{"version":"https:\/\/jsonfeed.org\/version\/1","user_comment":"This feed allows you to read the posts from this site in any feed reader that supports the JSON Feed format. To add this feed to your reader, copy the following URL -- https:\/\/sosiopedia.com\/category\/tokoh\/feed\/json\/ -- and add it your reader.","home_page_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/category\/tokoh\/","feed_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/category\/tokoh\/feed\/json\/","title":"sosiopedia.com","description":"Portal pengetahuan untuk psikologi dan sosiologi Indonesia","icon":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/cropped-ICON.png","items":[{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/herbert-spencer-filsuf-inggris-bapak-darwinisme-sosial\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/herbert-spencer-filsuf-inggris-bapak-darwinisme-sosial\/","title":"Herbert Spencer, Filsuf Inggris Bapak Darwinisme Sosial","content_html":"<h4>Biografi Herbert Spencer<\/h4>\n<p>Spencer lahir di Derbyshire, Midland, Inggris pada 27 April 1820 dan meninggal pada tahun 1903. Dia adalah salah satu anak dari sembilan bersaudara yang bertahan hidup dari pasangan William dan Haerriet Spencer, guru sekolah di Derbyshire. Karena alasan kesehatan, Spencer kecil menjalani pendidikan di rumah. Dia belajar teknik dan bidang utilitarian. Ia adalah seorang filsuf inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik terkemuka. Meskipun kebanyakan karya yang ditulisnya berisi tentang teori politik dan menekankan pada &#8220;keuntungan akan kemurahan hati&#8221;, dia lebih dikenal sebagai bapak darwinisme sosial. Spencer seringkali menganalisis masyarakat sebagai sistem evolusi, ia juga menjelaskan definisi tentang &#8220;hukum rimba&#8221; dalam ilmu sosial. Dia berkontribusi terhadap berbagai macamsubyek,termasuk etnis, metafisika, agama, politik, retorik, biologi dan psikolog<\/p>\n<ol>\n<li>Spencer saat ini dikritik sebagai contoh sempurna untuk skientism atau paham ilmiah, sementara banyak orang yang kagum padanya di saat ia masih hidup.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam usia relatif muda, 17 tahun, Spencer muda terjun ke dunia kerja sebagai insinyur sipil di sebuah perusahaan kereta api London dan Birmingham. Karirnya terbilang bagus hingga akhhirnya dia dipercaya menjadi wakil kepala bagian mesin di perusahaan tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya bekerja di perusahaan kereta api, kemudian pindah pekerjaan menjadi redaktur majalah The Economist yang saat itu terkenal. Spencer mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dalam hal mekanik. Hal ini akan ikut serta mewarnai seluruh imajinasinya tentang biologi dan sosial di masa yang akan datang Selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri.<\/p>\n<p>Spencer memiliki kemampuan sangat baik dalam mekanika. Kemampuan itulah yang mempengaruhi imajinasinya dalam ilmu pengetahuan, terutama biologi, masyarakat, dan ilmu sosial. Pada saat menjadi insinyur inilah Spencer mulai belajar menulis artikel secara serius. Tulisan pertamanya di bidang sosial dengan <em>judul On the Proper Sphere of Government (1842) <\/em>dimuat di majalah<em>Non Conformist. <\/em>Enam tahun kemudian tulisan yang sama dimuat <em>The Economist, <\/em>majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di London.<\/p>\n<p>Tulisan Spencer mendapat sambutan hagat penggemarnya sehingga mereka rela membayar lebih dulu tulisan-tulisan Spencer sebelum tulisan itu diterbitkan. Kondisi inilah yang mendorong Spencer untuk berpikir alih profesi menjadi ilmu bidang pengetahuan sosial, khususnya sosiologi. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, saat menginjak 28 tahun dia pinndah menjadi wakil editor majalah<em>The Economist<\/em>, berita mingguan yang berbasis di London. Majalah ini merupakan oposisi pemerintah dan pendukung perdagangan bebas. Melalui majalah ini Spencer banyak bertemu dengan orang terkenal pada saat itu, sperti Thomas Huxley dan George Eliot.<\/p>\n<p>Saat usianya memasuki 30 tahun, Spencer telah mampu menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Social Statics. tiga tahun kemudian, pamannya (Thomas Spencer) meninggal dunia dan mewariskan harta cukup banyak kepada Spencer. Berbekal warisan itulah Spencer berani memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencurahkan seluruh kegiatannya untuk menulis. Keberhasilan Spencer menulis banyak buku karena selain gemar membaca, Spencer adalah kolektor yang tekun mengumpulkan fakta-fakta mengenai masyarakat dimanapun di dunia ini, seorang yang rajin mengumpulkan informasi, membuat sistematika atau klasifikasi data. Spencer memang sejak kecil mempunyai hasrat dan keinginan yang besaruntuk menambah dan mengumpulkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan memahami keseluruhannya.<\/p>\n<p>Spencer adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep Survival of The Fittest atau yang kuatlah yang akan menang dalam bukunya Social Staticsyang terbit pada tahun 1850. Konsep ini untuk meggambarkan kekuatan fundamental ilmu biologi yang menjadi dasar perkembangan evolusioner. Konsepsi ini dipengaruhi karya Thomas R. Malthus mengenai tekanan kependudukan, An Essay on The Principle of Population(1798). Isi konsepnya antara lain adalah perjuangan untuk dapat bertahan bagi suatu masyarakat atau bagi beberapa masyarakat agar menghasilkan keseimbangan karena perubahan yang terjadi dari keadaan yang homogen yang tidak terpadu menjadi heterogen yang terpadu.<\/p>\n<p>Sembilan tahun kemudian teori evolusioner karya Darwin terbit. Spencer dan Darwin melihat adanya persamaan antara evolusi organisme dengan evolusi sosial. Evolusi sosial adalah serangkaian perubahan sosial dalam masyarakat yang langsung dalam waktu lama yang berawal dari kelompok suku atau masyarakat yang masih sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi kelompok suku atau masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang kompleks.<\/p>\n<h4>Karya-Karya Herbert Spencer<\/h4>\n<p>Selama hidupnya, Spencer menghasilkan sejumlah karya besar. Sebagian besar pemikiran Spencer tentang sosiologi ditulis dalam 10 buku (dua jilid Biologi, dua jilid psikologi, tiga jilid Sosiologi, dan dua jilid tentang moralitas) yang kemudian dikemas menjadi Programme of a System of Synthetic Philosophy (1862-1896). Paket ini memuat seluruh teori evolusi universal, meliputi evolusi bilogi, psikologi, sosial, dan etika. Karya- karya tersebut mengukuhkan dirinya sebagai penganut filsafat sintesis, yakni ilmu filsafat yang menggabungkan beberapa ilmu pengetahuan menjadi satu. Dari sederet karya tersebut, buku Principles of Sociology merupakan karya monumental Spencer yang mendorong perkembangan Sosiologi sebagai ilmu populer di masyarakat, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski begitu, Spencer kurang mendapat sambutan di negeri sendiri.<\/p>\n<p>Berikut sejumlah karya utama Spencer semaca hidupnya:<br \/>\n1. Social Statics (1850)<br \/>\n2. Principles of Psychologi (1855)<br \/>\n3. Principles of Biology (1861 dan 1864)<br \/>\n4. First Princeples (1862)<br \/>\n5. The Study of Sociology (1873)<br \/>\n6. Descriptive Sociology (1878)<br \/>\n7. The Principles of Sociology (1877)<br \/>\n8. Principles of Ethics (1883)<br \/>\n9. Esai-esai :<br \/>\n&#8211; Education (1861)<br \/>\n&#8211; The Study of Sociology (1873)<br \/>\n&#8211; The Nature and Reality of Religion (1885)<br \/>\n&#8211; Various and Fragments (1897)<br \/>\n&#8211; Facts and Comments (1902)<\/p>\n<p>Bila dicermati, karya-karya Spencer senantiasa mendasarkan konsepsi bahwa seluruh alam, baik yang berwujud organis, nonorganis, maupun superorganis berevolusi karena dorongan kekuatan mutlak yang kemudian disebutnya sebagai evolusi universal. Gambaran menyeluruh tentang evolusi universal umat manusia menunjukkan bahwa pada garis besarnya Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari suatu bangsa di dunia sudah melalui tingkatan evolusi yang sama<\/p>\n","content_text":"Biografi Herbert Spencer\nSpencer lahir di Derbyshire, Midland, Inggris pada 27 April 1820 dan meninggal pada tahun 1903. Dia adalah salah satu anak dari sembilan bersaudara yang bertahan hidup dari pasangan William dan Haerriet Spencer, guru sekolah di Derbyshire. Karena alasan kesehatan, Spencer kecil menjalani pendidikan di rumah. Dia belajar teknik dan bidang utilitarian. Ia adalah seorang filsuf inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik terkemuka. Meskipun kebanyakan karya yang ditulisnya berisi tentang teori politik dan menekankan pada &#8220;keuntungan akan kemurahan hati&#8221;, dia lebih dikenal sebagai bapak darwinisme sosial. Spencer seringkali menganalisis masyarakat sebagai sistem evolusi, ia juga menjelaskan definisi tentang &#8220;hukum rimba&#8221; dalam ilmu sosial. Dia berkontribusi terhadap berbagai macamsubyek,termasuk etnis, metafisika, agama, politik, retorik, biologi dan psikolog\n\nSpencer saat ini dikritik sebagai contoh sempurna untuk skientism atau paham ilmiah, sementara banyak orang yang kagum padanya di saat ia masih hidup.\n\nDalam usia relatif muda, 17 tahun, Spencer muda terjun ke dunia kerja sebagai insinyur sipil di sebuah perusahaan kereta api London dan Birmingham. Karirnya terbilang bagus hingga akhhirnya dia dipercaya menjadi wakil kepala bagian mesin di perusahaan tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya bekerja di perusahaan kereta api, kemudian pindah pekerjaan menjadi redaktur majalah The Economist yang saat itu terkenal. Spencer mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa dalam hal mekanik. Hal ini akan ikut serta mewarnai seluruh imajinasinya tentang biologi dan sosial di masa yang akan datang Selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri.\nSpencer memiliki kemampuan sangat baik dalam mekanika. Kemampuan itulah yang mempengaruhi imajinasinya dalam ilmu pengetahuan, terutama biologi, masyarakat, dan ilmu sosial. Pada saat menjadi insinyur inilah Spencer mulai belajar menulis artikel secara serius. Tulisan pertamanya di bidang sosial dengan judul On the Proper Sphere of Government (1842) dimuat di majalahNon Conformist. Enam tahun kemudian tulisan yang sama dimuat The Economist, majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di London.\nTulisan Spencer mendapat sambutan hagat penggemarnya sehingga mereka rela membayar lebih dulu tulisan-tulisan Spencer sebelum tulisan itu diterbitkan. Kondisi inilah yang mendorong Spencer untuk berpikir alih profesi menjadi ilmu bidang pengetahuan sosial, khususnya sosiologi. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, saat menginjak 28 tahun dia pinndah menjadi wakil editor majalahThe Economist, berita mingguan yang berbasis di London. Majalah ini merupakan oposisi pemerintah dan pendukung perdagangan bebas. Melalui majalah ini Spencer banyak bertemu dengan orang terkenal pada saat itu, sperti Thomas Huxley dan George Eliot.\nSaat usianya memasuki 30 tahun, Spencer telah mampu menerbitkan buku pertamanya yang berjudul Social Statics. tiga tahun kemudian, pamannya (Thomas Spencer) meninggal dunia dan mewariskan harta cukup banyak kepada Spencer. Berbekal warisan itulah Spencer berani memutuskan untuk berhenti bekerja dan mencurahkan seluruh kegiatannya untuk menulis. Keberhasilan Spencer menulis banyak buku karena selain gemar membaca, Spencer adalah kolektor yang tekun mengumpulkan fakta-fakta mengenai masyarakat dimanapun di dunia ini, seorang yang rajin mengumpulkan informasi, membuat sistematika atau klasifikasi data. Spencer memang sejak kecil mempunyai hasrat dan keinginan yang besaruntuk menambah dan mengumpulkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan memahami keseluruhannya.\nSpencer adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep Survival of The Fittest atau yang kuatlah yang akan menang dalam bukunya Social Staticsyang terbit pada tahun 1850. Konsep ini untuk meggambarkan kekuatan fundamental ilmu biologi yang menjadi dasar perkembangan evolusioner. Konsepsi ini dipengaruhi karya Thomas R. Malthus mengenai tekanan kependudukan, An Essay on The Principle of Population(1798). Isi konsepnya antara lain adalah perjuangan untuk dapat bertahan bagi suatu masyarakat atau bagi beberapa masyarakat agar menghasilkan keseimbangan karena perubahan yang terjadi dari keadaan yang homogen yang tidak terpadu menjadi heterogen yang terpadu.\nSembilan tahun kemudian teori evolusioner karya Darwin terbit. Spencer dan Darwin melihat adanya persamaan antara evolusi organisme dengan evolusi sosial. Evolusi sosial adalah serangkaian perubahan sosial dalam masyarakat yang langsung dalam waktu lama yang berawal dari kelompok suku atau masyarakat yang masih sederhana dan homogen kemudian secara bertahap menjadi kelompok suku atau masyarakat yang lebih maju dan akhirnya menjadi masyarakat modern yang kompleks.\nKarya-Karya Herbert Spencer\nSelama hidupnya, Spencer menghasilkan sejumlah karya besar. Sebagian besar pemikiran Spencer tentang sosiologi ditulis dalam 10 buku (dua jilid Biologi, dua jilid psikologi, tiga jilid Sosiologi, dan dua jilid tentang moralitas) yang kemudian dikemas menjadi Programme of a System of Synthetic Philosophy (1862-1896). Paket ini memuat seluruh teori evolusi universal, meliputi evolusi bilogi, psikologi, sosial, dan etika. Karya- karya tersebut mengukuhkan dirinya sebagai penganut filsafat sintesis, yakni ilmu filsafat yang menggabungkan beberapa ilmu pengetahuan menjadi satu. Dari sederet karya tersebut, buku Principles of Sociology merupakan karya monumental Spencer yang mendorong perkembangan Sosiologi sebagai ilmu populer di masyarakat, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Meski begitu, Spencer kurang mendapat sambutan di negeri sendiri.\nBerikut sejumlah karya utama Spencer semaca hidupnya:\n1. Social Statics (1850)\n2. Principles of Psychologi (1855)\n3. Principles of Biology (1861 dan 1864)\n4. First Princeples (1862)\n5. The Study of Sociology (1873)\n6. Descriptive Sociology (1878)\n7. The Principles of Sociology (1877)\n8. Principles of Ethics (1883)\n9. Esai-esai :\n&#8211; Education (1861)\n&#8211; The Study of Sociology (1873)\n&#8211; The Nature and Reality of Religion (1885)\n&#8211; Various and Fragments (1897)\n&#8211; Facts and Comments (1902)\nBila dicermati, karya-karya Spencer senantiasa mendasarkan konsepsi bahwa seluruh alam, baik yang berwujud organis, nonorganis, maupun superorganis berevolusi karena dorongan kekuatan mutlak yang kemudian disebutnya sebagai evolusi universal. Gambaran menyeluruh tentang evolusi universal umat manusia menunjukkan bahwa pada garis besarnya Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari suatu bangsa di dunia sudah melalui tingkatan evolusi yang sama","date_published":"2023-04-14T15:48:22+07:00","date_modified":"2023-04-12T15:57:44+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Herbert-Spencer-Biografi.jpg","tags":["Herbert Spencer","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/pierre-guillaume-frederic-le-play-ilmuwan-sosiologi-prancis\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/pierre-guillaume-frederic-le-play-ilmuwan-sosiologi-prancis\/","title":"Pierre Guillaume Fr\u00e9d\u00e9ric Le Play, Ilmuwan Sosiologi Prancis","content_html":"<h4><strong>Biografi Pierre Guillaume Frederic Le Play<\/strong><\/h4>\n<p>Fr\u00e9d\u00e9ric Le Play , lengkapnya Pierre-Guillaume-Fr\u00e9d\u00e9ric Le Play , terlahir pada tanggal 11 April 1806, di wilayah La Rivi\u00e8re-Saint-Sauveur , Prancis dan meninggal 5 April 1882, Paris), insinyur pertambangan dan sosiolog Prancis yang mengembangkan teknik untuk penelitian sistematis pada keluarga .<\/p>\n<p>Le Play adalah insinyur kepala dan profesor metalurgi di \u00c9cole des Mines dari tahun 1840 dan inspektur sekolah dari tahun 1848. Dia mengabdikan waktu luangnya untuk penelitian sosiologi sampai sekitar tahun 1855, ketika, dia merasa kecewa dengan kondisi buruh industri dan oleh keadaan revolusi berulang di Perancis , dia menyerah untuk melanjutkan penelitiannya dibidang sosiologi . Selanjutnya dia menjabat sebagai senator dari tahun 1867, tetapi, setelah kekalahan negaranya di Perang Prancis-Jerman tahun 1870\u201371, akhirnya dia meninggalkan politik.<\/p>\n<h4><strong>Metode Penelitian Guillaume Frederic Le Play<\/strong><\/h4>\n<p>Sebagai seorang sosiolog, Le Play menentang gagasan tentang kemajuan evolusioner berkelanjutan masyarakat. Dia memandang keluarga sebagai agen utama stabilitas sosial dan otoritas moral dalam menghadapi industrialisasi dan konflik sosial yang menyertainya, dan dia mengemukakan teori perubahan siklus dalam masyarakat yang terkait dengan naik atau turunnya moral keluarga. Dalam rangka mengumpulkan data untuk teorinya, Le Play mengembangkan apa yang sekarang dikenal sebagai metode studi kasus , Dia berhasil mengenalkan suatu metode tertentu di dalam meneliti dan menganalis gejala-gejala sosial yaitu dengan jalan mengadakan observasi terhadap fakta-fakta sosial dan analisis induktif. Penelitian-penelitiannya terhadap masyarakat menghasilkan dalil bahwa lingkungan geografis menentukan jenis pekerjaan, dan hal ini mempengaruhi organisasi ekonomi, keluarga serta lembaga-lembaga lainnya. Keluarga merupakan objek utama dalam penyelidikan. Dia berkeyakinan bahwa anggaran belanja suatu keluarga merupakan ukuran kuantitatif bagi kehidupan keluarga sekaligus menunjukkan kepentingan keluarga tersebut. Akhirnya dikatakan bahwa organisasi sosial keluarga sepenuhnya terikat pada anggaran keluarga tersebut. Perkembangan statistika pengambilan sampel , dasar metodologi survei sosial , dipengaruhi oleh metode pengumpulan data Le Play yang ia peroleh melalui penelitian lapangan.<\/p>\n<h4><strong>Hasil Karya Pierre Guillaume Frederic Le Play<\/strong><\/h4>\n<p>Le Play menerbitkan temuannya tentang keluarga dan masyarakat dalam studi enam jilid Les Ouvriers europ\u00e9ens (1855; \u201cPekerja Eropa\u201d), dalam La R\u00e9forme sociale en France, 2 vol. (1864; \u201cReformasi Sosial di Prancis\u201d), dan dalam L&#8217;Organisation du travail (1870; \u201cOrganisasi Buruh\u201d).<\/p>\n","content_text":"Biografi Pierre Guillaume Frederic Le Play\nFr\u00e9d\u00e9ric Le Play , lengkapnya Pierre-Guillaume-Fr\u00e9d\u00e9ric Le Play , terlahir pada tanggal 11 April 1806, di wilayah La Rivi\u00e8re-Saint-Sauveur , Prancis dan meninggal 5 April 1882, Paris), insinyur pertambangan dan sosiolog Prancis yang mengembangkan teknik untuk penelitian sistematis pada keluarga .\nLe Play adalah insinyur kepala dan profesor metalurgi di \u00c9cole des Mines dari tahun 1840 dan inspektur sekolah dari tahun 1848. Dia mengabdikan waktu luangnya untuk penelitian sosiologi sampai sekitar tahun 1855, ketika, dia merasa kecewa dengan kondisi buruh industri dan oleh keadaan revolusi berulang di Perancis , dia menyerah untuk melanjutkan penelitiannya dibidang sosiologi . Selanjutnya dia menjabat sebagai senator dari tahun 1867, tetapi, setelah kekalahan negaranya di Perang Prancis-Jerman tahun 1870\u201371, akhirnya dia meninggalkan politik.\nMetode Penelitian Guillaume Frederic Le Play\nSebagai seorang sosiolog, Le Play menentang gagasan tentang kemajuan evolusioner berkelanjutan masyarakat. Dia memandang keluarga sebagai agen utama stabilitas sosial dan otoritas moral dalam menghadapi industrialisasi dan konflik sosial yang menyertainya, dan dia mengemukakan teori perubahan siklus dalam masyarakat yang terkait dengan naik atau turunnya moral keluarga. Dalam rangka mengumpulkan data untuk teorinya, Le Play mengembangkan apa yang sekarang dikenal sebagai metode studi kasus , Dia berhasil mengenalkan suatu metode tertentu di dalam meneliti dan menganalis gejala-gejala sosial yaitu dengan jalan mengadakan observasi terhadap fakta-fakta sosial dan analisis induktif. Penelitian-penelitiannya terhadap masyarakat menghasilkan dalil bahwa lingkungan geografis menentukan jenis pekerjaan, dan hal ini mempengaruhi organisasi ekonomi, keluarga serta lembaga-lembaga lainnya. Keluarga merupakan objek utama dalam penyelidikan. Dia berkeyakinan bahwa anggaran belanja suatu keluarga merupakan ukuran kuantitatif bagi kehidupan keluarga sekaligus menunjukkan kepentingan keluarga tersebut. Akhirnya dikatakan bahwa organisasi sosial keluarga sepenuhnya terikat pada anggaran keluarga tersebut. Perkembangan statistika pengambilan sampel , dasar metodologi survei sosial , dipengaruhi oleh metode pengumpulan data Le Play yang ia peroleh melalui penelitian lapangan.\nHasil Karya Pierre Guillaume Frederic Le Play\nLe Play menerbitkan temuannya tentang keluarga dan masyarakat dalam studi enam jilid Les Ouvriers europ\u00e9ens (1855; \u201cPekerja Eropa\u201d), dalam La R\u00e9forme sociale en France, 2 vol. (1864; \u201cReformasi Sosial di Prancis\u201d), dan dalam L&#8217;Organisation du travail (1870; \u201cOrganisasi Buruh\u201d).","date_published":"2023-04-13T11:04:32+07:00","date_modified":"2023-04-12T11:15:44+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Frederic_Le_Play.jpg","tags":["Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/ibnu-khaldun-sejarawan-dan-bapak-sosiologi-islam\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/ibnu-khaldun-sejarawan-dan-bapak-sosiologi-islam\/","title":"Ibnu Khaldun, Sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam","content_html":"<p>Selain Abu Dzar Alghifari Radiyallahu Anhu, Ibnu Khaldun juga dianggap banyak ilmuwan zaman sekarang sebagai bapak sosiologi islam. Sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam ini berasal dari Tunisia. Ia keturunan dari Yaman dengan nama lengkapnya Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin Al Hasan. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun. Nama popular ini berasal dari nama keluarga besarnya, Bani Khaldun.<\/p>\n<p>Ia lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332. di tanah kelahirannya itu, ia mempelajari berbagai macam ilmu, seperti Syariat (Tafsir, Hadist, Tauhid, Fikih), Fisika dan Matematika. Sejak kecil, ia sudah hafal Al Quran. Saat itu, Tunisia menjadi pusat perkembangan ilmu di Afrika Utara.<\/p>\n<p>Karya-karya besar yang lahir ditangannya, yaitu sebuah kitab yang sering disebut Al \u2018Ilbar (Sejarah Umum), terbitan Kairo tahun 1284. Kitab ini terdiri atas 7 jilid berisi kajian Sejarah, yang didahului oleh <em>Muqaddimah <\/em>(jilid 1), yang berisi tentang pembahasan masalah-masalah sosial manusia.<\/p>\n<p><em>Muqaddimah <\/em>(yang sebenarnya merupakan pembuka kitab tersebut) popularitasnya melebihi kitab itu sendiri. <em>Muqaddimah <\/em>membuka jalan menuju perubahan ilmu-ilmu sosial. Menurut pendapatnya, politik tak bisa dipisahkan dari kebudayaan dan masyarakat dibedakan atas masyarakat kota dan desa. Dalam <em>Muqaddimah <\/em>ini pula Ibnu Khaldun menampakkan diri sebagai ahli Sosiologi dan Sejarah. Teori pokoknya dalam Sosiologi Umum dan Politik adalah konsep <em>ashabiyah <\/em>(solidaritas sosial). Asal-usul solidaritas ini adalah ikatan darah yang disertai kedekatan hidup bersama. Hidup bersama juga dapat mewujudkan solidaritas yang sama kuat dengan ikatan darah. Menurutnya, solidaritas sosial itu sangat kuat terlihat pada masyarakat pengembara, karena corak kehidupan mereka yang unik dan kebutuhan mereka untuk saling Bantu. Relevansi teori ini misalnya dapat ditemukan pada teori-teori tentang konsiliasi kelompok-kelompok sosial dalam menyelesaikan konflik tantangan tertentu. Relevansi teori Khaldun, misalnya juga dapat ditemukan dalam teori Ernest Renan tentang kelahiran bangsa. Tantangan yang dihadapi masyarakat pengembara dalam teori Khaldun tampaknya, meski tidak semua, pararel dengan \u201ckesamaan sejarah\u201d embrio bangsa dalam teori Ernest Renan. Kebutuhan untuk saling Bantu mengatasi tantangan ini juga memiliki relevansi dalam kajian-kajian psikologi sosial terutama berkenaan dengan kebutuhan untuk mengikatkan diri dengan orang lain atau kelompok sosial yang lazim disebut afiliasi.<\/p>\n<p>Karya Ibnu Kholdul yang lain adalah Kitab al-\u2018Ibar, wa Diwan al-Mubtada\u2019 wa al- Khabar, fi Ayyam al-\u2018Arab wa al-\u2018Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-\u2018Akbar. (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang- orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab \u2018Ibar, yang terdiri dari tiga buku: Buku pertama, adalah sebagai kitab Muqaddimah, atau jilid pertama yang berisi tentang: Masyarakat dan ciri-cirinya yang hakiki, yaitu pemerintahan, kekuasaan, pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan dengan segala sebab dan alasan-alasannya. Buku kedua terdiri dari empat jilid, yaitu jilid kedua, ketiga, keempat, dan kelima, yang menguraikan tentang sejarah bangsa Arab, generasi-generasi mereka serta dinasti-dinasti mereka. Di samping itu juga mengandung ulasan tentang bangsa-bangsa terkenal dan negara yang sezaman dengan mereka, seperti bangsa Syiria, Persia, Yahudi (Israel), Yunani, Romawi, Turki dan Franka (orang-orang Eropa). Kemudian Buku Ketiga terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujuh, yang berisi tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara- negara Maghribi (Afrika Utara).<\/p>\n","content_text":"Selain Abu Dzar Alghifari Radiyallahu Anhu, Ibnu Khaldun juga dianggap banyak ilmuwan zaman sekarang sebagai bapak sosiologi islam. Sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam ini berasal dari Tunisia. Ia keturunan dari Yaman dengan nama lengkapnya Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin Al Hasan. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun. Nama popular ini berasal dari nama keluarga besarnya, Bani Khaldun.\nIa lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332. di tanah kelahirannya itu, ia mempelajari berbagai macam ilmu, seperti Syariat (Tafsir, Hadist, Tauhid, Fikih), Fisika dan Matematika. Sejak kecil, ia sudah hafal Al Quran. Saat itu, Tunisia menjadi pusat perkembangan ilmu di Afrika Utara.\nKarya-karya besar yang lahir ditangannya, yaitu sebuah kitab yang sering disebut Al \u2018Ilbar (Sejarah Umum), terbitan Kairo tahun 1284. Kitab ini terdiri atas 7 jilid berisi kajian Sejarah, yang didahului oleh Muqaddimah (jilid 1), yang berisi tentang pembahasan masalah-masalah sosial manusia.\nMuqaddimah (yang sebenarnya merupakan pembuka kitab tersebut) popularitasnya melebihi kitab itu sendiri. Muqaddimah membuka jalan menuju perubahan ilmu-ilmu sosial. Menurut pendapatnya, politik tak bisa dipisahkan dari kebudayaan dan masyarakat dibedakan atas masyarakat kota dan desa. Dalam Muqaddimah ini pula Ibnu Khaldun menampakkan diri sebagai ahli Sosiologi dan Sejarah. Teori pokoknya dalam Sosiologi Umum dan Politik adalah konsep ashabiyah (solidaritas sosial). Asal-usul solidaritas ini adalah ikatan darah yang disertai kedekatan hidup bersama. Hidup bersama juga dapat mewujudkan solidaritas yang sama kuat dengan ikatan darah. Menurutnya, solidaritas sosial itu sangat kuat terlihat pada masyarakat pengembara, karena corak kehidupan mereka yang unik dan kebutuhan mereka untuk saling Bantu. Relevansi teori ini misalnya dapat ditemukan pada teori-teori tentang konsiliasi kelompok-kelompok sosial dalam menyelesaikan konflik tantangan tertentu. Relevansi teori Khaldun, misalnya juga dapat ditemukan dalam teori Ernest Renan tentang kelahiran bangsa. Tantangan yang dihadapi masyarakat pengembara dalam teori Khaldun tampaknya, meski tidak semua, pararel dengan \u201ckesamaan sejarah\u201d embrio bangsa dalam teori Ernest Renan. Kebutuhan untuk saling Bantu mengatasi tantangan ini juga memiliki relevansi dalam kajian-kajian psikologi sosial terutama berkenaan dengan kebutuhan untuk mengikatkan diri dengan orang lain atau kelompok sosial yang lazim disebut afiliasi.\nKarya Ibnu Kholdul yang lain adalah Kitab al-\u2018Ibar, wa Diwan al-Mubtada\u2019 wa al- Khabar, fi Ayyam al-\u2018Arab wa al-\u2018Ajam wa al-Barbar, wa man Asharuhum min dzawi as-Sulthani al-\u2018Akbar. (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir yang mencakup Peristiwa Politik Mengenai Orang- orang Arab, Non-Arab, dan Barbar, serta Raja-raja Besar yang Semasa dengan Mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab \u2018Ibar, yang terdiri dari tiga buku: Buku pertama, adalah sebagai kitab Muqaddimah, atau jilid pertama yang berisi tentang: Masyarakat dan ciri-cirinya yang hakiki, yaitu pemerintahan, kekuasaan, pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan dengan segala sebab dan alasan-alasannya. Buku kedua terdiri dari empat jilid, yaitu jilid kedua, ketiga, keempat, dan kelima, yang menguraikan tentang sejarah bangsa Arab, generasi-generasi mereka serta dinasti-dinasti mereka. Di samping itu juga mengandung ulasan tentang bangsa-bangsa terkenal dan negara yang sezaman dengan mereka, seperti bangsa Syiria, Persia, Yahudi (Israel), Yunani, Romawi, Turki dan Franka (orang-orang Eropa). Kemudian Buku Ketiga terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujuh, yang berisi tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara- negara Maghribi (Afrika Utara).","date_published":"2023-04-12T08:37:10+07:00","date_modified":"2023-04-10T08:46:29+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Ibnu-Khaldun-Sejarawan-dan-Bapak-Sosiologi-Islam-sosiopedia.jpg","tags":["Ibnu Khaldun","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/biografi-abu-dzar-alghifari-bapak-sosiologi-islam\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/biografi-abu-dzar-alghifari-bapak-sosiologi-islam\/","title":"Biografi Abu Dzar Alghifari, Bapak Sosiologi Islam","content_html":"<h4>Biografi Abu Dzar Alghifari<\/h4>\n<p>Abu Dzar berasal dari Suku Ghiffar yang tinggal di daerah yang dilalui oleh kafilah-kafilah dagang, Tanggal Kelahiran Abu Dzar Al-Ghifari tidak diketahui ahli sejarah dan beliau terlahir dengan nama Jundub, Abu Dzar Al-Ghifari wafat di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah pada 8 Dzulhijjah 34 hijriyah.<\/p>\n<p>Abu Dzar termasuk sahabat nabi, karena ia masuk islam ketika nabi masih hidup. Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan keislamannya. Abu Dzar Al Ghifari berasal dari suku Ghifar.<\/p>\n<p>Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi\u2019at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi\u2019at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.<\/p>\n<p>Abu Dzar sebelum memeluk Islam, beliau dulu adalah seorang perampok yang mewarisi karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melaui jalur itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk mendapatkan harta dengan cara mudah. Hidupnya penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Siapa pun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekkah-Syiria dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.<\/p>\n<p>Namun begitu, hati kecil Abu Dzar sesungguhnya tak menerimanya. Pergolakan batin membuatnya sangat menyesali perbuatan buruk tersebut. Akhirnya ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Tindakannya itu menimbulkan amarah sukunya. Abu Dzar akhirnya hijrah ke Nejed bersama ibu dan saudara laki-lakinya, Anis, dan menetap di kediaman pamannya.<\/p>\n<p>Di tempat ini pun ia tidak lama. Ide-idenya yang revolusioner berkait dengan sikap hidup tak mengabaikan sesama dan mendistribusikan sebagian harta yang dimiliki, menimbulkan kebencian orang-orang sesuku. Ia pun diadukan kepada pamannya. Kembali Abu Dzar hijrah ke kampung dekat Mekkah.<\/p>\n<p>Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Berita ini membuat penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya, Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab.<\/p>\n<p>Setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Unais menjelaskan bahwa ia telah menemui seseorang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan jelek. Orang tersebut adalah yang benar ucapannya.<\/p>\n<p>Abu dzar semakin penasaran sehingga iapun pergi ke mekah, saat itu ia bertemu dengan Ali bin Abi Thalib, kemudian Ali bin Abi Thalib mengajaknya pergi menemui rasulullah.<\/p>\n<p>Inilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam berwasiat kepadanya : \u201cWahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami\u201d.<\/p>\n<p>Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam: \u201cDemi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam\u201d. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.<\/p>\n<p>Setelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling Mekkah untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia dipukuli oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia dibebaskan dari suku Quraisy, setalah suku Quraisy mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar.<\/p>\n<h4>Dianggap sebagai Bapak Sosiolog Islam<\/h4>\n<p>Meski tak sepopuler sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, namun sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat menerapkan prinsip egaliter, kesetaraan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah. Ditentangnya semua orang yang cenderung memupuk harta untuk kepentingan pribadi, termasuk sahabat-sahabatnya sendiri.<\/p>\n<p>Di masa Khalifah Utsman, pendapat kerasnya tentang gejala nepotisme dan penumpukan harta yang terjadi di kalangan Quraisy membuat ia dikecam banyak pihak. Sikap serupa ia tunjukkan kepada pemerintahan Muawiyah yang menjadi gubernur Syiria. Baginya, adalah kewajiban setiap muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.<\/p>\n<p>Kepada Muawiyah yang membangun istana hijaunya atau Istana Al Khizra, abu Dzar menegur, \u201cKalau Anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri berarti Anda telah berlaku boros,\u201d katanya. Muawiyah hanya terdiam mendengar teguran sahabatnya ini.<\/p>\n<p>Dukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut. Sikap wara\u2019 dan zuhud selalu jadi perilaku hidupnya. Sikapnya inilah yang dipuji Rasulullah . Saat Rasul akan berpulang, Abu Dzar dipanggilnya. Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi berkata \u201cAbu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya. Dia tidak akan berubah walaupun aku meninggal nanti.\u201d Ucapan Nabi ternyata benar. Hingga akhir hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat shaleh.<\/p>\n<p>Sebelum masuk Islam dia adalah pemuka kelompok Ghifari. Dia seorang penganut ideologi yang bersedia untuk mati demi tegaknya kebenaran. Baginya kebenaran adalah mengatakan sesuatu yang hak dengan terus terang dan menentang yang batil. Dia adalah tokoh pembela kaum mustad\u2019afin atau kaum yang tertindas, seorang Muslim yang komited, tegar, revolusioner, yang menyampaikan pesan persamaan, persaudaraan, keadilan, dan pembebasan.<\/p>\n<p>Dia melakukan demonstrasi-demonstrasi dan tunjuk perasaan menentang kedzaliman penguasa. Dia menyampaikan kontrol sosial, meminta kepada orang yang berkuasa untuk berlaku adil terhadap rakyat miskin yang telah kehilangan hak-haknya. Dia juga mendorong masyarakat untuk merebut hak mereka dan memberantas kemiskinan yang mendekatkan diri kepada kekufuran. Sehingga dia dianggap sebagai bapak pencetus kontrol social di kalangan umat islam pada zaman itu, dan kisah &#8211; kisahnya menjadi rujukan ulama dan ilmuwan pada zaman &#8211; zaman sesudahnya tentang permasalahan social.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<ol>\n<li><a href=\"https:\/\/biografi-tokoh-ternama.blogspot.com\/2014\/07\/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahuanhu.html\">biografi-tokoh-ternama.blogspot.com<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.laduni.id\/post\/read\/80986\/biografi-sahabat-abu-dzar-al-ghifari#Riwayat\">www.laduni.id<\/a><\/li>\n<\/ol>\n","content_text":"Biografi Abu Dzar Alghifari\nAbu Dzar berasal dari Suku Ghiffar yang tinggal di daerah yang dilalui oleh kafilah-kafilah dagang, Tanggal Kelahiran Abu Dzar Al-Ghifari tidak diketahui ahli sejarah dan beliau terlahir dengan nama Jundub, Abu Dzar Al-Ghifari wafat di Rabza, sebuah kampung kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah pada 8 Dzulhijjah 34 hijriyah.\nAbu Dzar termasuk sahabat nabi, karena ia masuk islam ketika nabi masih hidup. Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan keislamannya. Abu Dzar Al Ghifari berasal dari suku Ghifar.\nBani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi\u2019at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi\u2019at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.\nAbu Dzar sebelum memeluk Islam, beliau dulu adalah seorang perampok yang mewarisi karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melaui jalur itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk mendapatkan harta dengan cara mudah. Hidupnya penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Siapa pun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekkah-Syiria dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.\nNamun begitu, hati kecil Abu Dzar sesungguhnya tak menerimanya. Pergolakan batin membuatnya sangat menyesali perbuatan buruk tersebut. Akhirnya ia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Tindakannya itu menimbulkan amarah sukunya. Abu Dzar akhirnya hijrah ke Nejed bersama ibu dan saudara laki-lakinya, Anis, dan menetap di kediaman pamannya.\nDi tempat ini pun ia tidak lama. Ide-idenya yang revolusioner berkait dengan sikap hidup tak mengabaikan sesama dan mendistribusikan sebagian harta yang dimiliki, menimbulkan kebencian orang-orang sesuku. Ia pun diadukan kepada pamannya. Kembali Abu Dzar hijrah ke kampung dekat Mekkah.\nNama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Berita ini membuat penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya, Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab.\nSetelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Unais menjelaskan bahwa ia telah menemui seseorang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan jelek. Orang tersebut adalah yang benar ucapannya.\nAbu dzar semakin penasaran sehingga iapun pergi ke mekah, saat itu ia bertemu dengan Ali bin Abi Thalib, kemudian Ali bin Abi Thalib mengajaknya pergi menemui rasulullah.\nInilah saat yang paling dinanti oleh Abu Dzar dan ketika Rasulullah menawarkan Islam kepadanya, segera Abu Dzar menyatakan masuk Islam dituntun Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam berwasiat kepadanya : \u201cWahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami\u201d.\nMendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam: \u201cDemi yang Mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam\u201d. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.\nSetelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling Mekkah untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia dipukuli oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia dibebaskan dari suku Quraisy, setalah suku Quraisy mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar.\nDianggap sebagai Bapak Sosiolog Islam\nMeski tak sepopuler sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, namun sosoknya tak dapat dilepaskan sebagai tokoh yang paling giat menerapkan prinsip egaliter, kesetaraan dalam hal membelanjakan harta di jalan Allah. Ditentangnya semua orang yang cenderung memupuk harta untuk kepentingan pribadi, termasuk sahabat-sahabatnya sendiri.\nDi masa Khalifah Utsman, pendapat kerasnya tentang gejala nepotisme dan penumpukan harta yang terjadi di kalangan Quraisy membuat ia dikecam banyak pihak. Sikap serupa ia tunjukkan kepada pemerintahan Muawiyah yang menjadi gubernur Syiria. Baginya, adalah kewajiban setiap muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.\nKepada Muawiyah yang membangun istana hijaunya atau Istana Al Khizra, abu Dzar menegur, \u201cKalau Anda membangun istana ini dengan uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri berarti Anda telah berlaku boros,\u201d katanya. Muawiyah hanya terdiam mendengar teguran sahabatnya ini.\nDukungannya kepada semangat solidaritas sosial, kepedulian kalangan berpunya kepada kaum miskin, bukan hanya dalam ucapan. Seluruh sikap hidupnya ia tunjukkan kepada upaya penumbuhan semangat tersebut. Sikap wara\u2019 dan zuhud selalu jadi perilaku hidupnya. Sikapnya inilah yang dipuji Rasulullah . Saat Rasul akan berpulang, Abu Dzar dipanggilnya. Sambil memeluk Abu Dzar, Nabi berkata \u201cAbu Dzar akan tetap sama sepanjang hidupnya. Dia tidak akan berubah walaupun aku meninggal nanti.\u201d Ucapan Nabi ternyata benar. Hingga akhir hayatnya kemudian, Abu Dzar tetap dalam kesederhanaan dan sangat shaleh.\nSebelum masuk Islam dia adalah pemuka kelompok Ghifari. Dia seorang penganut ideologi yang bersedia untuk mati demi tegaknya kebenaran. Baginya kebenaran adalah mengatakan sesuatu yang hak dengan terus terang dan menentang yang batil. Dia adalah tokoh pembela kaum mustad\u2019afin atau kaum yang tertindas, seorang Muslim yang komited, tegar, revolusioner, yang menyampaikan pesan persamaan, persaudaraan, keadilan, dan pembebasan.\nDia melakukan demonstrasi-demonstrasi dan tunjuk perasaan menentang kedzaliman penguasa. Dia menyampaikan kontrol sosial, meminta kepada orang yang berkuasa untuk berlaku adil terhadap rakyat miskin yang telah kehilangan hak-haknya. Dia juga mendorong masyarakat untuk merebut hak mereka dan memberantas kemiskinan yang mendekatkan diri kepada kekufuran. Sehingga dia dianggap sebagai bapak pencetus kontrol social di kalangan umat islam pada zaman itu, dan kisah &#8211; kisahnya menjadi rujukan ulama dan ilmuwan pada zaman &#8211; zaman sesudahnya tentang permasalahan social.\n&nbsp;\nSumber:\n\nbiografi-tokoh-ternama.blogspot.com\nwww.laduni.id","date_published":"2023-04-11T08:07:29+07:00","date_modified":"2023-04-10T08:35:55+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/8973086.jpg","tags":["abu dzar alghiffari","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/talcott-parsons\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/talcott-parsons\/","title":"Talcott Parsons","content_html":"<p>Parson lahir tahun 1902 di Colorado Spring, Colorado. Ia berasal dari latar belakang religius dan intelektual. Ayahnya seorang Pendeta, profesor dan akhirnya menjadi rektor sebuah perguruan tinggi kecil. Parsons mendapat gelar sarjana muda dari Universitas Amherst tahun 1924 dan menyiapkan disertasinya di London School of Economics. Di tahun berikutnya ia pindah ke Heidelberg, Jerman. Max Weber lama berkarir di Heildelberg dan meski ia telah meninggal 5 tahun sebelum kedatangan Parsons, pengaruh Weber tetap bertahan dan jandanya terus menyelengarakan diskusi ilmiah di rumah dan Parsons menghadirinya. Parson sangat dipengaruhi oleh karya Weber dan sangat dipengaruhi oleh karya Weber dan akhirnya menulis disertainya di Heidelberg, yang sebagian menjelaskan karya Weber.<\/p>\n<p>Parsons mengajar di Harvard pada 1927 dan meski berganti jurusan beberapa kali, ia tetap di Harvard hingga akhir hayatnya tahun 1979. Kemajuan kariernya tak begitu cepat. Ia tak mendapatkan jabatan profesor hingga tahun 1939. dua tahun sebelumnya ia menerbitkan The Structure Social Action, sebuah buku yang tak hanya memperkenalkan<\/p>\n<p>pemikiran sosiolog utama seperti Weber kepada sejumlah besar sosiolog, tetapi juga meletakkan landasan bagi teori yang dikembangkan Parsons sendiri. Sesudah itu karier akademis Parsons maju pesat. Dia menjadi ketua jurusan sosiologi di Harvard pada 1944 dan dua tahun kemudian mendirikan Departemen Hubungan Sosial yang tak hanya memasukkan sosiolog, tetapi juga berbagai sarjana ilmu sosial lainnya. Tahun 1949, ia terpilih menjadi Presiden The American Sociological Association. Tahun 1950-an dan menjelang tahun 1960-an, dengan diterbitkan buku seperti The Social System (1951) Parsons menjadi tokoh dominan dalam sosiologi Amerika.<\/p>\n<p>Tetapi, di akhir 1960-an Parsons mendapat serangan dari sayap radikal sosiologi Amerika yang baru muncul. Parsons dinilai berpandangan politik konservatif dan teorinya dianggap sangat konservatif dan tak lebih dari dianggap sangat konservatif dan hak lebih dari sebuah skema kategorisasi yang rumit. Tetapi tahun 1980-an timbul kembali perhatian terhadap teori Parsons, tak hanya di Amerika Serikat, tetapi di seluruh dunia (Alexander , 1982:83; Buxton, 1985; camic, 1990; Holton dan Tumer, 1986; Sciulli dan Gerstein, 1985). Horton dan Tumer mungkin terlalu berlebihan ketika mengatakan bahwa \u201ckarya Parsons mencerminkan sumbangan yang lebih berpengaruh terhadap teori sosiologi ketimbang Marx, Weber, Durkheim, atau pengikut mereka masa kini sekalipun\u201d (1986:13). Pemikiran Parsons tak hanya memengaruhi pemikir konservatif, tetapi juga teoritisi neo-Marxian, terutama Jurgen Habermas.<\/p>\n<p>Setelah kematian Parsons, sejumlah berkas mahasiswanya, semuanya sosiolog sangat terkenal, merenungkan arti penting teorinya maupun pencipta teori itu sendiri. Dalam renungan mereka, pada sosiolog ini mengemukakan pengertian menarik tentang Parsons dan karyanya. Beberapa pandangan selintas mengenai Parsons yang direproduksi di sini bukan dimaksudkan untuk membuat gambaran yang masuk akal, tetapi<\/p>\n<p>dimaksudkan untuk mengemukakan pandangan selintas yang provokatif mengenai Parsons dan karya-karyanya. Robert Merton adalah salah seorang mahasiswanya ketika Parsons baru saja mulai mengajar di Harvard. Merton yang menjadi teoritisi terkenal karena teori ciptaannya sendiri, menjelaskan bahwa mahasiswa pascasarjana yang datang ke Harvard di tahun-tahun itu bukan hendak belajar dengan Parsons, tetapi dengan Sorokin, anggota senior jurusan sosiologi yang telah menjadi musuh utama parsons (Zafirovski, 2001) :<br \/>\nGenerasi mahasiswa pascasarjana yang paling awal datang ke Harvard, dan tak seorangpun yang ingin belajar dengan Parsons. Mereka tak mungkin berbuat demikian selain karena alasan paling sederhana; pada 1931 ia belum dikenal publik apalagi sebagai seorang sosiolog. Meski kami mahasiswa belajar dengan Sorokin yang masyhur, sebagian diantara kami diharuskan bekerja dengan Parsons yang tak terkenal itu. (Merton, 1980-69).<br \/>\nCelaan Merton tentang kuliah pertama Parsons dalam teori, juga menarik, terutama karena materi yang disajikan adalah basis untuk salah satu buku teori paling berpengaruh dalam sejarah sosiologi :<br \/>\nLama sebelum Parsons menjadi salah seorang tokoh tua terkenal di dunia sosiologi, bagi kami mahasiswa angkatan paling awal, dia hanyalah seorang pemuda yang sudah tua. Kemasyhurannya berasal dari kuliah pertamanya dalam teori yang kemudian menjadi inti karya besarnya, The Structure of Social Action, yang tidak terbit hingga lima tahun setelah publikasi lisannya di kelas (Merton, 1980:69-70).Meski tak semua orang sependapat dengan penilaian positif Merton tentang Parsons, mereka akan mengakui penilaian berikut :Kematian Parsons menandai berakhirnya suatu era dalam sosiologi. Ketika (suatu era baru) dimulai, era itu benar-benar akan dibentengi oleh tradisi besar pemikiran sosiologi yang ia tinggalkan untuk kita (Merton, 1980:71).<\/p>\n","content_text":"Parson lahir tahun 1902 di Colorado Spring, Colorado. Ia berasal dari latar belakang religius dan intelektual. Ayahnya seorang Pendeta, profesor dan akhirnya menjadi rektor sebuah perguruan tinggi kecil. Parsons mendapat gelar sarjana muda dari Universitas Amherst tahun 1924 dan menyiapkan disertasinya di London School of Economics. Di tahun berikutnya ia pindah ke Heidelberg, Jerman. Max Weber lama berkarir di Heildelberg dan meski ia telah meninggal 5 tahun sebelum kedatangan Parsons, pengaruh Weber tetap bertahan dan jandanya terus menyelengarakan diskusi ilmiah di rumah dan Parsons menghadirinya. Parson sangat dipengaruhi oleh karya Weber dan sangat dipengaruhi oleh karya Weber dan akhirnya menulis disertainya di Heidelberg, yang sebagian menjelaskan karya Weber.\nParsons mengajar di Harvard pada 1927 dan meski berganti jurusan beberapa kali, ia tetap di Harvard hingga akhir hayatnya tahun 1979. Kemajuan kariernya tak begitu cepat. Ia tak mendapatkan jabatan profesor hingga tahun 1939. dua tahun sebelumnya ia menerbitkan The Structure Social Action, sebuah buku yang tak hanya memperkenalkan\npemikiran sosiolog utama seperti Weber kepada sejumlah besar sosiolog, tetapi juga meletakkan landasan bagi teori yang dikembangkan Parsons sendiri. Sesudah itu karier akademis Parsons maju pesat. Dia menjadi ketua jurusan sosiologi di Harvard pada 1944 dan dua tahun kemudian mendirikan Departemen Hubungan Sosial yang tak hanya memasukkan sosiolog, tetapi juga berbagai sarjana ilmu sosial lainnya. Tahun 1949, ia terpilih menjadi Presiden The American Sociological Association. Tahun 1950-an dan menjelang tahun 1960-an, dengan diterbitkan buku seperti The Social System (1951) Parsons menjadi tokoh dominan dalam sosiologi Amerika.\nTetapi, di akhir 1960-an Parsons mendapat serangan dari sayap radikal sosiologi Amerika yang baru muncul. Parsons dinilai berpandangan politik konservatif dan teorinya dianggap sangat konservatif dan tak lebih dari dianggap sangat konservatif dan hak lebih dari sebuah skema kategorisasi yang rumit. Tetapi tahun 1980-an timbul kembali perhatian terhadap teori Parsons, tak hanya di Amerika Serikat, tetapi di seluruh dunia (Alexander , 1982:83; Buxton, 1985; camic, 1990; Holton dan Tumer, 1986; Sciulli dan Gerstein, 1985). Horton dan Tumer mungkin terlalu berlebihan ketika mengatakan bahwa \u201ckarya Parsons mencerminkan sumbangan yang lebih berpengaruh terhadap teori sosiologi ketimbang Marx, Weber, Durkheim, atau pengikut mereka masa kini sekalipun\u201d (1986:13). Pemikiran Parsons tak hanya memengaruhi pemikir konservatif, tetapi juga teoritisi neo-Marxian, terutama Jurgen Habermas.\nSetelah kematian Parsons, sejumlah berkas mahasiswanya, semuanya sosiolog sangat terkenal, merenungkan arti penting teorinya maupun pencipta teori itu sendiri. Dalam renungan mereka, pada sosiolog ini mengemukakan pengertian menarik tentang Parsons dan karyanya. Beberapa pandangan selintas mengenai Parsons yang direproduksi di sini bukan dimaksudkan untuk membuat gambaran yang masuk akal, tetapi\ndimaksudkan untuk mengemukakan pandangan selintas yang provokatif mengenai Parsons dan karya-karyanya. Robert Merton adalah salah seorang mahasiswanya ketika Parsons baru saja mulai mengajar di Harvard. Merton yang menjadi teoritisi terkenal karena teori ciptaannya sendiri, menjelaskan bahwa mahasiswa pascasarjana yang datang ke Harvard di tahun-tahun itu bukan hendak belajar dengan Parsons, tetapi dengan Sorokin, anggota senior jurusan sosiologi yang telah menjadi musuh utama parsons (Zafirovski, 2001) :\nGenerasi mahasiswa pascasarjana yang paling awal datang ke Harvard, dan tak seorangpun yang ingin belajar dengan Parsons. Mereka tak mungkin berbuat demikian selain karena alasan paling sederhana; pada 1931 ia belum dikenal publik apalagi sebagai seorang sosiolog. Meski kami mahasiswa belajar dengan Sorokin yang masyhur, sebagian diantara kami diharuskan bekerja dengan Parsons yang tak terkenal itu. (Merton, 1980-69).\nCelaan Merton tentang kuliah pertama Parsons dalam teori, juga menarik, terutama karena materi yang disajikan adalah basis untuk salah satu buku teori paling berpengaruh dalam sejarah sosiologi :\nLama sebelum Parsons menjadi salah seorang tokoh tua terkenal di dunia sosiologi, bagi kami mahasiswa angkatan paling awal, dia hanyalah seorang pemuda yang sudah tua. Kemasyhurannya berasal dari kuliah pertamanya dalam teori yang kemudian menjadi inti karya besarnya, The Structure of Social Action, yang tidak terbit hingga lima tahun setelah publikasi lisannya di kelas (Merton, 1980:69-70).Meski tak semua orang sependapat dengan penilaian positif Merton tentang Parsons, mereka akan mengakui penilaian berikut :Kematian Parsons menandai berakhirnya suatu era dalam sosiologi. Ketika (suatu era baru) dimulai, era itu benar-benar akan dibentengi oleh tradisi besar pemikiran sosiologi yang ia tinggalkan untuk kita (Merton, 1980:71).","date_published":"2023-04-10T14:06:06+07:00","date_modified":"2023-04-09T17:29:42+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Talcott-Parsons-sosiopedia.jpg","tags":["Talcott Parsons","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/anthony-giddens\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/anthony-giddens\/","title":"Anthony Giddens","content_html":"<h4>Biografi Anthony Giddens<\/h4>\n<p>Anthony Giddens lahir di Edmonton, London utara pada tahun 1938. Gidden menempuh pendidikannya di Hull University, London School of Economics, dan London University. Ia menjadi dosen di Leicester University pada tahun 1961. Kemudian, ia pindah menjadi dosen sosiologi di Cambridge University pada tahun 1969. Pada tahun 1985, Giddens menjadi seorang profesor di universitas yang sama. Pada tahun 1997, ia menjadi direktur London School of Economics, tempat ia belajar dulu.Ketika belajar di London School of Economics, ia mengambil tesis tentang masalah sosiologi olah raga. Di tempat pendidikannya itu dia telah menjadi direkturnya. Di Universitas Manchester tempat awalnya mengajar ia bertemu dengan Nobert Elias dengan karya-karya yang sangat mempengaruhi sebagai pengajar di King College of Cambridge dan Universitas California (Santa Barbara).<\/p>\n<h4>Karir Akademisi Anthony Giddens<\/h4>\n<p>Giddens juga menjadi anggota kehormatan pada King College dan Profesor Sosiologi pada universitas Cambridge. Sepanjang dua dasawarsa silam ia telah menerbitkan lebih dari dua puluh buku dan meneguhkan dirinya sendiri sebagai pemikir terkemuka. Tulisan-tulisan Giddens mengkombinasikan pemahaman (keterangan) yang seksama atas karya-karya klasik dengan kepekaan terhadap isu-isu teori sosial kontemporer terpenting. Ia menempatkan kedua arah perhatian tersebut bersama-sama dalam arahan suatu proyek yang mempersatukannya. Proyek ini mencakup identifikasi dan kritik-kritik terhadap kelemahan pemikiran tradisional serta pengembangan cara menteorikan isu-isu yang masih kabur atau dilalaikan dalam kerangka menjabarkan realitas sosial sehingga bisa dipahami dengan menggunakan pendekatan yang tidak monolitik.<\/p>\n<p>Audien Internasionalnya terus bertambah (bukunya telah diterjemah kedalam dua puluh dua bahasa). Mungkin di Prancis kurang begitu dikenal. Dari dua puluh karyanya baru dua diantaranya diterjemah ke dalam bahasa Prancis. Pada tataran pemikiran, proyeknya ternyata melewati posisi tradisional antara sosiologi determinis dan sosiologi individualis. Pada tataran politik, ia dianggap sebagai teoretisi dan pusat radikalisme (radical center) yang menolak aliran tradisional kiri dan kanan yaitu liberalisme ala Thatcher dan referensi lama sosialisme dari partai buruh.<\/p>\n<p>Anthony Giddens adalah direktur London School Of Economics (LSE). Dia adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karya-karya tulisannya sendiri ataupun editingnya telah lebih dari 30 judul dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Kiprah intelektual Anthony Giddens sangat mengagumkan ia telah menumbuhkan minat dari banyak kalangan untuk menelaah lebih jauh segala dimensi pemikirannya, di antara terdapat empat jilid buku yang ditulis secara khusus untuk membahas pemikiranya.<br \/>\nDi antara buku yang relatif baru dan segar ialah The Consequences Of Modernity (1989), Modernity and Self Identity (1991), The Tranformation Intimacy (1992), Beyond Left and Right (1994), Defence of Sociology ( 1996 ), The Third Way (1998), dan Runaway World (1999).<\/p>\n<p>Buku Third Way bisa diposisikan sebagai buku cerdas yang paling menyedot perhatian banyak kalangan, dari kelompok akademis hingga politisi internasional. Di antara mereka adalah Tony Blair (PM Inggeris) dan Gerhard Schoeder (Kanselir Jerman) yang mempraktekkan pemikiran-pemikiran genius Anthony Giddens dalam kebijakan politik mereka.<br \/>\nBuku Beyond Left and Right, merupakan salah satu pilar penting yang telah mengantarkan Anthony Giddens berlabuh ke dermaga konseptual yang terkandung dalam the third way tersebut. Dengan kata lain pemikiran Anthony Giddens tentang the third way tidak bisa dilepaskan dari genealogi historis yang merekam semua gejolak paradigmatik dalam buku Beyond left And Right.<\/p>\n","content_text":"Biografi Anthony Giddens\nAnthony Giddens lahir di Edmonton, London utara pada tahun 1938. Gidden menempuh pendidikannya di Hull University, London School of Economics, dan London University. Ia menjadi dosen di Leicester University pada tahun 1961. Kemudian, ia pindah menjadi dosen sosiologi di Cambridge University pada tahun 1969. Pada tahun 1985, Giddens menjadi seorang profesor di universitas yang sama. Pada tahun 1997, ia menjadi direktur London School of Economics, tempat ia belajar dulu.Ketika belajar di London School of Economics, ia mengambil tesis tentang masalah sosiologi olah raga. Di tempat pendidikannya itu dia telah menjadi direkturnya. Di Universitas Manchester tempat awalnya mengajar ia bertemu dengan Nobert Elias dengan karya-karya yang sangat mempengaruhi sebagai pengajar di King College of Cambridge dan Universitas California (Santa Barbara).\nKarir Akademisi Anthony Giddens\nGiddens juga menjadi anggota kehormatan pada King College dan Profesor Sosiologi pada universitas Cambridge. Sepanjang dua dasawarsa silam ia telah menerbitkan lebih dari dua puluh buku dan meneguhkan dirinya sendiri sebagai pemikir terkemuka. Tulisan-tulisan Giddens mengkombinasikan pemahaman (keterangan) yang seksama atas karya-karya klasik dengan kepekaan terhadap isu-isu teori sosial kontemporer terpenting. Ia menempatkan kedua arah perhatian tersebut bersama-sama dalam arahan suatu proyek yang mempersatukannya. Proyek ini mencakup identifikasi dan kritik-kritik terhadap kelemahan pemikiran tradisional serta pengembangan cara menteorikan isu-isu yang masih kabur atau dilalaikan dalam kerangka menjabarkan realitas sosial sehingga bisa dipahami dengan menggunakan pendekatan yang tidak monolitik.\nAudien Internasionalnya terus bertambah (bukunya telah diterjemah kedalam dua puluh dua bahasa). Mungkin di Prancis kurang begitu dikenal. Dari dua puluh karyanya baru dua diantaranya diterjemah ke dalam bahasa Prancis. Pada tataran pemikiran, proyeknya ternyata melewati posisi tradisional antara sosiologi determinis dan sosiologi individualis. Pada tataran politik, ia dianggap sebagai teoretisi dan pusat radikalisme (radical center) yang menolak aliran tradisional kiri dan kanan yaitu liberalisme ala Thatcher dan referensi lama sosialisme dari partai buruh.\nAnthony Giddens adalah direktur London School Of Economics (LSE). Dia adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karya-karya tulisannya sendiri ataupun editingnya telah lebih dari 30 judul dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Kiprah intelektual Anthony Giddens sangat mengagumkan ia telah menumbuhkan minat dari banyak kalangan untuk menelaah lebih jauh segala dimensi pemikirannya, di antara terdapat empat jilid buku yang ditulis secara khusus untuk membahas pemikiranya.\nDi antara buku yang relatif baru dan segar ialah The Consequences Of Modernity (1989), Modernity and Self Identity (1991), The Tranformation Intimacy (1992), Beyond Left and Right (1994), Defence of Sociology ( 1996 ), The Third Way (1998), dan Runaway World (1999).\nBuku Third Way bisa diposisikan sebagai buku cerdas yang paling menyedot perhatian banyak kalangan, dari kelompok akademis hingga politisi internasional. Di antara mereka adalah Tony Blair (PM Inggeris) dan Gerhard Schoeder (Kanselir Jerman) yang mempraktekkan pemikiran-pemikiran genius Anthony Giddens dalam kebijakan politik mereka.\nBuku Beyond Left and Right, merupakan salah satu pilar penting yang telah mengantarkan Anthony Giddens berlabuh ke dermaga konseptual yang terkandung dalam the third way tersebut. Dengan kata lain pemikiran Anthony Giddens tentang the third way tidak bisa dilepaskan dari genealogi historis yang merekam semua gejolak paradigmatik dalam buku Beyond left And Right.","date_published":"2023-04-10T11:22:28+07:00","date_modified":"2023-04-09T17:28:05+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Anthony-Giddens-sosiopedia.jpg","tags":["Anthony Giddens","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/ferdinand-tonnies\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/ferdinand-tonnies\/","title":"Ferdinand Tonnies","content_html":"<h4>Biografi Ferdinand Tonnies<\/h4>\n<p>Ferdinand Tonnies lahir tahun 1855 di Schleswig, Holstein, Jerman Timur. dan wafat pada tahun 1936. Sepanjang hidupnya ia bekerja di universitas kota Kiel. Ia merupakan salah seorang sosiolog Jerman yang turut membangun institusi terbesar yang sangat berperan dalam sosiologi Jerman. Dan ia jugalah yang melatarbelakangi berdirinya German Sosiological Association ( 1909, bersama dengan George Simmel, Max Webber, Werner Sombart, dan lainnya ). Ferdinand Tonnies dalam karya gemeinschaft und gesellschaft (1887), mengenalkan teori bentuk kehidupan social di masyarakat, yaitu; gemeinschaft (community, paguyuban, komunitas) dan geselschaft (society, patembayan, masyarakat) yang selanjutnya diedit dan di alih bahasakan kedalam bahasa Inggris menjadi Community and Society (1957) oleh Charles P. Loomis. Sebagai sosiolog, FerdinandTonnies termasuk mazhab organis dan evolusioner, bersama Herbert Spencer, W.G. Summer, Emile Durkheim. Ferdinand Tonnies , karyanya yang lain yang berupa essai-essai tentang sosiologi terdapat di dalam bukunya Einfuhrung in die Soziologie (An Introduction to Sociology). Diakhir usianya Tonnies adalah seorang yang aktif menentang gerakan NAZI di Jerman dan seringkali ia diundang menjadi Professor tamu di University of Kiel, setelah hampir masa hidupnya ia gunakan untuk melakukan penelitian, menulis, dan mengedit karya para sosiolog dimasanya.Kuliahnya di universitas Tubingen di Husum, dan tahun 1877 menerima gelar doctor sastra klasik. Kemudian ia tertarik mempelajari filsafat, sejarah, psikologi, ekonomi, dan sosiologi. Tahun 1881 memulai karirnya sebagai dosen di Universitas Kiel.<\/p>\n<h4>Teori Tipe Masyarakat Menurut Ferdinand Tonnies<\/h4>\n<p>Ferdinand Tonnies membedakan tipe masyarakat menjadi dua yakni Zweckwille dan Tribwille. Zweckwille adalah kemauan rasional yang hendak mencapai suatu tujuan, sementara Tribwille adalah dorongan batin berupa perasaan. Zweckwille lebih menonjol di kalangan pedagang, ilmuwan dan pejabat\u2013pejabat umumnya orang\u2013orang tua bersikap lebih rasional dan berkepala dingin daripada orang muda, sementara Tribwille paling menonjol dikalangan petani, orang seniman, rakyat sederhana, khususnya wanita dan generasi muda.<\/p>\n<p>Tonnies memiliki teori yang penting yang akhirnya berhasil membedakan konsep tradisional dan modern dalam suatu organisasi sosial, yaitu Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft adalah bentuk hidup bersama yang lebih bersesuai dengan \u201ctriebwille\u201d. Kebersamaan dan kerja sama tidak diadakan untuk mencapai suatu tujuan diluar, melainkan dihayati sebagai tujuan dalam dirinya. Toennies menyebutkan sebagai contoh keluarga, lingkungan tetangga, sahabat \u2013 sahabat, serikat pertukangan dalam abad pertengahan, gereja, desa dan lain sebagainya. Para oleh ikatan persaudaraan, simpati dan perasaan lainnya. Tonnies membedakan Gemeinschaft menjadi 3 jenis, yaitu :<\/p>\n<p>Gemeinschaft by blood, yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ikatan darah atau keturunan. Didalam pertumbuhannya masyarakat yang semacam ini makin lama makin menipis, contoh : Kekerabatan, masyarakat-masyarakat daerah yang terdapat di DI. Yogyakarta, Solo, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Gemeinschaft of place (locality), yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada tempat tinggal yang saling berdekatan sehingga dimungkinkan untuk dapatnya saling menolong, contoh : RT dan RW.<br \/>\nGemeinschaft of mind, yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ideology atau pikiran yang sama.<br \/>\nGesselschaft tipe asosiasi dimana relasi \u2013 relasi kebersamaan dan kebersatuan antara orang berasal dari faktor\u2013faktor lahiriah, seperti persetujuan, peraturan, undang \u2013 undang dan sebagainya. Kata Toennies, \u201cTeori Gesellschaft berhubung dengan perjumlahan atau kumpulan orang yang dibentuk atas cara buatan (artificial). Kalau dilihat sepintas \u2013 lalu saja, kumpulan itu mirip dengan Gemeinschsft, yaitu sejauh para anggota individual hidup bersama dan tinggal bersama secara damai.<\/p>\n<p>Tonnies memaparkan Gemeinschaft adalah wessenwill yaitu bentuk-bentuk kehendak, baik dalam arti positif maupun negatif, yang berakar pada manusia dan diperkuat oleh agama dan kepercayaan, yang berlaku didalam bagian tubuh dan perilaku atau kekuatan naluriah. Jadi, wessenwill itu sudah merupakan kodrat manusia yang timbul dari keseluruhan kehidupan alami. Sedangkan Gesselschaft adalah Kurwille yaitu merupakan bentuk-bentuk kehendak yang mendasarkan pada akal manusia yang ditujukan pada tujuan-tujuan tertentu dan sifatnya rasional dengan menggunakan alat-alat dari unsur-unsur kehidupan lainnya.<\/p>\n<h4>Ferdinand Tonnies Pengikut Evolusi<\/h4>\n<p>Tonnies adalah contoh langka penganut evolusionisme yang tak menganggap evolusi identik dengan kemajuan. Menurutnya, evolusi terjadi secara berlawanan dengan kebutuhan manusia, lebih menuju kearah memperburuk ketimbang meningkatkan kondisi kehidupan manusia. Tentang hal ini pula secara tidak langsung bagi Tonies faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat dimana prinsip evolusi yang ia miliki hampir sama dan senada dengan prinsip evolusi ahli lain seperti Max Weber begitu juga dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Diantara penyebab terjadi perubahan itu adalah adanya kecenderungan berfikir secara rasional, perubahan orientasi hidup, proses pandangan terhadap suatu aturan dan sistem organisasi.<\/p>\n","content_text":"Biografi Ferdinand Tonnies\nFerdinand Tonnies lahir tahun 1855 di Schleswig, Holstein, Jerman Timur. dan wafat pada tahun 1936. Sepanjang hidupnya ia bekerja di universitas kota Kiel. Ia merupakan salah seorang sosiolog Jerman yang turut membangun institusi terbesar yang sangat berperan dalam sosiologi Jerman. Dan ia jugalah yang melatarbelakangi berdirinya German Sosiological Association ( 1909, bersama dengan George Simmel, Max Webber, Werner Sombart, dan lainnya ). Ferdinand Tonnies dalam karya gemeinschaft und gesellschaft (1887), mengenalkan teori bentuk kehidupan social di masyarakat, yaitu; gemeinschaft (community, paguyuban, komunitas) dan geselschaft (society, patembayan, masyarakat) yang selanjutnya diedit dan di alih bahasakan kedalam bahasa Inggris menjadi Community and Society (1957) oleh Charles P. Loomis. Sebagai sosiolog, FerdinandTonnies termasuk mazhab organis dan evolusioner, bersama Herbert Spencer, W.G. Summer, Emile Durkheim. Ferdinand Tonnies , karyanya yang lain yang berupa essai-essai tentang sosiologi terdapat di dalam bukunya Einfuhrung in die Soziologie (An Introduction to Sociology). Diakhir usianya Tonnies adalah seorang yang aktif menentang gerakan NAZI di Jerman dan seringkali ia diundang menjadi Professor tamu di University of Kiel, setelah hampir masa hidupnya ia gunakan untuk melakukan penelitian, menulis, dan mengedit karya para sosiolog dimasanya.Kuliahnya di universitas Tubingen di Husum, dan tahun 1877 menerima gelar doctor sastra klasik. Kemudian ia tertarik mempelajari filsafat, sejarah, psikologi, ekonomi, dan sosiologi. Tahun 1881 memulai karirnya sebagai dosen di Universitas Kiel.\nTeori Tipe Masyarakat Menurut Ferdinand Tonnies\nFerdinand Tonnies membedakan tipe masyarakat menjadi dua yakni Zweckwille dan Tribwille. Zweckwille adalah kemauan rasional yang hendak mencapai suatu tujuan, sementara Tribwille adalah dorongan batin berupa perasaan. Zweckwille lebih menonjol di kalangan pedagang, ilmuwan dan pejabat\u2013pejabat umumnya orang\u2013orang tua bersikap lebih rasional dan berkepala dingin daripada orang muda, sementara Tribwille paling menonjol dikalangan petani, orang seniman, rakyat sederhana, khususnya wanita dan generasi muda.\nTonnies memiliki teori yang penting yang akhirnya berhasil membedakan konsep tradisional dan modern dalam suatu organisasi sosial, yaitu Gemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft adalah bentuk hidup bersama yang lebih bersesuai dengan \u201ctriebwille\u201d. Kebersamaan dan kerja sama tidak diadakan untuk mencapai suatu tujuan diluar, melainkan dihayati sebagai tujuan dalam dirinya. Toennies menyebutkan sebagai contoh keluarga, lingkungan tetangga, sahabat \u2013 sahabat, serikat pertukangan dalam abad pertengahan, gereja, desa dan lain sebagainya. Para oleh ikatan persaudaraan, simpati dan perasaan lainnya. Tonnies membedakan Gemeinschaft menjadi 3 jenis, yaitu :\nGemeinschaft by blood, yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ikatan darah atau keturunan. Didalam pertumbuhannya masyarakat yang semacam ini makin lama makin menipis, contoh : Kekerabatan, masyarakat-masyarakat daerah yang terdapat di DI. Yogyakarta, Solo, dan sebagainya.\nGemeinschaft of place (locality), yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada tempat tinggal yang saling berdekatan sehingga dimungkinkan untuk dapatnya saling menolong, contoh : RT dan RW.\nGemeinschaft of mind, yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ideology atau pikiran yang sama.\nGesselschaft tipe asosiasi dimana relasi \u2013 relasi kebersamaan dan kebersatuan antara orang berasal dari faktor\u2013faktor lahiriah, seperti persetujuan, peraturan, undang \u2013 undang dan sebagainya. Kata Toennies, \u201cTeori Gesellschaft berhubung dengan perjumlahan atau kumpulan orang yang dibentuk atas cara buatan (artificial). Kalau dilihat sepintas \u2013 lalu saja, kumpulan itu mirip dengan Gemeinschsft, yaitu sejauh para anggota individual hidup bersama dan tinggal bersama secara damai.\nTonnies memaparkan Gemeinschaft adalah wessenwill yaitu bentuk-bentuk kehendak, baik dalam arti positif maupun negatif, yang berakar pada manusia dan diperkuat oleh agama dan kepercayaan, yang berlaku didalam bagian tubuh dan perilaku atau kekuatan naluriah. Jadi, wessenwill itu sudah merupakan kodrat manusia yang timbul dari keseluruhan kehidupan alami. Sedangkan Gesselschaft adalah Kurwille yaitu merupakan bentuk-bentuk kehendak yang mendasarkan pada akal manusia yang ditujukan pada tujuan-tujuan tertentu dan sifatnya rasional dengan menggunakan alat-alat dari unsur-unsur kehidupan lainnya.\nFerdinand Tonnies Pengikut Evolusi\nTonnies adalah contoh langka penganut evolusionisme yang tak menganggap evolusi identik dengan kemajuan. Menurutnya, evolusi terjadi secara berlawanan dengan kebutuhan manusia, lebih menuju kearah memperburuk ketimbang meningkatkan kondisi kehidupan manusia. Tentang hal ini pula secara tidak langsung bagi Tonies faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat dimana prinsip evolusi yang ia miliki hampir sama dan senada dengan prinsip evolusi ahli lain seperti Max Weber begitu juga dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Diantara penyebab terjadi perubahan itu adalah adanya kecenderungan berfikir secara rasional, perubahan orientasi hidup, proses pandangan terhadap suatu aturan dan sistem organisasi.","date_published":"2023-04-09T06:54:56+07:00","date_modified":"2023-04-09T06:54:56+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/ferdinand_tonnies.jpg","tags":["Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/karl-marx\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/karl-marx\/","title":"Karl Marx","content_html":"<p>Tokoh ini karya &#8211; karyanya memang dikenal banyak beraliran kiri (lawan dari kapitaslis aka sosialis), akan tetapi karyanya banyak dijadikan rujukan, bahkan menjadi pondasi dari beberapa ragam ilmu sosiologi, seperti sosiologi kependudukan, sosiologi agama, sosiologi ekonomi, sosiologi industri dan lainnya.<\/p>\n<h4>Biografi Karl Max<\/h4>\n<p>Karl Marx lahir di Trier, sebuah kota di Jerman, dekat perbatasan dengan Prancis di tahun 1818. lahir setelah perang Napoleon, dan setahun setelah David Ricardo meluncurkan bukunya \u201cThe Principles of Political Economy\u201d. Dia merupakan pendiri Idiologi komunis yang sekaligus merupakan seorang teoritikus besar kapitalisme. Bukan hanya sekedar ekonom, namun juga seorang philosopis, sosiologis, dan seorang revolusionir. Merupakan seorang profesor dalam berbagai ide yang Revolusioner, yang menginspirasi pemikir-pemikir lainnya. Setelah menyelesaikan gelar Ph. D dalam filsafat pada tahun 1841 di Bonn, Berlin, dan Jena. Maka dari sinilah karier Marx dimulai. Pemikiran Karl Marx merupakan adopsi antara filsafat Hegel, French, dan tentunya pemikiran dari David Ricardo (pemikir teori ekonom klasik). Analisa Karl Marx tentang kapitalisme merupakan aplikasi dari teori yang dikembangkan oleh G.W.F Hegel, dimana teorinya berpendapat juka,\u201dsejarah berproses melalui serangkaian situasi dimana sebuah ide yang diterima akan eksis, tesis. Namun segea akan berkontradiksi dengan oposisinya, antitesis. Yang kemudian melahirkanlah antitesis, kejadian ini akan terus berulang, sehingga konflik-konflik tersebut akan meniadakan segala hal yang berproses menjdai lebih baik.\u201d<\/p>\n<p>Karl Marx beserta teman dekatnya, yakni Friedrich Engles (1820- 1895) menuliskan sebuah buku \u201cDas Kapital\u201d, yang isinya kurang lebih tentang bagaimana ekonomi sosial atau komunis diorganisasikan. Yang kemudian disusul buku The Communist Manifesto (1848) yang berisikan daftar singkat karakter alamiah komunis. Dimana suprastruktur yang berfungsi untuk menjaga relasi produksi yang dipengaruhi oleh historis (seni, literatur, musik, filsafat, hukum, agama, dan bentuk budaya lai yang diterima oleh masyarakat).<\/p>\n<h4>Prinsip-prinsip komunis modern dalam bukunya tersebut antara lan :<\/h4>\n<p>1. pengahapusan kekayaan tanah dan menerapkan sewa tanah bagi tujuan-tujuan publik.<br \/>\n2. pengenaan pajak pendapat (tax income) yang bertingkat.<br \/>\n3. pengapusan seluruh hak-hak warisan.<br \/>\n4. penarikan kekayaan seluruh emigran dan para penjahat atau pemberontak.<br \/>\n5. sentralisasi kredit pada negara melalui bank nasional dengan modal negara dan monopoli yang bersifat eksklusif.<br \/>\n6. sentralisasi alat-alat komunikasi, dan transportasi di tangan negara.<br \/>\n7. perluasan pabrik dan alat-alat produksi yang dimilki oleh negara, menggarap tanah yang tanah, dan meningkatkan guna tanah yang sesuai dengan perencanaan umum.<\/p>\n<p>Karl Marx percaya dalam kapitalisme, terjadi keterasinagan (alienasi) manusia dari dirinya sendiri. Kekayaan pribadi dan pasar menurutnya tidak memberikan nilai dan arti pada semua yang mereka rasakan sehingga mengasingkan manusia, manusia dari diri mereka sendiri. Hasil keberadaan pasar, khususnya pasar tenaga kerja menjauhkan kemampuan manusia untuk memperoleh kebahagiaan sejati, karena dia menjauhkan cinta dan persahabatan. Dia berpendepat bahwa dalam ekonomi klasik, menerima pasar tanpa memperhatikan kekayaan pribadi, dan pengaruh kebradaan pasar pada manusia. Sehingga sangat penting untuk mengetahui hubungan antra kekayaan pribadi, ketamakan, pemisahan buruh, modal dan kekayaan tanah, antara pertukaran dengan kompetisi, nilai dan devaluasi manusia, monopoli dan kompetisi dan lain- lain. Fokus kritiknya terhadap ekonomi klasik adalah tidak memepertimbangkan kekuatan produksi akan meruntuhkan hubungan produksi.<\/p>\n","content_text":"Tokoh ini karya &#8211; karyanya memang dikenal banyak beraliran kiri (lawan dari kapitaslis aka sosialis), akan tetapi karyanya banyak dijadikan rujukan, bahkan menjadi pondasi dari beberapa ragam ilmu sosiologi, seperti sosiologi kependudukan, sosiologi agama, sosiologi ekonomi, sosiologi industri dan lainnya.\nBiografi Karl Max\nKarl Marx lahir di Trier, sebuah kota di Jerman, dekat perbatasan dengan Prancis di tahun 1818. lahir setelah perang Napoleon, dan setahun setelah David Ricardo meluncurkan bukunya \u201cThe Principles of Political Economy\u201d. Dia merupakan pendiri Idiologi komunis yang sekaligus merupakan seorang teoritikus besar kapitalisme. Bukan hanya sekedar ekonom, namun juga seorang philosopis, sosiologis, dan seorang revolusionir. Merupakan seorang profesor dalam berbagai ide yang Revolusioner, yang menginspirasi pemikir-pemikir lainnya. Setelah menyelesaikan gelar Ph. D dalam filsafat pada tahun 1841 di Bonn, Berlin, dan Jena. Maka dari sinilah karier Marx dimulai. Pemikiran Karl Marx merupakan adopsi antara filsafat Hegel, French, dan tentunya pemikiran dari David Ricardo (pemikir teori ekonom klasik). Analisa Karl Marx tentang kapitalisme merupakan aplikasi dari teori yang dikembangkan oleh G.W.F Hegel, dimana teorinya berpendapat juka,\u201dsejarah berproses melalui serangkaian situasi dimana sebuah ide yang diterima akan eksis, tesis. Namun segea akan berkontradiksi dengan oposisinya, antitesis. Yang kemudian melahirkanlah antitesis, kejadian ini akan terus berulang, sehingga konflik-konflik tersebut akan meniadakan segala hal yang berproses menjdai lebih baik.\u201d\nKarl Marx beserta teman dekatnya, yakni Friedrich Engles (1820- 1895) menuliskan sebuah buku \u201cDas Kapital\u201d, yang isinya kurang lebih tentang bagaimana ekonomi sosial atau komunis diorganisasikan. Yang kemudian disusul buku The Communist Manifesto (1848) yang berisikan daftar singkat karakter alamiah komunis. Dimana suprastruktur yang berfungsi untuk menjaga relasi produksi yang dipengaruhi oleh historis (seni, literatur, musik, filsafat, hukum, agama, dan bentuk budaya lai yang diterima oleh masyarakat).\nPrinsip-prinsip komunis modern dalam bukunya tersebut antara lan :\n1. pengahapusan kekayaan tanah dan menerapkan sewa tanah bagi tujuan-tujuan publik.\n2. pengenaan pajak pendapat (tax income) yang bertingkat.\n3. pengapusan seluruh hak-hak warisan.\n4. penarikan kekayaan seluruh emigran dan para penjahat atau pemberontak.\n5. sentralisasi kredit pada negara melalui bank nasional dengan modal negara dan monopoli yang bersifat eksklusif.\n6. sentralisasi alat-alat komunikasi, dan transportasi di tangan negara.\n7. perluasan pabrik dan alat-alat produksi yang dimilki oleh negara, menggarap tanah yang tanah, dan meningkatkan guna tanah yang sesuai dengan perencanaan umum.\nKarl Marx percaya dalam kapitalisme, terjadi keterasinagan (alienasi) manusia dari dirinya sendiri. Kekayaan pribadi dan pasar menurutnya tidak memberikan nilai dan arti pada semua yang mereka rasakan sehingga mengasingkan manusia, manusia dari diri mereka sendiri. Hasil keberadaan pasar, khususnya pasar tenaga kerja menjauhkan kemampuan manusia untuk memperoleh kebahagiaan sejati, karena dia menjauhkan cinta dan persahabatan. Dia berpendepat bahwa dalam ekonomi klasik, menerima pasar tanpa memperhatikan kekayaan pribadi, dan pengaruh kebradaan pasar pada manusia. Sehingga sangat penting untuk mengetahui hubungan antra kekayaan pribadi, ketamakan, pemisahan buruh, modal dan kekayaan tanah, antara pertukaran dengan kompetisi, nilai dan devaluasi manusia, monopoli dan kompetisi dan lain- lain. Fokus kritiknya terhadap ekonomi klasik adalah tidak memepertimbangkan kekuatan produksi akan meruntuhkan hubungan produksi.","date_published":"2023-04-09T06:40:54+07:00","date_modified":"2023-04-09T17:29:04+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/biografi-karl-max-sosiopedia.jpg","tags":["Karl Marx","Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/prof-parsudi-suparlan\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/prof-parsudi-suparlan\/","title":"Prof. Parsudi Suparlan","content_html":"<h4>Biografi Prof. Dr. Parsudi Suparlan<\/h4>\n<p>Prof. Dr. Parsudi Suparlan (lahir di Jakarta, 3 April 1938 \u2013 meninggal di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, 22 November 2007 pada umur 69 tahun) merupakan seorang antropolog Indonesia. Ia memiliki kepakaran dalam bidang antropologi perkotaan, kemiskinan perkotaan, dan multikulturalisme.<\/p>\n<p>Prof. Parsudi Suparlan adalah seorang Antropolog Nasional, ilmuwan sejati, yang berjasa menjadikan Antropologi di Indonesia memiliki sosok dan corak yang tegas sebagai disiplin ilmiah, yang tak lain adalah karena pentingnya penguasaan teori. Beliau lulus Sarjana Antropologi dari Universitas Indonesia<\/p>\n<p>tahun 1964. Kemudian menempuh jenjang MA lulus pada tahun 1972 dan PhD lulus tahun 1976 di Amerika Serikat. Beliau mencapai gelar Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia tahun 1998. Menurut beliau, antropologi merupakan disiplin ilmu yang kuat, karena pentingnya teori, ketajaman analisis, ketepatan metodologi, dan tidak hanya sekedar mengurai-uraikan data. Selain itu,<br \/>\njuga pentingnya pemahaman yang kuat mangenai konsep kebudayaan dan struktur sosial<\/p>\n<h4>Karier Parsudi Suparlan<\/h4>\n<p>Pada tahun 1961, diangkatkan sebagai asisten dosen dari Prof. Harsya W. Bahtiar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan sebagai dosen tetap sejak tahun 1963. Cara mengajar tetap dimainkan hingga wafatnya pada program S1, S2, S3 Antropologi FISIP UI; di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Program S2 dan S3 Ilmu Kepolisian, Universitas Indonesia; Program S2 Kajian Wilayah Amerika UI dan menjabat sebagai Ketua Program Kajian tersebut sejak 1998.<\/p>\n<p>Pada tahun 1999, Suparlan membangun Jurnal Polisi Indonesia dan menjadi Pimpinan Redaksinya sejak ketika itu.<\/p>\n<h4>Karya Parsudi Suparlan<\/h4>\n<p>Beberapa Karya terbaik dari tulisannya sudah diterbitkan (lebih dari 200 tulisan sejak tahun 1964), diantara lain: The Javanese Suriname: Ethnicity in snethnically plural society (Arizona State University, 1995); Oang Sakai di Riau: Masyarakat terasing dalam masyarakat Indonesia (Yayasan Obor 1995), Hubungan Antar Suku Bangsa, Masyarakat dan Norma budaya istiadat Perkotaan, diterbitkan oleh YPKIK, 2004. &#8220;The Javanese in Suriname: Ethnicity in an Ethnically Plural Society&#8221; Published by Program for Southeast Asian Studies Arizona S ISBN 1881044025 (ISBN13: 9781881044024) edition language English. &#8220;Kemiskinan di Perkotaan&#8221; Paperback, 1st ed., 284 pages Published 1984 by Sinar Keinginan dan Yayasan Obor Indonesia.<\/p>\n","content_text":"Biografi Prof. Dr. Parsudi Suparlan\nProf. Dr. Parsudi Suparlan (lahir di Jakarta, 3 April 1938 \u2013 meninggal di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, 22 November 2007 pada umur 69 tahun) merupakan seorang antropolog Indonesia. Ia memiliki kepakaran dalam bidang antropologi perkotaan, kemiskinan perkotaan, dan multikulturalisme.\nProf. Parsudi Suparlan adalah seorang Antropolog Nasional, ilmuwan sejati, yang berjasa menjadikan Antropologi di Indonesia memiliki sosok dan corak yang tegas sebagai disiplin ilmiah, yang tak lain adalah karena pentingnya penguasaan teori. Beliau lulus Sarjana Antropologi dari Universitas Indonesia\ntahun 1964. Kemudian menempuh jenjang MA lulus pada tahun 1972 dan PhD lulus tahun 1976 di Amerika Serikat. Beliau mencapai gelar Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia tahun 1998. Menurut beliau, antropologi merupakan disiplin ilmu yang kuat, karena pentingnya teori, ketajaman analisis, ketepatan metodologi, dan tidak hanya sekedar mengurai-uraikan data. Selain itu,\njuga pentingnya pemahaman yang kuat mangenai konsep kebudayaan dan struktur sosial\nKarier Parsudi Suparlan\nPada tahun 1961, diangkatkan sebagai asisten dosen dari Prof. Harsya W. Bahtiar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan sebagai dosen tetap sejak tahun 1963. Cara mengajar tetap dimainkan hingga wafatnya pada program S1, S2, S3 Antropologi FISIP UI; di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Program S2 dan S3 Ilmu Kepolisian, Universitas Indonesia; Program S2 Kajian Wilayah Amerika UI dan menjabat sebagai Ketua Program Kajian tersebut sejak 1998.\nPada tahun 1999, Suparlan membangun Jurnal Polisi Indonesia dan menjadi Pimpinan Redaksinya sejak ketika itu.\nKarya Parsudi Suparlan\nBeberapa Karya terbaik dari tulisannya sudah diterbitkan (lebih dari 200 tulisan sejak tahun 1964), diantara lain: The Javanese Suriname: Ethnicity in snethnically plural society (Arizona State University, 1995); Oang Sakai di Riau: Masyarakat terasing dalam masyarakat Indonesia (Yayasan Obor 1995), Hubungan Antar Suku Bangsa, Masyarakat dan Norma budaya istiadat Perkotaan, diterbitkan oleh YPKIK, 2004. &#8220;The Javanese in Suriname: Ethnicity in an Ethnically Plural Society&#8221; Published by Program for Southeast Asian Studies Arizona S ISBN 1881044025 (ISBN13: 9781881044024) edition language English. &#8220;Kemiskinan di Perkotaan&#8221; Paperback, 1st ed., 284 pages Published 1984 by Sinar Keinginan dan Yayasan Obor Indonesia.","date_published":"2023-04-09T06:30:16+07:00","date_modified":"2023-04-09T06:30:16+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/parsudi-suparlan-sosiopedia.jpg","tags":["Tokoh"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/biografi-tokoh-sosiologi-thomas-robert-malthus-dan-pemikirannya-tentang-kependudukan\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/biografi-tokoh-sosiologi-thomas-robert-malthus-dan-pemikirannya-tentang-kependudukan\/","title":"Biografi Tokoh Sosiologi Thomas Robert Malthus Dan Pemikirannya Tentang Kependudukan","content_html":"<h4>Biografi Singkat Thomas Robert Malthus<\/h4>\n<p>Tokoh Sosiologi, Ilmu Politik dan Ekonomi yang teorinya tentang kependudukan banyak dikaji ini terlahir di Surrey, Inggris, 13 Februari 1766, dan meninggal di Haileybury, Hertford, Inggris, 23 Desember1834 pada umur 68 tahun), ilmuwan ini biasanya dikenal sebagai Thomas Malthus, meskipun ia lebih suka dipanggil dengan nama tengahnya yaitu &#8220;Robert<br \/>\nMalthus&#8221;. beliau adalah seorang pakar demografi Inggris dan ekonomi politik yang paling terkenal karena pandangannya yang pesimistik namun sangat berpengaruh tentang pertambahan penduduk.<\/p>\n<p>Robert Malthus dilahirkan dalam sebuah keluarga yang kaya. Ayahnya, Daniel, adalah sahabat pribadi filsuf dan skeptik David Hume dan kenalan dari Jean-Jacques Rousseau. Malthus muda dididik di rumah hingga ia diterima di Jesus College, Cambridge pada 1784. Di sana ia belajar banyak pokok pelajaran dan memperoleh penghargaan dalam deklamasi Inggris, bahasa Latin dan Yunani. Mata pelajaran utamanya adalah matematika. Ia memperoleh gelar magister pada 1791 dan terpilih menjadi fellow dari Jesus College dua tahun kemudian Pada tahun 1793 ia menjadi pengikut Jesus College dan asisten pendeta gereja Okewood sebuah biara atau kapel di Wotton.<\/p>\n<p>Saat ia bekerja di Wotton Malthus terlibat perdebatan sengit dengan ayahnya tentang kemampuan meningkatkan kekayaan ekonomi oleh orang-orang sudah lanjut. Ayahnya berpendapat bahwa hal itu mungkin namun Malthus tetap skeptis. Perselisihan<br \/>\nini mendorong Malthus untuk membaca dan kemudian membuat beberapa tulisan tentang topik tersebut. Hasilnya adalah Essay on Population yang pertama kali diterbitkan tahun 1798.<\/p>\n<p>Malthus menikah pada 1804 ia dan istrinya mempunyai tiga orang anak. Pada 1805 ia menjadi profesor Britania pertama dalam bidang ekonomi politik di East India Company College di Haileybury di Hertfordshire. Siswa-siswanya menyapanya dengan sebutan<br \/>\nkesayangan &#8220;Pop&#8221; (yang dapat berarti &#8220;papa&#8221;) &#8220;Populasi&#8221; Malthus. Pada 1818, ia terpilih menjadi Fellow dari Perhimpunan Kerajaan.<\/p>\n<p>Malthus menolak dibuat fotonya hingga tahun 1833 karena ia merasa malu karena sumbing. Masalah ini kemudian diperbaiki lewat operasi, dan Malthus dianggap sangat tampan. Sumbingnya juga meluas hingga ke dalam mulutnya yang memengaruhi bicaranya. Cacat ini adalah bawaan sejak lahir yang cukup lazim di lingkungan keluarganya.<\/p>\n<p>Esai tentang populasi yang dibuat Malthus ini tak lama kemudian menjadi terkenal, dan pada tahun 1805 ia mendapatkan pekerjaan sebagai Profesor Sejarah, Politik, Perdagangan dan Keuangan di New East India College dekat kota London. Perguruan tinggi ini terutama melatih para pengusaha dari Perusahaan Hindia Timur yang akan menduduki jabatan administratif di India.<\/p>\n<p>Posisi Malthus membuat dirinya sebagai salah seorang ahli ekonomi akademik yang pertama.<\/p>\n<p>Sesudah Adam Smith, Thomas Malthus dianggap sebagai pemikir klasik yang sangat berjasa dalam pengembangan pemikiran-pemikiran ekonomi. Malthus menimba pendidikan di St. John&#8217;s College, Cambridge, Inggris dan kemudian melanjutkan ke EastIndiaCollege.<\/p>\n<p>Sewaktu ia diangkat sebagai dosen pada EastIndiaCollege, untuk pertama kalinya ekonomi politik (political economy) diakui sebagai disiplin ilmu tersendiri.<\/p>\n<p>Pemikiran-pemikiriannya tentang ekonomi politik dapat diikuti dari: Principles of Political Economy (1820) dan Definitions of Political Economy (1827). Selain itu, buku-buku lain yang ditulis Malthus cukup banyak, antara lain: Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society (1798); dan An Inquiry into the Nature and Progress of Rent (1815).<\/p>\n<h4>Pandangan Mathaus dalam ilmu Sosiologi dan antropologi tentang kependudukan<\/h4>\n<p>Model Malthusian pada bukunya yang berjudul An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society, ekonom terdahulu Thomas Robert Malthus (1766-1834) memperlihatkan apa yang mungkin dapat disebut ramalan paling mengerikan sepanjang sejarah. Malthus memperkirakan bahwa semakin meningkatnya populasi akan secara terus menerus membebani kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Menurut prediksinya, umat manusia selama hidup dalam kemiskinan.<\/p>\n<p>Malthus memulai dengan satu catatan, \u201cmakanan penting bagi keberadaan manusia\u201d dan kemudian \u201cnafsu antara manusia adalah penting dan akan terus berada pada kondisi seperti saat ini.\u201d Dia menyimpulkan bahwa \u201ckekuatan populasi tak terbatas lebih besar daripada kekuatan bumi untuk memberikan hasil alam bagi manusia.\u201d Menurut Malthus satu-satunya pengendalian pertumbuhan populasi adalah \u201ckesengsaraan dan sifat buruk.\u201d Malthus mengungkapkan usaha-usaha yang dilakukan oleh badan-badan amal atau pemerintah untuk mengurangi kemiskinan justru akan kontraproduktif karena akan menyebabkan kaum miskin terus menerus memiliki keturunan, menempatkan lagi lebih banyak beban pada kemampuan produktif masyarakat.<\/p>\n<p>Meskipun model Malthusian kemungkinan menjelaskan kondisi dunia pada saat Malthus hidup, prediksinya yang mengatakan manusia akan hidup dalam kemiskinan selamanya terbukti salah. Populasi dunia telah meningkat sebesar enam kali lipat selama dua decade terakhir, dan standar kehidupan rata-rata jauh lebih tinggi. Karena adanya pertumbuhan ekonomi, kelaparan kronis dan kekurangan gizi tidak banyak lagi ditemukan saat ini dibandingkan saat Malthus masih hidup. Kelaparan masih terus terjadi, tapi kejadian tersebut lebih disebabkan karena distribusi pendapatan yang tidak merata dan ketidakstabilan politik, dan bukan diakibatkan oleh tidak tersedianya bahan pangan.<\/p>\n<p>Malthus gagal melihat bahwa pertumbuhan dalam daya pikir manusia jauh melampaui dampak dari populasi yang terus bertambah. Pestisida, pupuk, mekanisasi peralatan pertanian, varietas bibit baru, dan berbagai kemajuan teknologi lainnya membuat petani sanggup menyediakan makanan bagi jumlah penduduk yang terus bertambah. Bahakan dengan jumlah mulut yang terus bertambah untuk diberi makan, hanya sedikit petani yang diburuhkan karena setiap petani menjadi sangat produktif. Saat ini, jumlah orang Amerika yang bekerja di bidang pertanian hanya dibawah 2%, namun mereka mampu menyediakan bahan pangan bagi seluruh negeri, bahakan mengekspor kelebihannya keluar negeri.<\/p>\n<p>Selain itu meskipun \u201cnafsu antara manusia\u201d sama kuatnya seperti pada saat Malthus masih hidup, kaitan anatara nafsu dan populasi pertumbuhan seperti yang diasumsikan oleh Malthus tidak terjadi lagi karena adanya alat kontrasepsi modern. Banyak negara maju, seperti yang terjadi di wilayah Eropa Barat, saat ini tingkat kelahiran lebih rendah daripada tingkat pergantiannya. Ada saat beberapa decade ke depan, populasi yang terus menyusut akan cenderung terjadi daripada populasi yang terus berkembang. Karena itu, sedikit sekali alas an untuk berfikir bahwa populasi yang terus bertambah akan jauh melebihi produksi makanan dan membuat umat manusia hidup dalam kemiskinan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","content_text":"Biografi Singkat Thomas Robert Malthus\nTokoh Sosiologi, Ilmu Politik dan Ekonomi yang teorinya tentang kependudukan banyak dikaji ini terlahir di Surrey, Inggris, 13 Februari 1766, dan meninggal di Haileybury, Hertford, Inggris, 23 Desember1834 pada umur 68 tahun), ilmuwan ini biasanya dikenal sebagai Thomas Malthus, meskipun ia lebih suka dipanggil dengan nama tengahnya yaitu &#8220;Robert\nMalthus&#8221;. beliau adalah seorang pakar demografi Inggris dan ekonomi politik yang paling terkenal karena pandangannya yang pesimistik namun sangat berpengaruh tentang pertambahan penduduk.\nRobert Malthus dilahirkan dalam sebuah keluarga yang kaya. Ayahnya, Daniel, adalah sahabat pribadi filsuf dan skeptik David Hume dan kenalan dari Jean-Jacques Rousseau. Malthus muda dididik di rumah hingga ia diterima di Jesus College, Cambridge pada 1784. Di sana ia belajar banyak pokok pelajaran dan memperoleh penghargaan dalam deklamasi Inggris, bahasa Latin dan Yunani. Mata pelajaran utamanya adalah matematika. Ia memperoleh gelar magister pada 1791 dan terpilih menjadi fellow dari Jesus College dua tahun kemudian Pada tahun 1793 ia menjadi pengikut Jesus College dan asisten pendeta gereja Okewood sebuah biara atau kapel di Wotton.\nSaat ia bekerja di Wotton Malthus terlibat perdebatan sengit dengan ayahnya tentang kemampuan meningkatkan kekayaan ekonomi oleh orang-orang sudah lanjut. Ayahnya berpendapat bahwa hal itu mungkin namun Malthus tetap skeptis. Perselisihan\nini mendorong Malthus untuk membaca dan kemudian membuat beberapa tulisan tentang topik tersebut. Hasilnya adalah Essay on Population yang pertama kali diterbitkan tahun 1798.\nMalthus menikah pada 1804 ia dan istrinya mempunyai tiga orang anak. Pada 1805 ia menjadi profesor Britania pertama dalam bidang ekonomi politik di East India Company College di Haileybury di Hertfordshire. Siswa-siswanya menyapanya dengan sebutan\nkesayangan &#8220;Pop&#8221; (yang dapat berarti &#8220;papa&#8221;) &#8220;Populasi&#8221; Malthus. Pada 1818, ia terpilih menjadi Fellow dari Perhimpunan Kerajaan.\nMalthus menolak dibuat fotonya hingga tahun 1833 karena ia merasa malu karena sumbing. Masalah ini kemudian diperbaiki lewat operasi, dan Malthus dianggap sangat tampan. Sumbingnya juga meluas hingga ke dalam mulutnya yang memengaruhi bicaranya. Cacat ini adalah bawaan sejak lahir yang cukup lazim di lingkungan keluarganya.\nEsai tentang populasi yang dibuat Malthus ini tak lama kemudian menjadi terkenal, dan pada tahun 1805 ia mendapatkan pekerjaan sebagai Profesor Sejarah, Politik, Perdagangan dan Keuangan di New East India College dekat kota London. Perguruan tinggi ini terutama melatih para pengusaha dari Perusahaan Hindia Timur yang akan menduduki jabatan administratif di India.\nPosisi Malthus membuat dirinya sebagai salah seorang ahli ekonomi akademik yang pertama.\nSesudah Adam Smith, Thomas Malthus dianggap sebagai pemikir klasik yang sangat berjasa dalam pengembangan pemikiran-pemikiran ekonomi. Malthus menimba pendidikan di St. John&#8217;s College, Cambridge, Inggris dan kemudian melanjutkan ke EastIndiaCollege.\nSewaktu ia diangkat sebagai dosen pada EastIndiaCollege, untuk pertama kalinya ekonomi politik (political economy) diakui sebagai disiplin ilmu tersendiri.\nPemikiran-pemikiriannya tentang ekonomi politik dapat diikuti dari: Principles of Political Economy (1820) dan Definitions of Political Economy (1827). Selain itu, buku-buku lain yang ditulis Malthus cukup banyak, antara lain: Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society (1798); dan An Inquiry into the Nature and Progress of Rent (1815).\nPandangan Mathaus dalam ilmu Sosiologi dan antropologi tentang kependudukan\nModel Malthusian pada bukunya yang berjudul An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society, ekonom terdahulu Thomas Robert Malthus (1766-1834) memperlihatkan apa yang mungkin dapat disebut ramalan paling mengerikan sepanjang sejarah. Malthus memperkirakan bahwa semakin meningkatnya populasi akan secara terus menerus membebani kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Menurut prediksinya, umat manusia selama hidup dalam kemiskinan.\nMalthus memulai dengan satu catatan, \u201cmakanan penting bagi keberadaan manusia\u201d dan kemudian \u201cnafsu antara manusia adalah penting dan akan terus berada pada kondisi seperti saat ini.\u201d Dia menyimpulkan bahwa \u201ckekuatan populasi tak terbatas lebih besar daripada kekuatan bumi untuk memberikan hasil alam bagi manusia.\u201d Menurut Malthus satu-satunya pengendalian pertumbuhan populasi adalah \u201ckesengsaraan dan sifat buruk.\u201d Malthus mengungkapkan usaha-usaha yang dilakukan oleh badan-badan amal atau pemerintah untuk mengurangi kemiskinan justru akan kontraproduktif karena akan menyebabkan kaum miskin terus menerus memiliki keturunan, menempatkan lagi lebih banyak beban pada kemampuan produktif masyarakat.\nMeskipun model Malthusian kemungkinan menjelaskan kondisi dunia pada saat Malthus hidup, prediksinya yang mengatakan manusia akan hidup dalam kemiskinan selamanya terbukti salah. Populasi dunia telah meningkat sebesar enam kali lipat selama dua decade terakhir, dan standar kehidupan rata-rata jauh lebih tinggi. Karena adanya pertumbuhan ekonomi, kelaparan kronis dan kekurangan gizi tidak banyak lagi ditemukan saat ini dibandingkan saat Malthus masih hidup. Kelaparan masih terus terjadi, tapi kejadian tersebut lebih disebabkan karena distribusi pendapatan yang tidak merata dan ketidakstabilan politik, dan bukan diakibatkan oleh tidak tersedianya bahan pangan.\nMalthus gagal melihat bahwa pertumbuhan dalam daya pikir manusia jauh melampaui dampak dari populasi yang terus bertambah. Pestisida, pupuk, mekanisasi peralatan pertanian, varietas bibit baru, dan berbagai kemajuan teknologi lainnya membuat petani sanggup menyediakan makanan bagi jumlah penduduk yang terus bertambah. Bahakan dengan jumlah mulut yang terus bertambah untuk diberi makan, hanya sedikit petani yang diburuhkan karena setiap petani menjadi sangat produktif. Saat ini, jumlah orang Amerika yang bekerja di bidang pertanian hanya dibawah 2%, namun mereka mampu menyediakan bahan pangan bagi seluruh negeri, bahakan mengekspor kelebihannya keluar negeri.\nSelain itu meskipun \u201cnafsu antara manusia\u201d sama kuatnya seperti pada saat Malthus masih hidup, kaitan anatara nafsu dan populasi pertumbuhan seperti yang diasumsikan oleh Malthus tidak terjadi lagi karena adanya alat kontrasepsi modern. Banyak negara maju, seperti yang terjadi di wilayah Eropa Barat, saat ini tingkat kelahiran lebih rendah daripada tingkat pergantiannya. Ada saat beberapa decade ke depan, populasi yang terus menyusut akan cenderung terjadi daripada populasi yang terus berkembang. Karena itu, sedikit sekali alas an untuk berfikir bahwa populasi yang terus bertambah akan jauh melebihi produksi makanan dan membuat umat manusia hidup dalam kemiskinan.\n&nbsp;","date_published":"2023-04-05T08:10:13+07:00","date_modified":"2023-04-05T08:10:13+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/thomas-robert-malthus.jpg","tags":["Tokoh"]}]}