{"version":"https:\/\/jsonfeed.org\/version\/1","user_comment":"This feed allows you to read the posts from this site in any feed reader that supports the JSON Feed format. To add this feed to your reader, copy the following URL -- https:\/\/sosiopedia.com\/tag\/anthony-giddens\/feed\/json\/ -- and add it your reader.","home_page_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/tag\/anthony-giddens\/","feed_url":"https:\/\/sosiopedia.com\/tag\/anthony-giddens\/feed\/json\/","title":"sosiopedia.com","description":"Portal pengetahuan untuk psikologi dan sosiologi Indonesia","icon":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/cropped-ICON.png","items":[{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/kritik-anthony-giddens-terhadap-teori-teori-sosiologi-terdahulu\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/kritik-anthony-giddens-terhadap-teori-teori-sosiologi-terdahulu\/","title":"Kritik Anthony Giddens Terhadap Teori-teori Sosiologi Terdahulu","content_html":"<p>Sebelum Giddens memaparkan pemikirannya tentang masyarakat, ia terlebih dahulu mengkritik sejumlah teori sosiologi yang cukup populer pada saat itu. Adapun teori-teori yang ia kritik meliputi teori berikut.<\/p>\n<p><strong><em>1. Kritik terhadap Teori Fungsional Talcott Parsons<\/em><\/strong><br \/>\nMenurut Parsons, setiap masyarakat harus mempunyai empat prasyarat fungsional agar masyarakat tersebut dapat menjalankan peran sosialnya di masyarakat. Adapun keempat konsep fungsional di masyarakat menurut Parsons dikenal dengan istilah \u201c<em>AGIL<\/em>\u201d. Huruf \u201c<em>A<\/em>\u201d mewakili \u201c<em>adaptation<\/em>\u201d (proses adaptasi). Huruf \u201c<em>G<\/em>\u201d mewakili konsep \u201c<em>goal attainment<\/em>\u201d (tujuan yang hendak dicapai). Huruf \u201c<em>I<\/em>\u201d mewakili konsep \u201c<em>integration<\/em>\u201d (proses integrasi masyarakat). Sedangkan huruf \u201c<em>L<\/em>\u201d mewakili konsep \u201c<em>latent<\/em>\u201d (fungsi laten\/tersembunyi). Akan tetapi, Giddens dengan tegas menolak segala konsep yang berkaitan dengan fungsional masyarakat. Setidaknya, terdapat tiga hal yang membuat konsep fungsional tidak tepat menggambarkan kondisi masyarakat menurut Giddens.\u00a0<em>Pertama<\/em>, fungsionalisme mengibaratkan manusia seperti sebuah \u201crobot\u201d yang jalan hidupnya sudah ditentukan sedemkian rupa. Padahal, segala tindakan manusia juga ditentukan dari internal manusia tersebut.\u00a0<em>Kedua<\/em>, fungsionalisme merupakan suatu konsep cara berpikir yang menyatakan bahwa sistem sosial mempunyai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Padahal menurut Giddens, yang mempunyai kebutuhan adalah para pelaku (individu).\u00a0<em>Ketiga<\/em>, fungsionalisme tidak memperhatikan dimensi waktu dan ruang dalam menganalisis gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Padahal, waktu dan ruang merupakan satu-kesatuan yang juga memengaruhi gejala sosial yang ada.<\/p>\n<p><strong><em>2. Kritik terhadap Teori Strukturalisme<\/em><\/strong><br \/>\nKonsep kunci yang hendak dikembangkan dalam teori strukturalisme yaitu adanya perbedaan istilah antara \u201cbahasa (<em>langue<\/em>)\u201d dan \u201cujaran\/percakapan (<em>parole<\/em>)\u201d. Istilah\u00a0<em>langue\u00a0<\/em>lebih luas daripada\u00a0<em>parole<\/em>. Dengan kata lain\u00b8\u00a0<em>langue\u00a0<\/em>menjadi kunci otonom untuk memahami arti dari\u00a0<em>parole<\/em>\u00a0sebagai \u201ckode tersembunyi\u201d yang muncul dalam masyarakat. Kode tersembunyi itulah yang disebut sebagai struktur. Akan tetapi, Giddens melihat adanya gejala penyingkiran subjek dalam menganalisis secara strukturalisme. Menurut Giddens, subjek berperan penting dalam pembentukan struktur sosial yang berkembang di masyarakat.<\/p>\n<p><strong><em>3. Dualitas dalam Strukturasi<\/em><\/strong><br \/>\nBerdasarkan kritikan terhadap beberapa teori sosiologi, setidaknya Giddens menemukan dua tema sentral pemikirannya, yaitu hubungan antara struktur dan pelaku, serta sentralitas ruang dan waktu. Berikut ini akan dijelaskan dua tema pemikiran Giddens mengenai konsep dualitas dalam sosiologi.\u00a0<em>Pertama<\/em>, hubungan antara struktur dan pelaku. Giddens mendefinisikan pelaku sebagai manusia-manusia konkret dalam arus berkelanjutan dalam tindakan dan peristiwa yang terjadi di dunia. Sementara itu, struktur diartikan sebagai suatu seperangkat aturan dan sumber daya yang membentuk perulangan praktik sosial. Berdasarkan hubungan kedua unsur tersebut, Giddens kemudian merumuskan suatu teori yang kemudian dikenal sebagai\u00a0<strong>teori strukturasi<\/strong>. Adapun pembahasan teori strukturasi akan dibahas pada bagian selanjutnya.\u00a0<em>Kedua<\/em>, sentralitas ruang dan waktu. Konsep waktu dan ruang menurut Giddens diartikan sebagai suatu unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat. Mengingat pentingnya kedua unsur tersebut, maka unsur ruang dan waktu diperlukan sebagai bentuk integrasi di dalam teori ilmu-ilmu sosial manapun.<\/p>\n","content_text":"Sebelum Giddens memaparkan pemikirannya tentang masyarakat, ia terlebih dahulu mengkritik sejumlah teori sosiologi yang cukup populer pada saat itu. Adapun teori-teori yang ia kritik meliputi teori berikut.\n1. Kritik terhadap Teori Fungsional Talcott Parsons\nMenurut Parsons, setiap masyarakat harus mempunyai empat prasyarat fungsional agar masyarakat tersebut dapat menjalankan peran sosialnya di masyarakat. Adapun keempat konsep fungsional di masyarakat menurut Parsons dikenal dengan istilah \u201cAGIL\u201d. Huruf \u201cA\u201d mewakili \u201cadaptation\u201d (proses adaptasi). Huruf \u201cG\u201d mewakili konsep \u201cgoal attainment\u201d (tujuan yang hendak dicapai). Huruf \u201cI\u201d mewakili konsep \u201cintegration\u201d (proses integrasi masyarakat). Sedangkan huruf \u201cL\u201d mewakili konsep \u201clatent\u201d (fungsi laten\/tersembunyi). Akan tetapi, Giddens dengan tegas menolak segala konsep yang berkaitan dengan fungsional masyarakat. Setidaknya, terdapat tiga hal yang membuat konsep fungsional tidak tepat menggambarkan kondisi masyarakat menurut Giddens.\u00a0Pertama, fungsionalisme mengibaratkan manusia seperti sebuah \u201crobot\u201d yang jalan hidupnya sudah ditentukan sedemkian rupa. Padahal, segala tindakan manusia juga ditentukan dari internal manusia tersebut.\u00a0Kedua, fungsionalisme merupakan suatu konsep cara berpikir yang menyatakan bahwa sistem sosial mempunyai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Padahal menurut Giddens, yang mempunyai kebutuhan adalah para pelaku (individu).\u00a0Ketiga, fungsionalisme tidak memperhatikan dimensi waktu dan ruang dalam menganalisis gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Padahal, waktu dan ruang merupakan satu-kesatuan yang juga memengaruhi gejala sosial yang ada.\n2. Kritik terhadap Teori Strukturalisme\nKonsep kunci yang hendak dikembangkan dalam teori strukturalisme yaitu adanya perbedaan istilah antara \u201cbahasa (langue)\u201d dan \u201cujaran\/percakapan (parole)\u201d. Istilah\u00a0langue\u00a0lebih luas daripada\u00a0parole. Dengan kata lain\u00b8\u00a0langue\u00a0menjadi kunci otonom untuk memahami arti dari\u00a0parole\u00a0sebagai \u201ckode tersembunyi\u201d yang muncul dalam masyarakat. Kode tersembunyi itulah yang disebut sebagai struktur. Akan tetapi, Giddens melihat adanya gejala penyingkiran subjek dalam menganalisis secara strukturalisme. Menurut Giddens, subjek berperan penting dalam pembentukan struktur sosial yang berkembang di masyarakat.\n3. Dualitas dalam Strukturasi\nBerdasarkan kritikan terhadap beberapa teori sosiologi, setidaknya Giddens menemukan dua tema sentral pemikirannya, yaitu hubungan antara struktur dan pelaku, serta sentralitas ruang dan waktu. Berikut ini akan dijelaskan dua tema pemikiran Giddens mengenai konsep dualitas dalam sosiologi.\u00a0Pertama, hubungan antara struktur dan pelaku. Giddens mendefinisikan pelaku sebagai manusia-manusia konkret dalam arus berkelanjutan dalam tindakan dan peristiwa yang terjadi di dunia. Sementara itu, struktur diartikan sebagai suatu seperangkat aturan dan sumber daya yang membentuk perulangan praktik sosial. Berdasarkan hubungan kedua unsur tersebut, Giddens kemudian merumuskan suatu teori yang kemudian dikenal sebagai\u00a0teori strukturasi. Adapun pembahasan teori strukturasi akan dibahas pada bagian selanjutnya.\u00a0Kedua, sentralitas ruang dan waktu. Konsep waktu dan ruang menurut Giddens diartikan sebagai suatu unsur konstitutif tindakan dan pengorganisasian masyarakat. Mengingat pentingnya kedua unsur tersebut, maka unsur ruang dan waktu diperlukan sebagai bentuk integrasi di dalam teori ilmu-ilmu sosial manapun.","date_published":"2023-04-11T20:46:15+07:00","date_modified":"2023-04-09T20:49:18+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/1845962.jpg","tags":["Anthony Giddens","Informasi"]},{"id":"https:\/\/sosiopedia.com\/anthony-giddens\/","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/anthony-giddens\/","title":"Anthony Giddens","content_html":"<h4>Biografi Anthony Giddens<\/h4>\n<p>Anthony Giddens lahir di Edmonton, London utara pada tahun 1938. Gidden menempuh pendidikannya di Hull University, London School of Economics, dan London University. Ia menjadi dosen di Leicester University pada tahun 1961. Kemudian, ia pindah menjadi dosen sosiologi di Cambridge University pada tahun 1969. Pada tahun 1985, Giddens menjadi seorang profesor di universitas yang sama. Pada tahun 1997, ia menjadi direktur London School of Economics, tempat ia belajar dulu.Ketika belajar di London School of Economics, ia mengambil tesis tentang masalah sosiologi olah raga. Di tempat pendidikannya itu dia telah menjadi direkturnya. Di Universitas Manchester tempat awalnya mengajar ia bertemu dengan Nobert Elias dengan karya-karya yang sangat mempengaruhi sebagai pengajar di King College of Cambridge dan Universitas California (Santa Barbara).<\/p>\n<h4>Karir Akademisi Anthony Giddens<\/h4>\n<p>Giddens juga menjadi anggota kehormatan pada King College dan Profesor Sosiologi pada universitas Cambridge. Sepanjang dua dasawarsa silam ia telah menerbitkan lebih dari dua puluh buku dan meneguhkan dirinya sendiri sebagai pemikir terkemuka. Tulisan-tulisan Giddens mengkombinasikan pemahaman (keterangan) yang seksama atas karya-karya klasik dengan kepekaan terhadap isu-isu teori sosial kontemporer terpenting. Ia menempatkan kedua arah perhatian tersebut bersama-sama dalam arahan suatu proyek yang mempersatukannya. Proyek ini mencakup identifikasi dan kritik-kritik terhadap kelemahan pemikiran tradisional serta pengembangan cara menteorikan isu-isu yang masih kabur atau dilalaikan dalam kerangka menjabarkan realitas sosial sehingga bisa dipahami dengan menggunakan pendekatan yang tidak monolitik.<\/p>\n<p>Audien Internasionalnya terus bertambah (bukunya telah diterjemah kedalam dua puluh dua bahasa). Mungkin di Prancis kurang begitu dikenal. Dari dua puluh karyanya baru dua diantaranya diterjemah ke dalam bahasa Prancis. Pada tataran pemikiran, proyeknya ternyata melewati posisi tradisional antara sosiologi determinis dan sosiologi individualis. Pada tataran politik, ia dianggap sebagai teoretisi dan pusat radikalisme (radical center) yang menolak aliran tradisional kiri dan kanan yaitu liberalisme ala Thatcher dan referensi lama sosialisme dari partai buruh.<\/p>\n<p>Anthony Giddens adalah direktur London School Of Economics (LSE). Dia adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karya-karya tulisannya sendiri ataupun editingnya telah lebih dari 30 judul dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Kiprah intelektual Anthony Giddens sangat mengagumkan ia telah menumbuhkan minat dari banyak kalangan untuk menelaah lebih jauh segala dimensi pemikirannya, di antara terdapat empat jilid buku yang ditulis secara khusus untuk membahas pemikiranya.<br \/>\nDi antara buku yang relatif baru dan segar ialah The Consequences Of Modernity (1989), Modernity and Self Identity (1991), The Tranformation Intimacy (1992), Beyond Left and Right (1994), Defence of Sociology ( 1996 ), The Third Way (1998), dan Runaway World (1999).<\/p>\n<p>Buku Third Way bisa diposisikan sebagai buku cerdas yang paling menyedot perhatian banyak kalangan, dari kelompok akademis hingga politisi internasional. Di antara mereka adalah Tony Blair (PM Inggeris) dan Gerhard Schoeder (Kanselir Jerman) yang mempraktekkan pemikiran-pemikiran genius Anthony Giddens dalam kebijakan politik mereka.<br \/>\nBuku Beyond Left and Right, merupakan salah satu pilar penting yang telah mengantarkan Anthony Giddens berlabuh ke dermaga konseptual yang terkandung dalam the third way tersebut. Dengan kata lain pemikiran Anthony Giddens tentang the third way tidak bisa dilepaskan dari genealogi historis yang merekam semua gejolak paradigmatik dalam buku Beyond left And Right.<\/p>\n","content_text":"Biografi Anthony Giddens\nAnthony Giddens lahir di Edmonton, London utara pada tahun 1938. Gidden menempuh pendidikannya di Hull University, London School of Economics, dan London University. Ia menjadi dosen di Leicester University pada tahun 1961. Kemudian, ia pindah menjadi dosen sosiologi di Cambridge University pada tahun 1969. Pada tahun 1985, Giddens menjadi seorang profesor di universitas yang sama. Pada tahun 1997, ia menjadi direktur London School of Economics, tempat ia belajar dulu.Ketika belajar di London School of Economics, ia mengambil tesis tentang masalah sosiologi olah raga. Di tempat pendidikannya itu dia telah menjadi direkturnya. Di Universitas Manchester tempat awalnya mengajar ia bertemu dengan Nobert Elias dengan karya-karya yang sangat mempengaruhi sebagai pengajar di King College of Cambridge dan Universitas California (Santa Barbara).\nKarir Akademisi Anthony Giddens\nGiddens juga menjadi anggota kehormatan pada King College dan Profesor Sosiologi pada universitas Cambridge. Sepanjang dua dasawarsa silam ia telah menerbitkan lebih dari dua puluh buku dan meneguhkan dirinya sendiri sebagai pemikir terkemuka. Tulisan-tulisan Giddens mengkombinasikan pemahaman (keterangan) yang seksama atas karya-karya klasik dengan kepekaan terhadap isu-isu teori sosial kontemporer terpenting. Ia menempatkan kedua arah perhatian tersebut bersama-sama dalam arahan suatu proyek yang mempersatukannya. Proyek ini mencakup identifikasi dan kritik-kritik terhadap kelemahan pemikiran tradisional serta pengembangan cara menteorikan isu-isu yang masih kabur atau dilalaikan dalam kerangka menjabarkan realitas sosial sehingga bisa dipahami dengan menggunakan pendekatan yang tidak monolitik.\nAudien Internasionalnya terus bertambah (bukunya telah diterjemah kedalam dua puluh dua bahasa). Mungkin di Prancis kurang begitu dikenal. Dari dua puluh karyanya baru dua diantaranya diterjemah ke dalam bahasa Prancis. Pada tataran pemikiran, proyeknya ternyata melewati posisi tradisional antara sosiologi determinis dan sosiologi individualis. Pada tataran politik, ia dianggap sebagai teoretisi dan pusat radikalisme (radical center) yang menolak aliran tradisional kiri dan kanan yaitu liberalisme ala Thatcher dan referensi lama sosialisme dari partai buruh.\nAnthony Giddens adalah direktur London School Of Economics (LSE). Dia adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karya-karya tulisannya sendiri ataupun editingnya telah lebih dari 30 judul dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Kiprah intelektual Anthony Giddens sangat mengagumkan ia telah menumbuhkan minat dari banyak kalangan untuk menelaah lebih jauh segala dimensi pemikirannya, di antara terdapat empat jilid buku yang ditulis secara khusus untuk membahas pemikiranya.\nDi antara buku yang relatif baru dan segar ialah The Consequences Of Modernity (1989), Modernity and Self Identity (1991), The Tranformation Intimacy (1992), Beyond Left and Right (1994), Defence of Sociology ( 1996 ), The Third Way (1998), dan Runaway World (1999).\nBuku Third Way bisa diposisikan sebagai buku cerdas yang paling menyedot perhatian banyak kalangan, dari kelompok akademis hingga politisi internasional. Di antara mereka adalah Tony Blair (PM Inggeris) dan Gerhard Schoeder (Kanselir Jerman) yang mempraktekkan pemikiran-pemikiran genius Anthony Giddens dalam kebijakan politik mereka.\nBuku Beyond Left and Right, merupakan salah satu pilar penting yang telah mengantarkan Anthony Giddens berlabuh ke dermaga konseptual yang terkandung dalam the third way tersebut. Dengan kata lain pemikiran Anthony Giddens tentang the third way tidak bisa dilepaskan dari genealogi historis yang merekam semua gejolak paradigmatik dalam buku Beyond left And Right.","date_published":"2023-04-10T11:22:28+07:00","date_modified":"2023-04-09T17:28:05+07:00","author":{"name":"warjito makruf","url":"https:\/\/sosiopedia.com\/author\/warjito\/","avatar":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/profil-warjito-makruf-512x512.jpg"},"image":"https:\/\/cdn.shortpixel.ai\/spai\/q_lossy+ret_img\/https:\/\/sosiopedia.com\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Anthony-Giddens-sosiopedia.jpg","tags":["Anthony Giddens","Tokoh"]}]}