninggalkan politik.<\/p>\n<h4><strong>Metode Penelitian Guillaume Frederic Le Play<\/strong><\/h4>\n<p>Sebagai seorang sosiolog, Le Play menentang gagasan tentang kemajuan evolusioner berkelanjutan masyarakat. Dia memandang keluarga sebagai agen utama stabilitas sosial dan otoritas moral dalam menghadapi industrialisasi dan konflik sosial yang menyertainya, dan dia mengemukakan teori perubahan siklus dalam masyarakat yang terkait dengan naik atau turunnya moral keluarga. Dalam rangka mengumpulkan data untuk teorinya, Le Play mengembangkan apa yang sekarang dikenal sebagai metode studi kasus , Dia berhasil mengenalkan suatu metode tertentu di dalam meneliti dan menganalis gejala-gejala sosial yaitu dengan jalan mengadakan observasi terhadap fakta-fakta sosial dan analisis induktif. Penelitian-penelitiannya terhadap masyarakat menghasilkan dalil bahwa lingkungan geografis menentukan jenis pekerjaan, dan hal ini mempengaruhi organisasi ekonomi, keluarga serta lembaga-lembaga lainnya. Keluarga merupakan objek utama dalam penyelidikan. Dia berkeyakinan bahwa anggaran belanja suatu keluarga merupakan ukuran kuantitatif bagi kehidupan keluarga sekaligus menunjukkan kepentingan keluarga tersebut. Akhirnya dikatakan bahwa organisasi sosial keluarga sepenuhnya terikat pada anggaran keluarga tersebut. Perkembangan statistika pengambilan sampel , dasar metodologi survei sosial , dipengaruhi oleh metode pengumpulan data Le Play yang ia peroleh melalui penelitian lapangan.<\/p>\n<h4><strong>Hasil Karya Pierre Guillaume Frederic Le Play<\/strong><\/h4>\n<p>Le Play menerbitkan temuannya tentang keluarga dan masyarakat dalam studi enam jilid Les Ouvriers europ\u00e9ens (1855; \u201cPekerja Eropa\u201d), dalam La R\u00e9forme sociale en France, 2 vol. (1864; \u201cReformasi Sosial di Prancis\u201d), dan dalam L&#8217;Organisation du travail (1870; \u201cOrganisasi Buruh\u201d).<\/p>\n","content_text":"Biografi Pierre Guillaume Frederic Le Play\nFr\u00e9d\u00e9ric Le Play , lengkapnya Pierre-Guillaume-Fr\u00e9d\u00e9ric Le Play , terlahir pada tanggal 11 April 1806, di wilayah La Rivi\u00e8re-Saint-Sauveur , Prancis dan meninggal 5 April 1882, Paris), insinyur pertambangan dan sosiolog Prancis yang mengembangkan teknik untuk penelitian sistematis pada keluarga .\nLe Play adalah insinyur kepala dan profesor metalurgi di \u00c9cole des Mines dari tahun 1840 dan inspektur sekolah dari tahun 1848. Dia mengabdikan waktu luangnya untuk penelitian sosiologi sampai sekitar tahun 1855, ketika, dia merasa kecewa dengan kondisi buruh industri dan oleh keadaan revolusi berulang di Perancis , dia menyerah untuk melanjutkan penelitiannya dibidang sosiologi . Selanjutnya dia menjabat sebagai senator dari tahun 1867, tetapi, setelah kekalahan negaranya di Perang Prancis-Jerman tahun 1870\u201371, akhirnya dia meninggalkan politik.\nMetode Penelitian Guillaume Frederic Le Play\nSebagai seorang sosiolog, Le Play menentang gagasan tentang kemajuan evolusioner berkelanjutan masyarakat. Dia memandang keluarga sebagai agen utama stabilitas sosial dan otoritas moral dalam menghadapi industrialisasi dan konflik sosial yang menyertainya, dan dia mengemukakan teori perubahan siklus dalam masyarakat yang terkait dengan naik atau turunnya moral keluarga. Dalam rangka mengumpulkan data untuk teorinya, Le Play mengembangkan apa yang sekarang dikenal sebagai metode studi kasus , Dia berhasil mengenalkan suatu metode tertentu di dalam meneliti dan menganalis gejala-gejala sosial yaitu dengan jalan mengadakan observasi terhadap fakta-fakta sosial dan analisis induktif. Penelitian-penelitiannya terhadap masyarakat menghasilkan dalil bahwa lingkungan geografis menentukan jenis pekerjaan, dan hal ini mempengaruhi organisasi ekonomi, keluarga serta lembaga-lembaga lainnya. Keluarga merupakan objek utama dalam penyelidikan. Dia berkeyakinan bahwa anggaran belanja suatu keluarga merupakan ukuran kuantitatif bagi kehidupan keluarga sekaligus menunjukkan kepentingan keluarga tersebut. Akhirnya dikatakan bahwa organisasi sosial keluarga sepenuhnya terikat pada anggaran keluarga tersebut. Perkembangan statistika pengambilan sampel , dasar metodologi survei sosial , dipengaruhi oleh metode pengumpulan data Le Play yang ia peroleh melalui penelitian lapangan.\nHasil Karya Pierre Guillaume Frederic Le Play\nLe Play menerbitkan temuannya tentang keluarga dan masyarakat dalam studi enam jilid Les Ouvriers europ\u00e9ens (1855; \u201cPekerja Eropa\u201d), dalam La R\u00e9forme sociale en France, 2 vol. (1864; \u201cReformasi Sosial di Prancis\u201d), dan dalam L&#8217;Organisation du travail (1870; \u201cOrganisasi Buruh\u201d).","date_published":"2023-04-13T11:04:32+07:00","date_modified":"2023-04-12T11:15:44+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Frederic_Le_Play.jpg","tags":["Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/ibnu-khaldun-sejarawan-dan-bapak-sosiologi-islam\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/ibnu-khaldun-sejarawan-dan-bapak-sosiologi-islam\/","title":"Ibnu Khaldun, Sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam","content_html":"<p>Selain Abu Dzar Alghifari Radiyallahu Anhu, Ibnu Khaldun juga dianggap banyak ilmuwan zaman sekarang sebagai bapak sosiologi islam. Sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam ini berasal dari Tunisia. Ia keturunan dari Yaman dengan nama lengkapnya Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin Al Hasan. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun. Nama popular ini berasal dari nama keluarga besarnya, Bani Khaldun.<\/p>\n<p>Ia lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332. di tanah kelahirannya itu, ia mempelajari berbagai macam ilmu, seperti Syariat (Tafsir, Hadist, Tauhid, Fikih), Fisika dan Matematika. Sejak kecil, ia sudah hafal Al Quran. Saat itu, Tunisia menjadi pusat perkembangan ilmu di Afrika Utara.<\/p>\n<p>Karya-karya besar yang lahir ditangannya, yaitu sebuah kitab yang sering disebut Al \u2018Ilbar (Sejarah Umum), terbitan Kairo tahun 1284. Kitab ini terdiri atas 7 jilid berisi kajian Sejarah, yang didahului oleh <em>Muqaddimah <\/em>(jilid 1), yang berisi tentang pembahasan masalah-masalah sosial manusia.<\/p>\n<p><em>Muqaddimah <\/em>(yang sebenarnya merupakan pembuka kitab tersebut) popularitasnya melebihi kitab itu sendiri. <em>Muqaddimah <\/em>membuka jalan menuju perubahan ilmu-ilmu sosial. Menurut pendapatnya, politik tak bisa dipisahkan dari kebudayaan dan masyarakat dibedakan atas masyarakat kota dan desa. Dalam <em>Muqaddimah <\/em>ini pula Ibnu Khaldun menampakkan diri sebagai ahli Sosiologi dan Sejarah. Teori pokoknya dalam Sosiologi Umum dan Politik adalah konsep <em>ashabiyah <\/em>(solidaritas sosial). Asal-usul solidaritas ini adalah ikatan darah yang disertai kedekatan hidup bersama. Hidup bersama juga dapat mewujudkan solidaritas yang sama kuat dengan ikatan darah. Menurutnya, solidaritas sosial itu sangat kuat terlihat pada masyarakat pengembara, karena corak kehidupan mereka yang unik dan kebutuhan mereka untuk saling Bantu. Relevansi teori ini misalnya dapat ditemukan pada teori-teori tentang konsiliasi kelompok-kelompok sosial dalam menyelesaikan konflik tantangan tertentu. Relevansi teori Khaldun, misalnya juga dapat ditemukan dalam teori Ernest Renan tentang kelahiran bangsa. Tantangan yang dihadapi masyarakat pengembara dalam teori Khaldun tampaknya, meski tidak semua, pararel dengan \u201ckesamaan sejarah\u201d embrio bangsa dalam teori Ernest Renan. Kebutuhan untuk saling Bantu mengatasi tantangan ini juga memiliki relevansi dalam kajian-kajian psikologi sosial terutama berkenaan dengan kebutuhan untuk mengikatkan diri dengan orang lain atau kelompok sosial yang lazim disebut afiliasi.<\/p>\n<p>Karya Ibnu Kholdul yang lain adalah Kitab al-\u2018Ibar, wa Diwan al-Mubtada\u2019 wa al- Khabar, fi Ayyam al-\u2018Arab wa al-\u2018Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-\u2018Akbar. (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang- orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab \u2018Ibar, yang terdiri dari tiga buku: Buku pertama, adalah sebagai kitab Muqaddimah, atau jilid pertama yang berisi tentang: Masyarakat dan ciri-cirinya yang hakiki, yaitu pemerintahan, kekuasaan, pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan dengan segala sebab dan alasan-alasannya. Buku kedua terdiri dari empat jilid, yaitu jilid kedua, ketiga, keempat, dan kelima, yang menguraikan tentang sejarah bangsa Arab, generasi-generasi mereka serta dinasti-dinasti mereka. Di samping itu juga mengandung ulasan tentang bangsa-bangsa terkenal dan negara yang sezaman dengan mereka, seperti bangsa Syiria, Persia, Yahudi (Israel), Yunani, Romawi, Turki dan Franka (orang-orang Eropa). Kemudian Buku Ketiga terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujuh, yang berisi tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara- negara Maghribi (Afrika Utara).<\/p>\n","content_text":"Selain Abu Dzar Alghifari Radiyallahu Anhu, Ibnu Khaldun juga dianggap banyak ilmuwan zaman sekarang sebagai bapak sosiologi islam. Sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam ini berasal dari Tunisia. Ia keturunan dari Yaman dengan nama lengkapnya Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin Al Hasan. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun. Nama popular ini berasal dari nama keluarga besarnya, Bani Khaldun.\nIa lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332. di tanah kelahirannya itu, ia mempelajari berbagai macam ilmu, seperti Syariat (Tafsir, Hadist, Tauhid, Fikih), Fisika dan Matematika. Sejak kecil, ia sudah hafal Al Quran. Saat itu, Tunisia menjadi pusat perkembangan ilmu di Afrika Utara.\nKarya-karya besar yang lahir ditangannya, yaitu sebuah kitab yang sering disebut Al \u2018Ilbar (Sejarah Umum), terbitan Kairo tahun 1284. Kitab ini terdiri atas 7 jilid berisi kajian Sejarah, yang didahului oleh Muqaddimah (jilid 1), yang berisi tentang pembahasan masalah-masalah sosial manusia.\nMuqaddimah (yang sebenarnya merupakan pembuka kitab tersebut) popularitasnya melebihi kitab itu sendiri. Muqaddimah membuka jalan menuju perubahan ilmu-ilmu sosial. Menurut pendapatnya, politik tak bisa dipisahkan dari kebudayaan dan masyarakat dibedakan atas masyarakat kota dan desa. Dalam Muqaddimah ini pula Ibnu Khaldun menampakkan diri sebagai ahli Sosiologi dan Sejarah. Teori pokoknya dalam Sosiologi Umum dan Politik adalah konsep ashabiyah (solidaritas sosial). Asal-usul solidaritas ini adalah ikatan darah yang disertai kedekatan hidup bersama. Hidup bersama juga dapat mewujudkan solidaritas yang sama kuat dengan ikatan darah. Menurutnya, solidaritas sosial itu sangat kuat terlihat pada masyarakat pengembara, karena corak kehidupan mereka yang unik dan kebutuhan mereka untuk saling Bantu. Relevansi teori ini misalnya dapat ditemukan pada teori-teori tentang konsiliasi kelompok-kelompok sosial dalam menyelesaikan konflik tantangan tertentu. Relevansi teori Khaldun, misalnya juga dapat ditemukan dalam teori Ernest Renan tentang kelahiran bangsa. Tantangan yang dihadapi masyarakat pengembara dalam teori Khaldun tampaknya, meski tidak semua, pararel dengan \u201ckesamaan sejarah\u201d embrio bangsa dalam teori Ernest Renan. Kebutuhan untuk saling Bantu mengatasi tantangan ini juga memiliki relevansi dalam kajian-kajian psikologi sosial terutama berkenaan dengan kebutuhan untuk mengikatkan diri dengan orang lain atau kelompok sosial yang lazim disebut afiliasi.\nKarya Ibnu Kholdul yang lain adalah Kitab al-\u2018Ibar, wa Diwan al-Mubtada\u2019 wa al- Khabar, fi Ayyam al-\u2018Arab wa al-\u2018Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-\u2018Akbar. (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang- orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab \u2018Ibar, yang terdiri dari tiga buku: Buku pertama, adalah sebagai kitab Muqaddimah, atau jilid pertama yang berisi tentang: Masyarakat dan ciri-cirinya yang hakiki, yaitu pemerintahan, kekuasaan, pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan dengan segala sebab dan alasan-alasannya. Buku kedua terdiri dari empat jilid, yaitu jilid kedua, ketiga, keempat, dan kelima, yang menguraikan tentang sejarah bangsa Arab, generasi-generasi mereka serta dinasti-dinasti mereka. Di samping itu juga mengandung ulasan tentang bangsa-bangsa terkenal dan negara yang sezaman dengan mereka, seperti bangsa Syiria, Persia, Yahudi (Israel), Yunani, Romawi, Turki dan Franka (orang-orang Eropa). Kemudian Buku Ketiga terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujuh, yang berisi tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara- negara Maghribi (Afrika Utara).","date_published":"2023-04-12T08:37:10+07:00","date_modified":"2023-04-10T08:46:29+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Ibnu-Khaldun-Sejarawan-dan-Bapak-Sosiologi-Islam-sosiopedia.jpg","tags":["Ibnu Khaldun","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/kritik-anthony-giddens-terhadap-teori-teori-sosiologi-terdahulu\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/kritik-anthony-giddens-terhadap-teori-teori-sosiologi-terdahulu\/","title":"Kritik Anthony Giddens Terhadap Teori-teori Sosiologi Terdahulu","content_html":"<p>Sebelum Giddens memaparkan pemikirannya tentang masyarakat, ia terlebih dahulu mengkritik sejumlah teori sosiologi yang cukup populer pada saat itu. Adapun teori-teori yang ia kritik meliputi teori berikut.<\/p>\n<p><strong><em>1. Kritik terhadap Teori Fungsional Talcott Parsons<\/em><\/strong><br \/>\nMenurut Parsons, setiap masyarakat harus mempunyai empat prasyarat fungsional agar masyarakat tersebut dapat menjalankan peran sosialnya di masyarakat. Adapun keempat konsep fungsional di masyarakat menurut Parsons dikenal dengan istilah \u201c<em>AGIL<\/em>\u201d. Huruf \u201c<em>A<\/em>\u201d mewakili \u201c<em>adaptation<\/em>\u201d (proses adaptasi). Huruf \u201c<em>G<\/em>\u201d mewakili konsep \u201c<em>goal attainment<\/em>\u201d (tujuan yang hendak dicapai). Huruf \u201c<em>I<\/em>\u201d mewakili konsep \u201c<em>integration<\/em>\u201d (proses integrasi masyarakat). Sedangkan huruf \u201c<em>L<\/em>\u201d mewakili konsep \u201c<em>latent<\/em>\u201d (fungsi laten\/tersembunyi). Akan tetapi, Giddens dengan tegas menolak segala konsep yang berkaitan dengan fungsional masyarakat. Setidaknya, terdapat tiga hal yang membuat konsep fungsional tidak tepat menggambarkan kondisi masyarakat menurut Giddens.\u00a0<em>Pertama<\/em>, fungsionalisme mengibaratkan manusia seperti sebuah \u201crobot\u201d yang jalan hidupnya sudah ditentukan sedemkian rupa. Padahal, segala tindakan manusia juga ditentukan dari internal manusia tersebut.\u00a0<em>Kedua<\/em>, fungsionalisme merupakan suatu konsep cara berpikir yang menyatakan bahwa sistem sosial mempunyai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Padahal menurut Giddens, yang mempunyai kebutuhan adalah para pelaku (individu).\u00a0<em>Ketiga<\/em>, fungsionalisme tidak memperhatikan dimensi waktu dan ruang dalam menganalisis gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Padahal, waktu dan ruang merupakan satu-kesatuan yang juga memengaruhi gejala sosial yang ada.<\/p>\n<p><strong><em>2. Kritik terhadap Teori Strukturalisme<\/em><\/strong><br \/>\nKonsep kunci yang hendak dikembangkan dalam teori strukturalisme yaitu adanya perbedaan istilah antara \u201cbahasa (<em>langue<\/em>)\u201d dan \u201cujaran\/percakapan (<em>parole<\/em>)\u201d. Istilah\u00a0<em>langue\u00a0<\/em>lebih luas daripada\u00a0<em>parole<\/em>. Dengan kata lain\u00b8\u00a0<em>langue\u00a0<\/em>menjadi kunci otonom untuk memahami arti dari\u00a0<em>parole<\/em>\u00a0sebagai \u201ckode tersembunyi\u201d yang muncul dalam masyarakat. Kode tersembunyi itulah yang disebut sebagai struktur. Akan tetapi, Giddens melihat adanya gejala penyingkiran subjek dalam menganalisis secara strukturalisme. Menurut Giddens, subjek berperan penting dalam pembentukan struktur sosial yang berkembang di masyarakat.<\/p>\n<p><strong><em>3. Dualitas dalam Strukturasi<\/em><\/strong><br \/>\nBerdasarkan kritikan terhadap beberapa teori sosiologi, setidaknya Giddens menemukan dua tema sentral pemikirannya, yaitu hubungan antara struktur dan pelaku, serta sentralitas ruang dan waktu. Berikut ini akan dijelaskan dua tema pemikiran Giddens mengenai konsep dualitas dalam sosiologi.\u00a0<em>Pertama<\/em>, hubungan antara struktur dan pelaku. Giddens mendefinisikan pelaku sebagai manusia-manusia konkret dalam arus berkelanjutan dalam tindakan dan peristiwa yang terjadi di dunia. Sementara itu, struktur diartikan sebagai suatu seperangkat aturan dan sumber daya yang membentuk perulangan praktik sosial. Berdasarkan hubungan kedua unsur tersebut, Giddens kemudian merumuskan suatu teori yang kemudian dikenal sebagai\u00a0<strong>teori strukturasi<\/strong>. Adapun pembahasan teori strukturasi akan dibahas pada bagian selanjutnya.\u00a0<em>Kedua<\/em>, sentralitas ruang dan waktu. Konsep waktu dan ruang menurut Giddens diartikan sebagai suatu unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat. Mengingat pentingnya kedua unsur tersebut, maka unsur ruang dan waktu diperlukan sebagai bentuk integrasi di dalam teori ilmu-ilmu sosial manapun.<\/p>\n","content_text":"Sebelum Giddens memaparkan pemikirannya tentang masyarakat, ia terlebih dahulu mengkritik sejumlah teori sosiologi yang cukup populer pada saat itu. Adapun teori-teori yang ia kritik meliputi teori berikut.\n1. Kritik terhadap Teori Fungsional Talcott Parsons\nMenurut Parsons, setiap masyarakat harus mempunyai empat prasyarat fungsional agar masyarakat tersebut dapat menjalankan peran sosialnya di masyarakat. Adapun keempat konsep fungsional di masyarakat menurut Parsons dikenal dengan istilah \u201cAGIL\u201d. Huruf \u201cA\u201d mewakili \u201cadaptation\u201d (proses adaptasi). Huruf \u201cG\u201d mewakili konsep \u201cgoal attainment\u201d (tujuan yang hendak dicapai). Huruf \u201cI\u201d mewakili konsep \u201cintegration\u201d (proses integrasi masyarakat). Sedangkan huruf \u201cL\u201d mewakili konsep \u201clatent\u201d (fungsi laten\/tersembunyi). Akan tetapi, Giddens dengan tegas menolak segala konsep yang berkaitan dengan fungsional masyarakat. Setidaknya, terdapat tiga hal yang membuat konsep fungsional tidak tepat menggambarkan kondisi masyarakat menurut Giddens.\u00a0Pertama, fungsionalisme mengibaratkan manusia seperti sebuah \u201crobot\u201d yang jalan hidupnya sudah ditentukan sedemkian rupa. Padahal, segala tindakan manusia juga ditentukan dari internal manusia tersebut.\u00a0Kedua, fungsionalisme merupakan suatu konsep cara berpikir yang menyatakan bahwa sistem sosial mempunyai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Padahal menurut Giddens, yang mempunyai kebutuhan adalah para pelaku (individu).\u00a0Ketiga, fungsionalisme tidak memperhatikan dimensi waktu dan ruang dalam menganalisis gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Padahal, waktu dan ruang merupakan satu-kesatuan yang juga memengaruhi gejala sosial yang ada.\n2. Kritik terhadap Teori Strukturalisme\nKonsep kunci yang hendak dikembangkan dalam teori strukturalisme yaitu adanya perbedaan istilah antara \u201cbahasa (langue)\u201d dan \u201cujaran\/percakapan (parole)\u201d. Istilah\u00a0langue\u00a0lebih luas daripada\u00a0parole. Dengan kata lain\u00b8\u00a0langue\u00a0menjadi kunci otonom untuk memahami arti dari\u00a0parole\u00a0sebagai \u201ckode tersembunyi\u201d yang muncul dalam masyarakat. Kode tersembunyi itulah yang disebut sebagai struktur. Akan tetapi, Giddens melihat adanya gejala penyingkiran subjek dalam menganalisis secara strukturalisme. Menurut Giddens, subjek berperan penting dalam pembentukan struktur sosial yang berkembang di masyarakat.\n3. Dualitas dalam Strukturasi\nBerdasarkan kritikan terhadap beberapa teori sosiologi, setidaknya Giddens menemukan dua tema sentral pemikirannya, yaitu hubungan antara struktur dan pelaku, serta sentralitas ruang dan waktu. Berikut ini akan dijelaskan dua tema pemikiran Giddens mengenai konsep dualitas dalam sosiologi.\u00a0Pertama, hubungan antara struktur dan pelaku. Giddens mendefinisikan pelaku sebagai manusia-manusia konkret dalam arus berkelanjutan dalam tindakan dan peristiwa yang terjadi di dunia. Sementara itu, struktur diartikan sebagai suatu seperangkat aturan dan sumber daya yang membentuk perulangan praktik sosial. Berdasarkan hubungan kedua unsur tersebut, Giddens kemudian merumuskan suatu teori yang kemudian dikenal sebagai\u00a0teori strukturasi. Adapun pembahasan teori strukturasi akan dibahas pada bagian selanjutnya.\u00a0Kedua, sentralitas ruang dan waktu. Konsep waktu dan ruang menurut Giddens diartikan sebagai suatu unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat. Mengingat pentingnya kedua unsur tersebut, maka unsur ruang dan waktu diperlukan sebagai bentuk integrasi di dalam teori ilmu-ilmu sosial manapun.","date_published":"2023-04-11T20:46:15+07:00","date_modified":"2023-04-09T20:49:18+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/1845962.jpg","tags":["Anthony Giddens","Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/biografi-abu-dzar-alghifari-bapak-sosiologi-islam\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/biografi-abu-dzar-alghifari-bapak-sosiologi-islam\/","title":"Biografi Abu Dzar Alghifari, Bapak Sosiologi Islam","content_html":"<h4>Biografi Abu Dzar Alghifari<\/h4>\n<p>Abu Dzar berasal dari Suku Ghiffar yang tinggal di daerah yang dilalui oleh kafilah-kafilah dagang, Tanggal Kelahiran Abu Dzar Al-Ghifari tidak diketahui ahli sejarah dan beliau terlahir dengan nama Jundub, Abu Dzar Al-Ghifari wafat di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah pada 8 Dzulhijjah 34 hijriyah.<\/p>\n<p>Abu Dzar termasuk sahabat nabi, karena ia masuk islam ketika nabi masih hidup. Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan keislamannya. Abu Dzar Al Ghifari berasal dari suku Ghifar.<\/p>\n<p>Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi\u2019at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi\u2019at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.<\/p>\n<p>Abu Dzar sebelum memeluk Islam, beliau dulu adalah seorang perampok yang mewarisi karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melaui jalur itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk mendapatkan harta dengan cara mudah. Hidupnya penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Siapa pun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekkah-Syiria dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.<\/p>\n<p>Namun begitu, hati kecil Abu Dzar sesungguhnya tak menerimanya. Pergolakan batin membuatnya sangat menyesali perbuatan buruk tersebut. Akhirnya ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Tindakannya itu menimbulkan amarah sukunya. Abu Dzar akhirnya hijrah ke Nejed bersama ibu dan saudara laki-lakinya, Anis, dan menetap di kediaman pamannya.<\/p>\n<p>Di tempat ini pun ia tidak lama. Ide-idenya yang revolusioner berkait dengan sikap hidup tak mengabaikan sesama dan mendistribusikan sebagian harta yang dimiliki, menimbulkan kebencian orang-orang sesuku. Ia pun diadukan kepada pamannya. Kembali Abu Dzar hijrah ke kampung dekat Mekkah.<\/p>\n<p>Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Berita ini membuat penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya, Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab.<\/p>\n<p>Setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Unais menjelaskan bahwa ia telah menemui seseorang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan jelek. Orang tersebut adalah yang benar ucapannya.<\/p>\n<p>Abu dzar semakin penasaran sehingga iapun pergi ke mekah, saat itu ia bertemu dengan Ali bin Abi Thalib, kemudian Ali bin Abi Thalib mengajaknya pergi menemui rasulullah.<\/p>\n<p>Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam berwasiat kepadanya : \u201cWahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami\u201d.<\/p>\n<p>Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam: \u201cDemi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam\u201d. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.<\/p>\n<p>Setelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling Mekkah untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia dipukuli oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia dibebaskan dari suku Quraisy, setalah suku Quraisy mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar.<\/p>\n<h4>Dianggap sebagai Bapak Sosiolog Islam<\/h4>\n<p>Meski tak sepopuler sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, namun sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat menerapkan prinsip egaliter, kesetaraan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah. Ditentangnya semua orang yang cenderung memupuk harta untuk kepentingan pribadi, termasuk sahabat-sahabatnya sendiri.<\/p>\n<p>Di masa Khalifah Utsman, pendapat kerasnya tentang gejala nepotisme dan penumpukan harta yang terjadi di kalangan Quraisy membuat ia dikecam banyak pihak. Sikap serupa ia tunjukkan kepada pemerintahan Muawiyah yang menjadi gubernur Syiria. Baginya, adalah kewajiban setiap muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.<\/p>\n<p>Kepada Muawiyah yang membangun istana hijaunya atau Istana Al Khizra, abu Dzar menegur, \u201cKalau Anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri berarti Anda telah berlaku boros,\u201d katanya. Muawiyah hanya terdiam mendengar teguran sahabatnya ini.<\/p>\n<p>Dukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut. Sikap wara\u2019 dan zuhud selalu jadi perilaku hidupnya. Sikapnya inilah yang dipuji Rasulullah . Saat Rasul akan berpulang, Abu Dzar dipanggilnya. Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi berkata \u201cAbu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya. Dia tidak akan berubah walaupun aku meninggal nanti.\u201d Ucapan Nabi ternyata benar. Hingga akhir hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat shaleh.<\/p>\n<p>Sebelum masuk Islam dia adalah pemuka kelompok Ghifari. Dia seorang penganut ideologi yang bersedia untuk mati demi tegaknya kebenaran. Baginya kebenaran adalah mengatakan sesuatu yang hak dengan terus terang dan menentang yang batil. Dia adalah tokoh pembela kaum mustad\u2019afin atau kaum yang tertindas, seorang Muslim yang komited, tegar, revolusioner, yang menyampaikan pesan persamaan, persaudaraan, keadilan, dan pembebasan.<\/p>\n<p>Dia melakukan demonstrasi-demonstrasi dan tunjuk perasaan menentang kedzaliman penguasa. Dia menyampaikan kontrol sosial, meminta kepada orang yang berkuasa untuk berlaku adil terhadap rakyat miskin yang telah kehilangan hak-haknya. Dia juga mendorong masyarakat untuk merebut hak mereka dan memberantas kemiskinan yang mendekatkan diri kepada kekufuran. Sehingga dia dianggap sebagai bapak pencetus kontrol social di kalangan umat islam pada zaman itu, dan kisah &#8211; kisahnya menjadi rujukan ulama dan ilmuwan pada zaman &#8211; zaman sesudahnya tentang permasalahan social.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<ol>\n<li><a href=\"https:\/\/biografi-tokoh-ternama.blogspot.com\/2014\/07\/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahuanhu.html\">biografi-tokoh-ternama.blogspot.com<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.laduni.id\/post\/read\/80986\/biografi-sahabat-abu-dzar-al-ghifari#Riwayat\">www.laduni.id<\/a><\/li>\n<\/ol>\n","content_text":"Biografi Abu Dzar Alghifari\nAbu Dzar berasal dari Suku Ghiffar yang tinggal di daerah yang dilalui oleh kafilah-kafilah dagang, Tanggal Kelahiran Abu Dzar Al-Ghifari tidak diketahui ahli sejarah dan beliau terlahir dengan nama Jundub, Abu Dzar Al-Ghifari wafat di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah pada 8 Dzulhijjah 34 hijriyah.\nAbu Dzar termasuk sahabat nabi, karena ia masuk islam ketika nabi masih hidup. Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan keislamannya. Abu Dzar Al Ghifari berasal dari suku Ghifar.\nBani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi\u2019at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi\u2019at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.\nAbu Dzar sebelum memeluk Islam, beliau dulu adalah seorang perampok yang mewarisi karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melaui jalur itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk mendapatkan harta dengan cara mudah. Hidupnya penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Siapa pun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekkah-Syiria dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.\nNamun begitu, hati kecil Abu Dzar sesungguhnya tak menerimanya. Pergolakan batin membuatnya sangat menyesali perbuatan buruk tersebut. Akhirnya ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Tindakannya itu menimbulkan amarah sukunya. Abu Dzar akhirnya hijrah ke Nejed bersama ibu dan saudara laki-lakinya, Anis, dan menetap di kediaman pamannya.\nDi tempat ini pun ia tidak lama. Ide-idenya yang revolusioner berkait dengan sikap hidup tak mengabaikan sesama dan mendistribusikan sebagian harta yang dimiliki, menimbulkan kebencian orang-orang sesuku. Ia pun diadukan kepada pamannya. Kembali Abu Dzar hijrah ke kampung dekat Mekkah.\nNama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Berita ini membuat penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya, Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab.\nSetelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Unais menjelaskan bahwa ia telah menemui seseorang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan jelek. Orang tersebut adalah yang benar ucapannya.\nAbu dzar semakin penasaran sehingga iapun pergi ke mekah, saat itu ia bertemu dengan Ali bin Abi Thalib, kemudian Ali bin Abi Thalib mengajaknya pergi menemui rasulullah.\nInilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam berwasiat kepadanya : \u201cWahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami\u201d.\nMendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam: \u201cDemi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam\u201d. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.\nSetelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling Mekkah untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia dipukuli oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia dibebaskan dari suku Quraisy, setalah suku Quraisy mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar.\nDianggap sebagai Bapak Sosiolog Islam\nMeski tak sepopuler sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, namun sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat menerapkan prinsip egaliter, kesetaraan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah. Ditentangnya semua orang yang cenderung memupuk harta untuk kepentingan pribadi, termasuk sahabat-sahabatnya sendiri.\nDi masa Khalifah Utsman, pendapat kerasnya tentang gejala nepotisme dan penumpukan harta yang terjadi di kalangan Quraisy membuat ia dikecam banyak pihak. Sikap serupa ia tunjukkan kepada pemerintahan Muawiyah yang menjadi gubernur Syiria. Baginya, adalah kewajiban setiap muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.\nKepada Muawiyah yang membangun istana hijaunya atau Istana Al Khizra, abu Dzar menegur, \u201cKalau Anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri berarti Anda telah berlaku boros,\u201d katanya. Muawiyah hanya terdiam mendengar teguran sahabatnya ini.\nDukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut. Sikap wara\u2019 dan zuhud selalu jadi perilaku hidupnya. Sikapnya inilah yang dipuji Rasulullah . Saat Rasul akan berpulang, Abu Dzar dipanggilnya. Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi berkata \u201cAbu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya. Dia tidak akan berubah walaupun aku meninggal nanti.\u201d Ucapan Nabi ternyata benar. Hingga akhir hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat shaleh.\nSebelum masuk Islam dia adalah pemuka kelompok Ghifari. Dia seorang penganut ideologi yang bersedia untuk mati demi tegaknya kebenaran. Baginya kebenaran adalah mengatakan sesuatu yang hak dengan terus terang dan menentang yang batil. Dia adalah tokoh pembela kaum mustad\u2019afin atau kaum yang tertindas, seorang Muslim yang komited, tegar, revolusioner, yang menyampaikan pesan persamaan, persaudaraan, keadilan, dan pembebasan.\nDia melakukan demonstrasi-demonstrasi dan tunjuk perasaan menentang kedzaliman penguasa. Dia menyampaikan kontrol sosial, meminta kepada orang yang berkuasa untuk berlaku adil terhadap rakyat miskin yang telah kehilangan hak-haknya. Dia juga mendorong masyarakat untuk merebut hak mereka dan memberantas kemiskinan yang mendekatkan diri kepada kekufuran. Sehingga dia dianggap sebagai bapak pencetus kontrol social di kalangan umat islam pada zaman itu, dan kisah &#8211; kisahnya menjadi rujukan ulama dan ilmuwan pada zaman &#8211; zaman sesudahnya tentang permasalahan social.\n&nbsp;\nSumber:\n\nbiografi-tokoh-ternama.blogspot.com\nwww.laduni.id","date_published":"2023-04-11T08:07:29+07:00","date_modified":"2023-04-10T08:35:55+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/8973086.jpg","tags":["abu dzar alghiffari","Tokoh"]}]}