Sosiologi Agama : Manusia dan Agama

Sosiologi Agama : Manusia dan Agama

Sosiologi Agama : Manusia dan Agama – Menurut Aristoteles (384-322 SM) manusia adalah Zoon Politicon. Zoon Politicon merupakan padanan kata dari kata Zoon yang berarti “hewan” dan kata politicon yang berarti “bermasyarakat”. Secara harfiah Zoon Politicon berarti hewan yang bermasyarakat.

Manusia membutuhkan manusia lain dan tidak bisa hidup sendirian. Kebutuhan akan interaksi, komunikasi dan ketergantungan terhadap segala hal yang tidak bisa dikerjakan oleh manusia lain membuat antar manusia berkolaborasi dan berkelompok satu sam lainnya untuk bertahan hidup. Sehingga kelompok tersebut disebut dengan masyarakat.

Al Farabi (872-950 M) mengatakan bahwa manusia memiliki dua unsur yakni jiwa dan jasad yang keduaanya memiliki kedudukan yang berbeda, menurutnya jiwalah yang memiliki perannan yang paling dominan karna menurutnya matinya jasad tidak berpengaruh terhadap jiwa. Sehingga, manusia membutuhkan agama dengan tujuan untuk menenangkan sekaligus sebagai makanan jiwa (ruh).

1. Tipologi Masyarakat Agama

Menurut Syaiful Hamali (2017), terdapat setidaknya tiga tipologi masyarakat agama yaitu:

  • Tipologi Masyarakat yang Terbelakang dan Nilai-Nilai Sakral.

Nilai-nilai agama seringkali meningkatkan sikap konservatisme dalam menghalangi perubahan kehidupan sosial masyarakat seolah-olah agama menghambat kemajuan. Dalam tipe ini kedudukan agama sangat kuat sekali, segala sesuatu mereka ukur dengan aturan-aturan dan ketentuan agama.

Ciri (konserfatif,  terbelakang, sistem nilai mutlak,  rasa kekeluargaan tinggi)

  • Tipe Masyarakat Pra Industri sedang berkembang

Agama mempunyai fungsi ganda, disatu sisi berfungsi sebagai pemersatu, dan di sisi lain agama sebagaipemecah belah, Kondisi masyarakat tipe ini disebabkan: (1) Perangkat organisasi keagamaan dan struktur kekuatan politik bisa menimbulkan bentrok politik keagamaan dalam masyarakat. (2) timbulnya benturan-benturan yang meruncing antara kepentingan organisasi keagamaan dan organisasi politik. Ciri (berkembang, tingkat teknologi berkembang, timbul strata sosial, terbuka pada perubahan, spesialisasi keahlian)

  • Tipe Masyarakat-Masyarakat Industri Sekuler

Semakin terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan pada penalaran, dan effesiensi dalam menanggapi berbagai masalah, akibatnya kehidupan keagamaan mendapat tantangan, karena lingkungan yang sekuler semakin melemahkan hal-hal yang berbentuk keagmaan atau nilai-nilai sakral. Ciri (toleran, individualistik, peradaban dan teknologi maju, humanistik)

 

2. Alasan Manusia Beragama

Kebanyakan ahli studi keagamaan sepakat bahwa agama sebagai sumber nilai, sumber etika, dan pandangan hidup yang dapat diperankan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. (Abuddin Nata , 2010). Adapun alasan manusia beragama antara lain:

  • Fitrah manusia. Sifat bawaan manusia yang menginginkan kebenaran yang hakiki (agama).
  • Kemampuan manusia terbatas. Manusia membutuhkan sosok yang lebih tinggi dan agung dari dirinya sehingga manusia membutuhkan Tuhan (agama), karena kemampuan manusia yang terbatas.

Sosiologi Agama : Manusia dan Agama

3. Fungsi Agama

Agama merupakan bentuk keyakinan kepada Tuhan sebagai upaya manusia dalam mengimplentasikan ketidakmampuannya dalam berbagai hal. Keyakinan akan agama berimplikasi pada nilai dan sistem sosial yang berlaku pada masyarakat. Maka agama mempunyai beberapa fungsi dalam masyarakat yakni:

  • Berfungsi Edukatif. Ajaran agama yang mengarahkan bimbingan agar pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama masing-masing.
  • Berfungsi Penyelamat. Keselamatan yang diberikan agama adalah keselamatan yang meliputi dua alam, yakni dunia dan akhirat.
  • Berfungsi Sebagai Pendamaian. Melalui agama seseorang yang berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntunan agama.
  • Berfungsi Sebagai Kontrol Sosial. Ajaran agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawas sosial secara individu maupun kelompok.
  • Pemupuk Solidaritas. Para penganut agama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam satu kesatuan iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini akan membina rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan,
  • Berfungsi Transformatif. Ajaran agama dapat mengubah kehidupan kepribadian seseorang
    atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. kadangkala mampu mengubah kesetiaan kepada adat atau norma kehidupan yang dianutnya sebelum itu.
  • Berfungsi Kreatif. Penganut agama tidak hanya disuruh bekerja secara rutin, akan tetapi juga dituntut melakukan inovasi dan penemuan baru
  • Berfungsi Sublimatif. Segala usaha manusia selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama, dilakukan secara tulus ikhlas karena dan untuk Allah adalah ibadah. (Jalaluddin : 2002)

 

Source :

  • Jalaluddin. 2002. Psikologi Agama Edisi Revisi. Jakarta: Raja Grafindo. Persada
  • Abuddin Nata2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media. Group.
  • Syaiful Hamali. 2017. Agama Dalam Perspektif Sosiologis. Al-Adyan Volume 12, Nomor 2, Juli – Desember, 2017.