{"version":"https:\/\/jsonfeed.org\/version\/1","user_comment":"This feed allows you to read the posts from this site in any feed reader that supports the JSON Feed format. To add this feed to your reader, copy the following URL -- https:\/\/sosiopedia.com\/category\/berita\/feed\/json\/ -- and add it your reader.","home_page_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/category\/berita\/","feed_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/category\/berita\/feed\/json\/","title":"sosiopedia.com","description":"Portal pengetahuan untuk psikologi dan sosiologi Indonesia","icon":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/cropped-ICON.png","items":[{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/kegunaan-dan-peran-sosiologi-bagi-masyarakat-indonesia\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/kegunaan-dan-peran-sosiologi-bagi-masyarakat-indonesia\/","title":"Kegunaan dan Peran Sosiologi Bagi Masyarakat Indonesia","content_html":"<p>Mungkin kita bagi masyarakat umum ataupun bagi pelajar pun pasti ada yang masih bingung, setelah lulus dari kuliah jurusan sosiologi itu nanti kerjanya kemana ya, soalnya secara zohir memang kita jarang bahkan ada yang belum menemukan seorang sosiolog yang tampil dimasyarakat ataupun di institusi pemerintah maupun di perusahaan, karena saking jarangnya ditemui individu sosiolog yang tampil mencolok inilah, banyak menganggap kalau lulusan sosiologi ini akan berakhir menjadi pekerja yang tidak linier dengan jurusannya. Banyak yang jadi sales, guru honorer, ataupun profesi &#8211; profesi lainnya yang tidak berhubungan dengan sosiologi,<\/p>\n<p>Tidak dipungkiri redaksi diatas memang tidak sepenuhnya salah, tapi memang alumnus sosiologi jarang terlihat tapi mereka ini selalu dibutuhkan oleh banyak institusi maupun perusahaan lo, tidak percaya, salah satunya proyek IKN pemerintah yang ingin memindahkan ibukota dari DKI Jakarta ke salah satu daerah di kalimantan, selain hasil analisa dampak lingkungan, ekonomi, sosiologi juga berperan secara penting untuk dijadikan rujukan sebagai salah satu sumber pendapat yang harus di telaah dan dijadikan patokan agar proyek ini sukses, nah itu salah satu peran sosiologi yang mungkin bisa kita lihat. Tetapi memang peran sosiologi ini terkesan tidak terlihat tapi akan selalu dirasakan, yang bisa di istilahkan sebagai pekerjaan underground (tidak terlihat tapi tetap sangat dibutuhkan).<\/p>\n<h4>2 kegunaan sosiolog pada masyarakat<\/h4>\n<p>Pada kenyataannya banyak sosiolog yang dipekerjakan dalam instansi-instansi negara maupun menjadi konsultan berbagai perencanaan pembangunan. Dalam hal ini tentunya peran sosiolog sangat dibutuhkan terutama yang berkaitan dengan penelitian,<br \/>\npengolahan data dan perencanaaan kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Kegunaan sosiologi bagi masyarakat adalah :<\/p>\n<h5>Untuk Pembangunan<\/h5>\n<p>Sosiologi berguna untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perenca-naan pelaksanaan maupun penilaian pembangunan. Pada tahap perencanaan, yang harus diperhatikan adalah apa yang menjadi kebutuhan sosial. Pada tahap pelaksanaan yang harus dilihat adalah kekuatan sosial dalam masyarakat serta proses perubahan sosialnya. Dan pada tahap penilaian yang harus dilakukan adalah analisis terhadap efek atau dampak sosial pembangunan tersebut.<\/p>\n<h5>Untuk Penelitian<\/h5>\n<p>Dengan penelitian dan penyelidikan sosiologis, akan diperoleh suatu perencanaan a-tau pemecahan masalah sosial yang baik. Di negara yang sedang membangun, peran sosiolog sangat dibutuhkan. Berdasarkan hasil penelitian sosiologis, para pengambil-an keputusan dapat menyusun rencana dan cara pemecahan suatu masalah sosial. Contohnya, cara pencegahan kenakalan remaja dan cara meningkatkan kembali rasa solidaritas antarwarga yang semakin pudar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4>Peran sosiologi pada masyarakat<\/h4>\n<p>Sebagai ahli ilmu kemasyarakatan, para sosiolog tentu sangat berperan dalam mem-bangun masyarakat terutama di daerah yang sedang berkembang. Bentuk-bentuk pe-ran para ahli tersebut dapat kita gambarkan sebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Sosiolog Sebagai Ahli Riset<\/p>\n<p>Seperti semua ilmuan lainnya, para sosiolog menaruh perhatian pada pengumpulan dan penggunaan data. Untuk itu, para sosiolog melakukan riset ilmiah untuk mencari data tentang kehidupan sosial suatu masyarakat. Data itu kemudian diolah menjadi suatu karya ilmiah yang berguna bagi pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat.<\/p>\n<p>Dalam kaitan dengan hal ini, seorang sosiolog harus mampu men-ernihkan berbagai anggapan keliru yang berkembang dalam masyarakat. Dari hasil penilitiannya, sosio-log harus dapat menghadirkan kebenaran-kebenaran agar dampak negatif yang mung-kin ditimbulkan oleh kekeliruan dalam masyarakat dapat dihindari. Berdasarkan hal i-tu pula, seorang sosiolog bisa menghadirkan ramalan sosial yang didasarkan pada pola-pola, kecenderungan, dan perubahan yang paling mungkin terjadi.<\/p>\n<p>2 Sosiolog Sebagai Konsultan Kebijakan<\/p>\n<p>Ramalan sosiologi dapat membantu memperkirakan pengaruh kebijakan sosial yang mungkin terjadi. Setiap kebijakan sosial adalah suatu ramalan. Artinya, kebijakan diambil dengan suatu harapan menghasilkan pengaruh atau dampak yang diinginkan. Namun, sering terjadi bahwa kebijakan yang diambil tidak memenuhi harapan terse-but.<\/p>\n<p>Salah satu faktornya adalah ketidakakuratan kesimpulan atau dugaan yang salah terhadap permasalahannya.<\/p>\n<p>3. Sosiolog Sebagai Teknisi<\/p>\n<p>Beberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Mereka memberi saransaran, baik dalam penyelesaian berbagai masalah hubungan masyarkat, hubungan antarkaryawan, masalah moral, maupun hubungan antar kelompok dalam suatu organisasi.<\/p>\n<p>Dalam kedudukan seperti ini, sosiolog bekerja sebagai ilmuan terapan (applied scien-tist). Mereka dituntut untuk menggunakan pengetahuan ilmiahnya. Dalam mencari ni-lainilai tertentu, seperti efisiensi kerja atau efektifitas suatu program atau kegiatan masyarakat.<\/p>\n<p>4.\u00a0 Sosiolog Sebagai Guru atau Pendidik<\/p>\n<p>Dalam menyajikan suatu fakta, seorang sosiolog harus bersikap netral dan objektif. Contohnya, dalam menyajikan data tentang masalah kemiskinan, seorang sosiolog tidak boleh menciptakan anggapan sebagai pendukung suatu proyek atau kegiatan ter-tentu atau mengubahnya sehingga terkesan reformis, konservatif, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Sosiolog dapat menyajikan contoh-contoh konkret tentang bagaimana keterlibatan mereka dalam pemecahan masalah sosial. Keterlibatan mereka dalam kegiatan-ke-giatan sosial yang bersifat membangun serta menunjukkan apa yang telah mereka pelajari dari pengalaman-pengalaman tersebut.<\/p>\n<p>sumber : YAYASAN SANDHYKARA PUTRA TELKOM ( BAGAS RAMANDA G, FANNY RAHMAWATI, M.ARIFIN, SILVI AYUNDA)<\/p>\n","content_text":"Mungkin kita bagi masyarakat umum ataupun bagi pelajar pun pasti ada yang masih bingung, setelah lulus dari kuliah jurusan sosiologi itu nanti kerjanya kemana ya, soalnya secara zohir memang kita jarang bahkan ada yang belum menemukan seorang sosiolog yang tampil dimasyarakat ataupun di institusi pemerintah maupun di perusahaan, karena saking jarangnya ditemui individu sosiolog yang tampil mencolok inilah, banyak menganggap kalau lulusan sosiologi ini akan berakhir menjadi pekerja yang tidak linier dengan jurusannya. Banyak yang jadi sales, guru honorer, ataupun profesi &#8211; profesi lainnya yang tidak berhubungan dengan sosiologi,\nTidak dipungkiri redaksi diatas memang tidak sepenuhnya salah, tapi memang alumnus sosiologi jarang terlihat tapi mereka ini selalu dibutuhkan oleh banyak institusi maupun perusahaan lo, tidak percaya, salah satunya proyek IKN pemerintah yang ingin memindahkan ibukota dari DKI Jakarta ke salah satu daerah di kalimantan, selain hasil analisa dampak lingkungan, ekonomi, sosiologi juga berperan secara penting untuk dijadikan rujukan sebagai salah satu sumber pendapat yang harus di telaah dan dijadikan patokan agar proyek ini sukses, nah itu salah satu peran sosiologi yang mungkin bisa kita lihat. Tetapi memang peran sosiologi ini terkesan tidak terlihat tapi akan selalu dirasakan, yang bisa di istilahkan sebagai pekerjaan underground (tidak terlihat tapi tetap sangat dibutuhkan).\n2 kegunaan sosiolog pada masyarakat\nPada kenyataannya banyak sosiolog yang dipekerjakan dalam instansi-instansi negara maupun menjadi konsultan berbagai perencanaan pembangunan. Dalam hal ini tentunya peran sosiolog sangat dibutuhkan terutama yang berkaitan dengan penelitian,\npengolahan data dan perencanaaan kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Kegunaan sosiologi bagi masyarakat adalah :\nUntuk Pembangunan\nSosiologi berguna untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perenca-naan pelaksanaan maupun penilaian pembangunan. Pada tahap perencanaan, yang harus diperhatikan adalah apa yang menjadi kebutuhan sosial. Pada tahap pelaksanaan yang harus dilihat adalah kekuatan sosial dalam masyarakat serta proses perubahan sosialnya. Dan pada tahap penilaian yang harus dilakukan adalah analisis terhadap efek atau dampak sosial pembangunan tersebut.\nUntuk Penelitian\nDengan penelitian dan penyelidikan sosiologis, akan diperoleh suatu perencanaan a-tau pemecahan masalah sosial yang baik. Di negara yang sedang membangun, peran sosiolog sangat dibutuhkan. Berdasarkan hasil penelitian sosiologis, para pengambil-an keputusan dapat menyusun rencana dan cara pemecahan suatu masalah sosial. Contohnya, cara pencegahan kenakalan remaja dan cara meningkatkan kembali rasa solidaritas antarwarga yang semakin pudar.\n&nbsp;\nPeran sosiologi pada masyarakat\nSebagai ahli ilmu kemasyarakatan, para sosiolog tentu sangat berperan dalam mem-bangun masyarakat terutama di daerah yang sedang berkembang. Bentuk-bentuk pe-ran para ahli tersebut dapat kita gambarkan sebagai berikut:\n1. Sosiolog Sebagai Ahli Riset\nSeperti semua ilmuan lainnya, para sosiolog menaruh perhatian pada pengumpulan dan penggunaan data. Untuk itu, para sosiolog melakukan riset ilmiah untuk mencari data tentang kehidupan sosial suatu masyarakat. Data itu kemudian diolah menjadi suatu karya ilmiah yang berguna bagi pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat.\nDalam kaitan dengan hal ini, seorang sosiolog harus mampu men-ernihkan berbagai anggapan keliru yang berkembang dalam masyarakat. Dari hasil penilitiannya, sosio-log harus dapat menghadirkan kebenaran-kebenaran agar dampak negatif yang mung-kin ditimbulkan oleh kekeliruan dalam masyarakat dapat dihindari. Berdasarkan hal i-tu pula, seorang sosiolog bisa menghadirkan ramalan sosial yang didasarkan pada pola-pola, kecenderungan, dan perubahan yang paling mungkin terjadi.\n2 Sosiolog Sebagai Konsultan Kebijakan\nRamalan sosiologi dapat membantu memperkirakan pengaruh kebijakan sosial yang mungkin terjadi. Setiap kebijakan sosial adalah suatu ramalan. Artinya, kebijakan diambil dengan suatu harapan menghasilkan pengaruh atau dampak yang diinginkan. Namun, sering terjadi bahwa kebijakan yang diambil tidak memenuhi harapan terse-but.\nSalah satu faktornya adalah ketidakakuratan kesimpulan atau dugaan yang salah terhadap permasalahannya.\n3. Sosiolog Sebagai Teknisi\nBeberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Mereka memberi saransaran, baik dalam penyelesaian berbagai masalah hubungan masyarkat, hubungan antarkaryawan, masalah moral, maupun hubungan antar kelompok dalam suatu organisasi.\nDalam kedudukan seperti ini, sosiolog bekerja sebagai ilmuan terapan (applied scien-tist). Mereka dituntut untuk menggunakan pengetahuan ilmiahnya. Dalam mencari ni-lainilai tertentu, seperti efisiensi kerja atau efektifitas suatu program atau kegiatan masyarakat.\n4.\u00a0 Sosiolog Sebagai Guru atau Pendidik\nDalam menyajikan suatu fakta, seorang sosiolog harus bersikap netral dan objektif. Contohnya, dalam menyajikan data tentang masalah kemiskinan, seorang sosiolog tidak boleh menciptakan anggapan sebagai pendukung suatu proyek atau kegiatan ter-tentu atau mengubahnya sehingga terkesan reformis, konservatif, dan sebagainya.\nSosiolog dapat menyajikan contoh-contoh konkret tentang bagaimana keterlibatan mereka dalam pemecahan masalah sosial. Keterlibatan mereka dalam kegiatan-ke-giatan sosial yang bersifat membangun serta menunjukkan apa yang telah mereka pelajari dari pengalaman-pengalaman tersebut.\nsumber : YAYASAN SANDHYKARA PUTRA TELKOM ( BAGAS RAMANDA G, FANNY RAHMAWATI, M.ARIFIN, SILVI AYUNDA)","date_published":"2024-07-21T11:13:04+07:00","date_modified":"2024-07-21T11:14:54+07:00","author":{"name":"Warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/superadmin\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/458a28d8bdaa82bbad91c72ae7065116?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/4976422.jpg","tags":["Berita"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/ngemis-online-sebuah-fenomena-menarik-tahun-2023-bagaimana-pandangan-para-ahli-sosiolog\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/ngemis-online-sebuah-fenomena-menarik-tahun-2023-bagaimana-pandangan-para-ahli-sosiolog\/","title":"Ngemis Online Sebuah Fenomena Menarik Tahun 2023, Bagaimana Pandangan Para Ahli Sosiolog","content_html":"<p>Tiktok adalah media video sharing online yang memang membuat ketar-ketir kompetitornya seperti youtube dan lain sebagainya, karena popularitasnya yang luar biasa, akhirnya ada beberapa pihak yang secara kreatif membuat kontent ngemis, dan akhirnya jadilah sebuah karya dari buah tangan netizen kreatif negara indonesia sebuah fenomena baru yang dinamakan <strong>Ngemis Online. <\/strong>Dan yang tidak habis pikir ternyata kebanyakan dari netizen kita yaitu masyarakat indonesia teryata memberikan respons loo, baik itu respons positif maupun negatif, tetap saja ngemis online jalan dan dapat hasil juga hehe, nahh sekarang apa pandangan sosiolog menyikapi fenomena ini?<\/p>\n<h4>Pendapat dari Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Drajat Tri Kartono<\/h4>\n<p>dilansir dari <a href=\"https:\/\/www.solopos.com\/fenomena-pengemis-online-dalam-kacamata-sosiolog-1531366\">solopos<\/a>\u00a0 \u00a0Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Drajat Tri Kartono, menilai pengemis online terjadi karena pertemuan dua hal. Pertemuan pertama berasal dari perkembangan teknologi informasi berupa sosial media. Sementara faktor lainnya adalah tingkat kedermawanan warga Indonesia.<\/p>\n<p>Menurutnya perkembangan teknologi tersebut dimanfaatkan secara kreatif oleh orang-orang tertentu untuk mendapat penghasilan. Dalam hal ini orang-orang yang merelakan dirinya untuk dikasihani atau mengemis.<\/p>\n<p>\u201cDalam sosiologi mereka diistilahkan sedang memanajemen peran atau menyeting dirinya untuk dikasihani karena telah miskin, menunjukkan kesengsaraan dan lainnya,\u201d jelas Drajat melalui sambungan telepon, Senin (23\/1\/2023).<\/p>\n<p>Drajat menilai peluang kreativitas kemiskinan tersebut dibantu dengan teknologi baru yang menggambarkan pengemis tidak sekedar pasrah. Mereka dianggap kreatif dengan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari manajemen kesan untuk mendapatkan perhatian.<\/p>\n<p>Namun, kreativitas itu memberikan dampak yang luas terhadap masyarakat secara umum dan juga bangsa karena disiarkan secara online. Hal itu dapat merusak citra masyarakat Indonesia dalam kancah global.<\/p>\n<p>Pada sisi lain, para pengemis tersebut memanfaatkan kecenderungan orang Indonesia yang terkenal dengan kedermawaannya. Selain berdasarkan survey, kedermawaan tersebut juga dapat dilihat dengan perolehan pendapatan pengemis online yang mencapai jutaan rupiah.<\/p>\n<p>\u201cPerkembangan kreativitas digital dan pemanfaatan kurang tepat. Mengatur ini akan sulit maka harus ada intervensi digital melalui platform dengan melaporkan bersama-sama secara masif,\u201d terang Drajat.<\/p>\n<p>Pemerintah juga harus menyelesaikan kemiskinan sebagai faktor utama munculnya \u201cpara aktor\u201d tersebut. Dia mengatakan jika tidak ada literasi digital untuk menyadarkan, maka kreativitas ini akan muncul beranekaragam karena penawaran dan permintaan tetap ada.<\/p>\n<p>\u201cSupply-nya adalah orang dermawan sementara demand-nya orang-orang yang memainkan peran kemiskinan. Ini kategori penyakit masyarakat di dunia digital sehingga pemerintah harus mulai mengembangkan strategi penanganan, pemberdayaan bahkan rehabilitasi penyakit sosial di dunia digital ini,\u201d tegas Drajat.<\/p>\n<h4>Menurut Sosiolog Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Bagong Suyanto, Drs, MSi<\/h4>\n<p>Pendapat yang lebih tegas juga disampaikan oleh Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs, MSi. Seorang sosilog dari Kota Surabaya ini melalui <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-6523487\/pandangan-sosiolog-unair-soal-ngemis-online--senang-lihat-orang-menderita\">detik.com<\/a> dimana substansi para &#8216;pengemis&#8217; online tidaklah berbeda, yakni meminta belas kasihan orang agar memperoleh sesuatu. &#8220;Jadi mengemis ini tidak mudah, makin banyak saingan. Sehingga mereka perlu berkreasi untuk mendapatkan belas kasihan masyarat untuk memberikan amal karitatifnya,&#8221; jelasnya, dikutip dari rilis laman Universitas Airlangga, Kamis (19\/1\/2023).<\/p>\n<p>Prof Bagong juga mengecam kreator konten yang mencoba mengeksploitasi orang tua mereka. Dia menyebut, ada banyak anak muda di belakang layar yang berperan, terutama untuk mengoperasikan media sosial tersebut. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair ini menilai bahwa pemerintah harus bisa melakukan perang wacana. Pasalnya, &#8216;pengemis&#8217; online tidak dapat ditindak seperti pengemis pada umumnya dengan dukungan dinas sosial atau Satpol PP.<\/p>\n<p>Prof Bagong menekankan, biar masyarakat yang menghakimi tindakan tersebut dengan cara tidak menyumbang maupun menonton konten &#8216;ngemis&#8217; online. Dia berpesan supaya pemerintah dan masyarakat bersikap adil serta tidak memberi stigma negatif terhadap orang miskin. Musababnya, banyak juga masyarakat miskin yang butuh bantuan sehingga terpaksa mengemis.<\/p>\n<p>Penindakan keras menurutnya justru perlu diterapkan kepada orang yang memanfaatkan orang miskin demi kekayaan pribadi. Guru besar sosiologi ekonomi ini menekankan perlunya memilah karena masyarakat tidak bisa menghakimi semuanya salah.<\/p>\n<p>&#8220;Harus dilihat siapa yang melakukan karena dia butuh hidup, itu tidak masalah. Ini kan sama seperti artis yang membuka donasi terbuka, kan sama. Lah kenapa kalau artis tidak kecam, orang miskin dikecam,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","content_text":"Tiktok adalah media video sharing online yang memang membuat ketar-ketir kompetitornya seperti youtube dan lain sebagainya, karena popularitasnya yang luar biasa, akhirnya ada beberapa pihak yang secara kreatif membuat kontent ngemis, dan akhirnya jadilah sebuah karya dari buah tangan netizen kreatif negara indonesia sebuah fenomena baru yang dinamakan Ngemis Online. Dan yang tidak habis pikir ternyata kebanyakan dari netizen kita yaitu masyarakat indonesia teryata memberikan respons loo, baik itu respons positif maupun negatif, tetap saja ngemis online jalan dan dapat hasil juga hehe, nahh sekarang apa pandangan sosiolog menyikapi fenomena ini?\nPendapat dari Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Drajat Tri Kartono\ndilansir dari solopos\u00a0 \u00a0Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Drajat Tri Kartono, menilai pengemis online terjadi karena pertemuan dua hal. Pertemuan pertama berasal dari perkembangan teknologi informasi berupa sosial media. Sementara faktor lainnya adalah tingkat kedermawanan warga Indonesia.\nMenurutnya perkembangan teknologi tersebut dimanfaatkan secara kreatif oleh orang-orang tertentu untuk mendapat penghasilan. Dalam hal ini orang-orang yang merelakan dirinya untuk dikasihani atau mengemis.\n\u201cDalam sosiologi mereka diistilahkan sedang memanajemen peran atau menyeting dirinya untuk dikasihani karena telah miskin, menunjukkan kesengsaraan dan lainnya,\u201d jelas Drajat melalui sambungan telepon, Senin (23\/1\/2023).\nDrajat menilai peluang kreativitas kemiskinan tersebut dibantu dengan teknologi baru yang menggambarkan pengemis tidak sekedar pasrah. Mereka dianggap kreatif dengan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari manajemen kesan untuk mendapatkan perhatian.\nNamun, kreativitas itu memberikan dampak yang luas terhadap masyarakat secara umum dan juga bangsa karena disiarkan secara online. Hal itu dapat merusak citra masyarakat Indonesia dalam kancah global.\nPada sisi lain, para pengemis tersebut memanfaatkan kecenderungan orang Indonesia yang terkenal dengan kedermawaannya. Selain berdasarkan survey, kedermawaan tersebut juga dapat dilihat dengan perolehan pendapatan pengemis online yang mencapai jutaan rupiah.\n\u201cPerkembangan kreativitas digital dan pemanfaatan kurang tepat. Mengatur ini akan sulit maka harus ada intervensi digital melalui platform dengan melaporkan bersama-sama secara masif,\u201d terang Drajat.\nPemerintah juga harus menyelesaikan kemiskinan sebagai faktor utama munculnya \u201cpara aktor\u201d tersebut. Dia mengatakan jika tidak ada literasi digital untuk menyadarkan, maka kreativitas ini akan muncul beranekaragam karena penawaran dan permintaan tetap ada.\n\u201cSupply-nya adalah orang dermawan sementara demand-nya orang-orang yang memainkan peran kemiskinan. Ini kategori penyakit masyarakat di dunia digital sehingga pemerintah harus mulai mengembangkan strategi penanganan, pemberdayaan bahkan rehabilitasi penyakit sosial di dunia digital ini,\u201d tegas Drajat.\nMenurut Sosiolog Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Bagong Suyanto, Drs, MSi\nPendapat yang lebih tegas juga disampaikan oleh Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs, MSi. Seorang sosilog dari Kota Surabaya ini melalui detik.com dimana substansi para &#8216;pengemis&#8217; online tidaklah berbeda, yakni meminta belas kasihan orang agar memperoleh sesuatu. &#8220;Jadi mengemis ini tidak mudah, makin banyak saingan. Sehingga mereka perlu berkreasi untuk mendapatkan belas kasihan masyarat untuk memberikan amal karitatifnya,&#8221; jelasnya, dikutip dari rilis laman Universitas Airlangga, Kamis (19\/1\/2023).\nProf Bagong juga mengecam kreator konten yang mencoba mengeksploitasi orang tua mereka. Dia menyebut, ada banyak anak muda di belakang layar yang berperan, terutama untuk mengoperasikan media sosial tersebut. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair ini menilai bahwa pemerintah harus bisa melakukan perang wacana. Pasalnya, &#8216;pengemis&#8217; online tidak dapat ditindak seperti pengemis pada umumnya dengan dukungan dinas sosial atau Satpol PP.\nProf Bagong menekankan, biar masyarakat yang menghakimi tindakan tersebut dengan cara tidak menyumbang maupun menonton konten &#8216;ngemis&#8217; online. Dia berpesan supaya pemerintah dan masyarakat bersikap adil serta tidak memberi stigma negatif terhadap orang miskin. Musababnya, banyak juga masyarakat miskin yang butuh bantuan sehingga terpaksa mengemis.\nPenindakan keras menurutnya justru perlu diterapkan kepada orang yang memanfaatkan orang miskin demi kekayaan pribadi. Guru besar sosiologi ekonomi ini menekankan perlunya memilah karena masyarakat tidak bisa menghakimi semuanya salah.\n&#8220;Harus dilihat siapa yang melakukan karena dia butuh hidup, itu tidak masalah. Ini kan sama seperti artis yang membuka donasi terbuka, kan sama. Lah kenapa kalau artis tidak kecam, orang miskin dikecam,&#8221; pungkasnya.\n&nbsp;\n&nbsp;","date_published":"2023-04-09T10:04:01+07:00","date_modified":"2023-04-09T10:04:01+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Ngemis-Online-Sebuah-Fenomena-Menarik-Tahun-2023-Bagaimana-Pandangan-Para-Ahli-Sosiolog-sosiopedia.jpg","tags":["fenomena masyarakat","Berita"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/hobi-mengadopsi-boneka-arwah-menurut-pandangan-sosiolog\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/hobi-mengadopsi-boneka-arwah-menurut-pandangan-sosiolog\/","title":"Hobi Mengadopsi Boneka Arwah Menurut Pandangan Sosiolog","content_html":"<h4>Trend Adopsi Boneka Arwah<\/h4>\n<p>Meski trend ini banyak dibicarakan di tahun 2022, bahkan sampai viral diberitakan di banyak social media loo, tapi pada kekinian, suatu fenomena baru tersebut menjadi sebuah trend tersendiri dan bahkan mempunyai komunitas diantara masyarakat kita. Hobi baru tersebut yaitu adopsi boneka arwah. Nama- nama Artis ibukita pun tidak luput juga menjadi booster publik untuk mengikuti langkah mereka, adapun publik figur yang tampil sebagai pengadopsi boneka yang sering disebut <em><strong>spirit doll<\/strong><\/em> itu, yaitu desainer ternama Ivan Gunawan, dan deretan artis macam Ruben Onsu, Lucinta Luna, dan Celline Evangelista.<\/p>\n<p>Tidak seperti boneka pada umumnya, boneka bayi ini ramai diperbincangkan karena diperlakukan khusus seperti manusia. Bahkan, dilansir <a href=\"https:\/\/www.sonora.id\/read\/423083619\/fenomena-spirit-doll-kolektor-anggap-anak-pakar-sosiologi-di-bali-ini-sebut-tren-dan-terapi-bagi-pemiliknya?page=all\">Sonora.id<\/a>, Queen Athena, salah seorang pemilik boneka arwah asal Bali menyebutkan boneka bayi itu dimasuki arwah anak-anak yang meninggal karena keguguran atau dibunuh.<\/p>\n<p>Dia mengaku memasukkan arwah itu ke boneka dan dirawat sampai waktunya arwah ini dipanggil untuk reinkarnasi.<\/p>\n<p>Sontak isu tersebut mengejutkan publik dan mengundang tanggapan dari berbagai pihak. Mulai dari tokoh agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), psikolog, hingga sosiolog. Mereka memberikan pandangan terkait boneka arwah dari sudut pandang keilmuan masing-masing.<\/p>\n<p>Tak terkecuali ahli sosiologi yang menggunakan paradigma kajian ilmu sosial. Sebagai salah satu rumpun ilmu sosial, kajian sosiologi memiliki ciri non etis. Artinya, kajian yang disampaikan bukan untuk menilai benar atau salahnya suatu fenomena. Melainkan untuk menggambarkan realitas sosial yang sedang terjadi di masyarakat.<\/p>\n<h4>Pandangan Ahli Sosiolog Indonesia Tentang Adopsi Boneka Arwah<\/h4>\n<p>Bagaimana pandangan para sosiolog terkait boneka arwah? Simak penjelasan dari pandangan dari beberapa ilmuwan sosiolog indonesia, diantaranya sebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Teori Interaksionisme Simbolik<br \/>\nDilansir utustoria, Muhammad Makro Maarif Sulaiman, Sosiolog alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) memandang fenomena itu dari perspektif interaksionisme simbolik. Menurutnya, perlakuan Ivan Gunawan terhadap boneka arwah tersebut merupakan sebuah perilaku yang wajar, unik, dan menarik.<\/p>\n<p>Sebab dia melakukannya dalam keadaan sadar yang melibatkan faktor sosialisasi, penafsiran simbol dan makna serta keputusan merespon.<\/p>\n<p>Dijelaskan, faktor sosialisasi kemungkinan terbentuk dari pengalaman Igun, sapaan akrabnya, dengan anak-anak dan adanya ajaran untuk menyayangi anak-anak. Kemudian, penafsiran simbol dan makna boneka bayi tersebut lebih ditekankan penafsiran dalam proses interaksi sosial.<\/p>\n<p>Artinya, Igun memasuki proses belajar menafsirkan dengan memperlakukan dua simbol boneka bayi seperti anak sungguhan. Dia sedang mengomunikasikan kepada orang-orang terdekatnya dan kepada publik bahwa dia mengaktualisasikan dan memenuhi kebutuhan afeksinya dengan cara memainkan peran seolah-olah sebagai seorang ayah.<\/p>\n<p>Kemudian sebagai pria penyayang anak sehingga menepis penilaian bahwa yang ada dalam diri seorang Igun adalah cenderung feminim tanpa keibuan.<\/p>\n<p>2. Sarana Pencurahan Kasih Sayang, Wujud Interaksi yang Tertukar dan Tren<br \/>\nDilansir oleh Sonora.id, Wahyu Budi Nugroho, pakar Sosiologi, menyatakan pandangan yang berbeda. Dosen FISIP Universitas Udayana Bali ini menyebutkan boneka arwah berbentuk bayi digunakan sebagai sarana pencurahan kasih sayang.<\/p>\n<p>Menurutnya, boneka bayi itu bisa menjadi sarana substitusi dan aktualisasi diri bagi mereka yang belum menikah atau belum memiliki anak untuk belajar menjadi orang tua.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Wahyu menuturkan wujud relasi orang yang mengadopsi boneka arwah merupakan wujud relasi yang tertukar. Sebab, relasi antara manusia dengan boneka yang pada hakikatnya hanya benda diwujudkan dalam bentuk relasi I-Thou (aku dan kamu). Padahal seharusnya, relasi manusia dengan benda berwujud I-It (aku dan itu).<\/p>\n<p>Tak hanya itu, Wahyu juga berpendapat boneka arwah dapat menjadi tren komoditas konsumtif mengingat harganya yang tidak murah. Sehingga, ada nilai kepuasan dan kebanggaan ketika memilikinya. Namun, dirinya memprediksi tren boneka arwah ini tidak akan bertahan lama, sebab termasuk kebutuhan tersier.<\/p>\n<p>3. Cerminan Masyarakat yang Kesepian<br \/>\nPendapat lain disampaikan Sigit Rohadi, Sosiolog dari Universitas Nasional. Dilansir oleh <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-5882584\/sosiolog-fenomena-adopsi-boneka-arwah-cerminan-masyarakat-kesepian\">news.detik<\/a>, Sigit menyatakan orang yang memelihara boneka arwah atau spirit doll dengan perlakuan layaknya manusia, mencerminkan masyarakat yang kesepian akibat gejala individualisme yang semakin menguat.<\/p>\n<p>Menurutnya, semua itu tidak lepas dari peran media sosial. Dia menyebut banyak orang yang sibuk di dunia maya tetapi kering dalam berinteraksi di dunia nyata. Peningkatan interaksi di dunia maya inilah yang menurut Sigit mendorong seseorang memilih binatang peliharaan atau boneka yang dijadikan kekasih.<\/p>\n<p>Atau dengan kata lain diperlakukan seperti manusia. Dia pun menuturkan kemajuan teknologi turut menyumbang kesepian hingga manusia seakan kehilangan kemanusiaannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: https:\/\/tugujatim.id\/marak-adopsi-spirit-doll-begini-kata-sosiolog\/<\/p>\n","content_text":"Trend Adopsi Boneka Arwah\nMeski trend ini banyak dibicarakan di tahun 2022, bahkan sampai viral diberitakan di banyak social media loo, tapi pada kekinian, suatu fenomena baru tersebut menjadi sebuah trend tersendiri dan bahkan mempunyai komunitas diantara masyarakat kita. Hobi baru tersebut yaitu adopsi boneka arwah. Nama- nama Artis ibukita pun tidak luput juga menjadi booster publik untuk mengikuti langkah mereka, adapun publik figur yang tampil sebagai pengadopsi boneka yang sering disebut spirit doll itu, yaitu desainer ternama Ivan Gunawan, dan deretan artis macam Ruben Onsu, Lucinta Luna, dan Celline Evangelista.\nTidak seperti boneka pada umumnya, boneka bayi ini ramai diperbincangkan karena diperlakukan khusus seperti manusia. Bahkan, dilansir Sonora.id, Queen Athena, salah seorang pemilik boneka arwah asal Bali menyebutkan boneka bayi itu dimasuki arwah anak-anak yang meninggal karena keguguran atau dibunuh.\nDia mengaku memasukkan arwah itu ke boneka dan dirawat sampai waktunya arwah ini dipanggil untuk reinkarnasi.\nSontak isu tersebut mengejutkan publik dan mengundang tanggapan dari berbagai pihak. Mulai dari tokoh agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), psikolog, hingga sosiolog. Mereka memberikan pandangan terkait boneka arwah dari sudut pandang keilmuan masing-masing.\nTak terkecuali ahli sosiologi yang menggunakan paradigma kajian ilmu sosial. Sebagai salah satu rumpun ilmu sosial, kajian sosiologi memiliki ciri non etis. Artinya, kajian yang disampaikan bukan untuk menilai benar atau salahnya suatu fenomena. Melainkan untuk menggambarkan realitas sosial yang sedang terjadi di masyarakat.\nPandangan Ahli Sosiolog Indonesia Tentang Adopsi Boneka Arwah\nBagaimana pandangan para sosiolog terkait boneka arwah? Simak penjelasan dari pandangan dari beberapa ilmuwan sosiolog indonesia, diantaranya sebagai berikut:\n1. Teori Interaksionisme Simbolik\nDilansir utustoria, Muhammad Makro Maarif Sulaiman, Sosiolog alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) memandang fenomena itu dari perspektif interaksionisme simbolik. Menurutnya, perlakuan Ivan Gunawan terhadap boneka arwah tersebut merupakan sebuah perilaku yang wajar, unik, dan menarik.\nSebab dia melakukannya dalam keadaan sadar yang melibatkan faktor sosialisasi, penafsiran simbol dan makna serta keputusan merespon.\nDijelaskan, faktor sosialisasi kemungkinan terbentuk dari pengalaman Igun, sapaan akrabnya, dengan anak-anak dan adanya ajaran untuk menyayangi anak-anak. Kemudian, penafsiran simbol dan makna boneka bayi tersebut lebih ditekankan penafsiran dalam proses interaksi sosial.\nArtinya, Igun memasuki proses belajar menafsirkan dengan memperlakukan dua simbol boneka bayi seperti anak sungguhan. Dia sedang mengomunikasikan kepada orang-orang terdekatnya dan kepada publik bahwa dia mengaktualisasikan dan memenuhi kebutuhan afeksinya dengan cara memainkan peran seolah-olah sebagai seorang ayah.\nKemudian sebagai pria penyayang anak sehingga menepis penilaian bahwa yang ada dalam diri seorang Igun adalah cenderung feminim tanpa keibuan.\n2. Sarana Pencurahan Kasih Sayang, Wujud Interaksi yang Tertukar dan Tren\nDilansir oleh Sonora.id, Wahyu Budi Nugroho, pakar Sosiologi, menyatakan pandangan yang berbeda. Dosen FISIP Universitas Udayana Bali ini menyebutkan boneka arwah berbentuk bayi digunakan sebagai sarana pencurahan kasih sayang.\nMenurutnya, boneka bayi itu bisa menjadi sarana substitusi dan aktualisasi diri bagi mereka yang belum menikah atau belum memiliki anak untuk belajar menjadi orang tua.\nLebih lanjut, Wahyu menuturkan wujud relasi orang yang mengadopsi boneka arwah merupakan wujud relasi yang tertukar. Sebab, relasi antara manusia dengan boneka yang pada hakikatnya hanya benda diwujudkan dalam bentuk relasi I-Thou (aku dan kamu). Padahal seharusnya, relasi manusia dengan benda berwujud I-It (aku dan itu).\nTak hanya itu, Wahyu juga berpendapat boneka arwah dapat menjadi tren komoditas konsumtif mengingat harganya yang tidak murah. Sehingga, ada nilai kepuasan dan kebanggaan ketika memilikinya. Namun, dirinya memprediksi tren boneka arwah ini tidak akan bertahan lama, sebab termasuk kebutuhan tersier.\n3. Cerminan Masyarakat yang Kesepian\nPendapat lain disampaikan Sigit Rohadi, Sosiolog dari Universitas Nasional. Dilansir oleh news.detik, Sigit menyatakan orang yang memelihara boneka arwah atau spirit doll dengan perlakuan layaknya manusia, mencerminkan masyarakat yang kesepian akibat gejala individualisme yang semakin menguat.\nMenurutnya, semua itu tidak lepas dari peran media sosial. Dia menyebut banyak orang yang sibuk di dunia maya tetapi kering dalam berinteraksi di dunia nyata. Peningkatan interaksi di dunia maya inilah yang menurut Sigit mendorong seseorang memilih binatang peliharaan atau boneka yang dijadikan kekasih.\nAtau dengan kata lain diperlakukan seperti manusia. Dia pun menuturkan kemajuan teknologi turut menyumbang kesepian hingga manusia seakan kehilangan kemanusiaannya.\n&nbsp;\nSumber: https:\/\/tugujatim.id\/marak-adopsi-spirit-doll-begini-kata-sosiolog\/","date_published":"2023-04-09T09:26:03+07:00","date_modified":"2023-04-09T09:26:14+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/2146070.jpg","tags":["Berita"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/jumlah-pengangguran-di-agustus-naik-jadi-705-juta-orang\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/jumlah-pengangguran-di-agustus-naik-jadi-705-juta-orang\/","title":"Jumlah Pengangguran di Agustus Naik Jadi 7,05 Juta Orang","content_html":"<p>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara persentase pada Agustus 2019 dibandingkan Agustus 2018. Namun jika dilihat secara jumlahnya justru meningkat. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan TPT pada Agustus 2019 sebesar 5,28%. Angka itu menurun jika dibandingkan TPT pada Agustus 2018 sebesar 5,34%. &#8220;Trennya juga terus menurun selama 4 tahun terakhir,&#8221; ujarnya di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (5\/11\/2019). Jika dilihat angka TPT 5,28% itu setara dengan 7,05 juta orang. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan Agustus 2018 sebesar 7,001 juta orang. Perbedaan jumlah tersebut dikarenakan metode penghitungan survei indikator tenaga kerja sedikit berbeda. Perbedaannya berada pada jumlah sampel yang disurvei. &#8220;Indikator tenaga kerja surveinya Agustus 2019, jumlah sampelnya diperbesar dari 200 ribu jadi 300 ribuan,&#8221; kata Suhariyanto. Selain itu faktornya pada Agustus 2019 jumlah angkatan kerja 133,56 juta orang. Naik 2,55 juta orang dibandingkan Agustus 2018. Dari angka itu sebanyak 126,51 juta orang adalah penduduk bekerja dan sebanyak 7,05 juta orang menganggur.<\/p>\n<p>sumber: https:\/\/finance.detik.com\/berita-ekonomi-bisnis\/d-4772593\/jumlah-pengangguran-di-agustus-naik-jadi-705-juta-orang?_ga=2.132807563.441560717.1573532647-2122046716.1573120161<\/p>\n","content_text":"Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara persentase pada Agustus 2019 dibandingkan Agustus 2018. Namun jika dilihat secara jumlahnya justru meningkat. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan TPT pada Agustus 2019 sebesar 5,28%. Angka itu menurun jika dibandingkan TPT pada Agustus 2018 sebesar 5,34%. &#8220;Trennya juga terus menurun selama 4 tahun terakhir,&#8221; ujarnya di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (5\/11\/2019). Jika dilihat angka TPT 5,28% itu setara dengan 7,05 juta orang. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan Agustus 2018 sebesar 7,001 juta orang. Perbedaan jumlah tersebut dikarenakan metode penghitungan survei indikator tenaga kerja sedikit berbeda. Perbedaannya berada pada jumlah sampel yang disurvei. &#8220;Indikator tenaga kerja surveinya Agustus 2019, jumlah sampelnya diperbesar dari 200 ribu jadi 300 ribuan,&#8221; kata Suhariyanto. Selain itu faktornya pada Agustus 2019 jumlah angkatan kerja 133,56 juta orang. Naik 2,55 juta orang dibandingkan Agustus 2018. Dari angka itu sebanyak 126,51 juta orang adalah penduduk bekerja dan sebanyak 7,05 juta orang menganggur.\nsumber: https:\/\/finance.detik.com\/berita-ekonomi-bisnis\/d-4772593\/jumlah-pengangguran-di-agustus-naik-jadi-705-juta-orang?_ga=2.132807563.441560717.1573532647-2122046716.1573120161","date_published":"2019-11-12T04:27:16+07:00","date_modified":"2019-11-12T04:27:16+07:00","author":{"name":"sosiopedia staff","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/sosiopedia-team\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c8d1a808db807b9779163610c38712d2?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/3b16e7a0cb4cff05eb7575fe0ecf2decaf798ae1.jpg","tags":["Berita"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/perkembangan-sosiologi-di-indonesia\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/perkembangan-sosiologi-di-indonesia\/","title":"Perkembangan Sosiologi di Indonesia","content_html":"<p>Sosiologi di Indonesia telah dimulai dalam waktu yang lama. Pada masa Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta, terdapat ajaran Wulang Reh yang mengajarkan tentang tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang berasal dari golongan-golongan berbeda. Dalam ajaran tersebut terdapat banyak aspek sosiologi, khususnya pada bidang hubungan antargolongan. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia juga telah menyumbangkan sosiologi dalam konsep-konsepnya tentang kekeluargaan dan kepemimpinan. Praktik dari ajaran ini diterapkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.[1]<\/p>\n<p>Kala itu sosiologi belum dianggap sebagai ilmu yang penting untuk dipelajari. Akan tetapi, hanya sebatas ilmu pembantu untuk ilmu pengetahuan lainnya. Itu dikarenakan banyak karya orang Belanda, seperti tulisan-tulisan ter Haar dan Duyvendak yang mencakup unsur-unsur sosiologis namun kala itu dikupas secara ilmiah dari aspek nonsosiologis dan belum menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.[1]<\/p>\n<p>Sebelum perang dunia kedua, Indonesia hanya memiliki Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta, satu-satunya lembaga perguruan tinggi sebelum era kemerdekaan yang memberikan kuliah tentang sosiologi di Indonesia. Berhubung belum ada spesialisasi sosiologi baik di Indonesia maupun di Belanda, maka para pengajar kala itu tidak berasal dari latar belakang psikologi. Adapun teori yang diajarkan bersifat filsafat sosial dan teoretis, berdasarkan buku-buku karya Leopold von Wiese, Bierens de Haan dan sebagainya.[1]<\/p>\n<p>Kegiatan perkuliahan di sekolah tersebut sempat ditiadakan pada 1934 hingga 1935. Penyebabnya karena para guru besar memiliki opini bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat dan proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam hubungan dengan pelajaran hukum. Mereka juga berpandangan bahwa yang penting untuk dipelajari adalah hukum positif, yakni peraturan-peraturan yang berlaku dengan sah pada suatu waktu dan suatu tempat tertentu.[1]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>sumber : https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Perkembangan_sosiologi_di_Indonesia<\/p>\n","content_text":"Sosiologi di Indonesia telah dimulai dalam waktu yang lama. Pada masa Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta, terdapat ajaran Wulang Reh yang mengajarkan tentang tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang berasal dari golongan-golongan berbeda. Dalam ajaran tersebut terdapat banyak aspek sosiologi, khususnya pada bidang hubungan antargolongan. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia juga telah menyumbangkan sosiologi dalam konsep-konsepnya tentang kekeluargaan dan kepemimpinan. Praktik dari ajaran ini diterapkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.[1]\nKala itu sosiologi belum dianggap sebagai ilmu yang penting untuk dipelajari. Akan tetapi, hanya sebatas ilmu pembantu untuk ilmu pengetahuan lainnya. Itu dikarenakan banyak karya orang Belanda, seperti tulisan-tulisan ter Haar dan Duyvendak yang mencakup unsur-unsur sosiologis namun kala itu dikupas secara ilmiah dari aspek nonsosiologis dan belum menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.[1]\nSebelum perang dunia kedua, Indonesia hanya memiliki Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta, satu-satunya lembaga perguruan tinggi sebelum era kemerdekaan yang memberikan kuliah tentang sosiologi di Indonesia. Berhubung belum ada spesialisasi sosiologi baik di Indonesia maupun di Belanda, maka para pengajar kala itu tidak berasal dari latar belakang psikologi. Adapun teori yang diajarkan bersifat filsafat sosial dan teoretis, berdasarkan buku-buku karya Leopold von Wiese, Bierens de Haan dan sebagainya.[1]\nKegiatan perkuliahan di sekolah tersebut sempat ditiadakan pada 1934 hingga 1935. Penyebabnya karena para guru besar memiliki opini bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat dan proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam hubungan dengan pelajaran hukum. Mereka juga berpandangan bahwa yang penting untuk dipelajari adalah hukum positif, yakni peraturan-peraturan yang berlaku dengan sah pada suatu waktu dan suatu tempat tertentu.[1]\n&nbsp;\n&nbsp;\nsumber : https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Perkembangan_sosiologi_di_Indonesia","date_published":"2019-10-13T11:33:40+07:00","date_modified":"2019-11-12T04:22:48+07:00","author":{"name":"sosiopedia staff","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/sosiopedia-team\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c8d1a808db807b9779163610c38712d2?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/gambar-sosiologi.jpg","tags":["Berita"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/sosiolog-perlu-adanya-pendidikan-cegah-hoaks-sejak-dini\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/sosiolog-perlu-adanya-pendidikan-cegah-hoaks-sejak-dini\/","title":"Sosiolog: Perlu Adanya Pendidikan Cegah Hoaks Sejak Dini","content_html":"\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img width=\"640\" height=\"427\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciIHZpZXdCb3g9IjAgMCA2NDAgNDI3IiB3aWR0aD0iNjQwIiBoZWlnaHQ9IjQyNyIgZGF0YS11PSJodHRwcyUzQSUyRiUyRnNvc2lvcGVkaWEuY29tJTJGd3AtY29udGVudCUyRnVwbG9hZHMlMkYyMDE5JTJGMDglMkZzb3Npb2xvZy1wZXJsdS1hZGFueWEtcGVuZGlkaWthbi1jZWdhaC1ob2Frcy1zZWphay1kaW5pLTBwZ2paVnJGT2MuanBnIiBkYXRhLXc9IjY0MCIgZGF0YS1oPSI0MjciIGRhdGEtYmlwPSIiPjwvc3ZnPg==\" data-spai=\"1\" alt=\"\" class=\"wp-image-8\"  sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><strong>JAKARTA <\/strong>&#8211; Tahapan pelaksanaan Pemilu 2019 sudah  dimulai. Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg)  akan dilaksanakan serrentak pada 17 April 2019. <\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini sudah mulai bermunculan informasi-informasi hoaks untuk \nmenjatuhkan lawan politik dan berdampak keresahan di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p>Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar  mengatakan, perlu adanya pendidikan dini mencegah hoaks. Mengingat saat  ini anak di bawah umur sudah banyak yang memiliki ponsel pintar (<em>smartphone<\/em>) dan memiliki akun di berbagai aplikasi media sosial. <\/p>\n\n\n\n<span id=\"more-7\"><\/span>\n\n\n\n<p>&#8220;Pendidikan dini di rumah dan sekolah. Harus ada penyadaran, \npencerahan dan bimbingan terus menerus dan beri optimisme,&#8221; ujar Musni \nsaat dihubungi <strong>Okezone<\/strong>, Rabu (19\/9\/2018).<\/p>\n\n\n\n<p>Saat berada di perguruan tinggi pun penting bagi para pendidik untuk \nmembimbing mahasiswanya agar tak mudah menyampaikan informasi tak \nberdasar ke masyarakat.\n<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciIHZpZXdCb3g9IjAgMCAxIDEiIHdpZHRoPSIxIiBoZWlnaHQ9IjEiIGRhdGEtdT0iaHR0cHMlM0ElMkYlMkZpbWctei5va2VpbmZvLm5ldCUyRmxpYnJhcnklMkZpbWFnZXMlMkYyMDE4JTJGMDQlMkYyMiUyRmg5eDQ0Z3BkMWs2Z2xwdGZlaGIwXzE4NDM0LmpwZyIgZGF0YS13PSIxIiBkYXRhLWg9IjEiIGRhdGEtYmlwPSIiPjwvc3ZnPg==\" data-spai=\"1\" alt=\"Ilustrasi.\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>&#8220;Media sosial sifatnya netral, tergantung siapa dan bagaimana \nmenggunakannya. Semakin banyak orang yang menggunakannya untuk kebaikan,\n dorong kemajuan akan semakin baik,&#8221; ucap Musni.\n<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Masyarakat perlu menciptakan lingkungan-lingkungan yang \nmembentuk orang menjadi manusia yang tak mudah menyebarkan berita hoaks \nyang meresahkan masyarakat,&#8221; imbuhnya.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, menurut Musni peran politisi juga sangat penting \ndalam mencegah beredarnya informasi hoaks. Para politisi diharapkan bisa\n mengendalikan dirinya saat menyampaikan pesan ke masyarakat.\n<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Politisi juga harus sampaikan kata-kata yang tak mudah \nmenyinggung orang, yang tidak mudah menyerang orang, tidak dengan mudah \nmenyampaikan berita-berita yang sesungguhnya tidak perlu disampaikan, \njadi intinya harus ada pengendalian diri,&#8221; katanya.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Peran pemerintah juga sangat penting untuk terus menyadarkan \nmasyarakat tak mudah terprovokasi untuk turut menyebarkan informasi \nhoaks.\n<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pandu mereka agar tidak terjerembab terhadap perilaku-perilaku \nyang mengarah ke penyebaran hoaks yang bisa meresahkan masyarakat,&#8221; \npungkasnya.\n<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(qlh)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sumber : https:\/\/nasional.okezone.com\/read\/2018\/09\/19\/337\/1952444\/sosiolog-perlu-adanya-pendidikan-cegah-hoaks-sejak-dini<\/p>\n","content_text":"JAKARTA &#8211; Tahapan pelaksanaan Pemilu 2019 sudah  dimulai. Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg)  akan dilaksanakan serrentak pada 17 April 2019. \n\n\n\nSaat ini sudah mulai bermunculan informasi-informasi hoaks untuk \nmenjatuhkan lawan politik dan berdampak keresahan di masyarakat. \n\n\n\nSosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar  mengatakan, perlu adanya pendidikan dini mencegah hoaks. Mengingat saat  ini anak di bawah umur sudah banyak yang memiliki ponsel pintar (smartphone) dan memiliki akun di berbagai aplikasi media sosial. \n\n\n\n\n\n\n\n&#8220;Pendidikan dini di rumah dan sekolah. Harus ada penyadaran, \npencerahan dan bimbingan terus menerus dan beri optimisme,&#8221; ujar Musni \nsaat dihubungi Okezone, Rabu (19\/9\/2018).\n\n\n\nSaat berada di perguruan tinggi pun penting bagi para pendidik untuk \nmembimbing mahasiswanya agar tak mudah menyampaikan informasi tak \nberdasar ke masyarakat.\n\n\n\n\n\n\n\n\n&#8220;Media sosial sifatnya netral, tergantung siapa dan bagaimana \nmenggunakannya. Semakin banyak orang yang menggunakannya untuk kebaikan,\n dorong kemajuan akan semakin baik,&#8221; ucap Musni.\n\n\n\n\n&#8220;Masyarakat perlu menciptakan lingkungan-lingkungan yang \nmembentuk orang menjadi manusia yang tak mudah menyebarkan berita hoaks \nyang meresahkan masyarakat,&#8221; imbuhnya.\n\n\n\n\nSelain itu, menurut Musni peran politisi juga sangat penting \ndalam mencegah beredarnya informasi hoaks. Para politisi diharapkan bisa\n mengendalikan dirinya saat menyampaikan pesan ke masyarakat.\n\n\n\n\n&#8220;Politisi juga harus sampaikan kata-kata yang tak mudah \nmenyinggung orang, yang tidak mudah menyerang orang, tidak dengan mudah \nmenyampaikan berita-berita yang sesungguhnya tidak perlu disampaikan, \njadi intinya harus ada pengendalian diri,&#8221; katanya.\n\n\n\n\nPeran pemerintah juga sangat penting untuk terus menyadarkan \nmasyarakat tak mudah terprovokasi untuk turut menyebarkan informasi \nhoaks.\n\n\n\n\n&#8220;Pandu mereka agar tidak terjerembab terhadap perilaku-perilaku \nyang mengarah ke penyebaran hoaks yang bisa meresahkan masyarakat,&#8221; \npungkasnya.\n\n\n\n\n(qlh)\n\n\n\nSumber : https:\/\/nasional.okezone.com\/read\/2018\/09\/19\/337\/1952444\/sosiolog-perlu-adanya-pendidikan-cegah-hoaks-sejak-dini","date_published":"2019-08-25T13:45:13+07:00","date_modified":"2019-09-13T06:33:24+07:00","author":{"name":"Warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/superadmin\/","avatar":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/458a28d8bdaa82bbad91c72ae7065116?s=512&d=mm&r=g"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/sosiolog-perlu-adanya-pendidikan-cegah-hoaks-sejak-dini-0pgjZVrFOc.jpg","tags":["Berita"]}]}